Mitos Vaksin COVID-19 Mengandung Zat Berbahaya, Ini Kata Pakar

Abu Ubaidillah - INSERTLIVE
Kamis, 19 Nov 2020 21:45 WIB
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.
Jakarta, Insertlive -

Saat ini uji klinik vaksin sinovac telah memasuki fase III setelah selesai melakukan penyuntikan kepada semua sukarelawan yang dikerjakan di center Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof. Hindra Irawan Satari.

Ia menjelaskan semua fase uji klinik vaksin COVID-19 memiliki syarat yang harus dilakukan. Semua syarat harus terpenuhi baru boleh melanjutkan ke fase berikutnya. Sehingga ia tak setuju bila ada mitos yang beredar menemukan vaksin mengandung zat berbahaya.

"Di masyarakat beredar mitos yang mengatakan vaksin mengandung zat berbahaya. Hal ini tidak benar, karena tentu saja kandungan vaksin sudah diuji sejak pra klinik," kata Prof. Hindra seperti dilansir dari situs covid19.go.id, Kamis (19/11/2020).


Menurutnya vaksin tidak berbahaya, namun ia menjelaskan vaksin adalah produk biologis yang mungkin bisa menyebabkan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan yang merupakan reaksi ilmiah vaksin. Bila ditemukan KIPI, semua masyarakat bisa melaporkannya melalui situs www.keamananvaksin.kemkes.go.id.

Prof. Hindra juga mengatakan saat ini masyarakat dihadapkan pula dengan informasi keliru yang tidak disikapi dengan bijak. Menurutnya musuh saat ini hanya satu, yakni virus. Virus adalah musuh bersama dan untuk melawannya harus bekerja sama supaya upaya tersebut menjadi efektif dan tidak mementingkan diri sendiri.

"Cobalah bijak bersosial media dengan memilah-milah mana yang bisa dibagikan dan dipertanggungjawabkan, mana yang harusnya kita hapus. Jangan sampai meresahkan masyarakat, kalau kita bersatu Insyaallah dalam waktu yang tidak terlalu lama pandemi COVID-19 ini bisa kita taklukan," sambungnya.

"Perkembangan vaksin COVID-19 sudah masuk uji fase III, tinggal menunggu laporan dari Brazil, China, Turki, dan Indonesia. Setelah laporan selesai barulah keluar izin edarnya. Jadi untuk mendeteksi dan mengkaji apakah ada kaitannya imunisasi dengan KIPI ada ilmunya, yang disebut Farmakovigilans. Tujuannya untuk meningkatkan keamanan, meyakinkan masyarakat, sehingga memberikan pelayanan yang aman bagi pasien dan memberikan informasi terpercaya," paparnya.

Maka dari itu, yuk tetaplah hati-hati dalam memilih informasi. Jangan lupa pula menerapkan 3M seperti kampanye #IngatPesanIbu untuk memberantas penyebaran virus Corona dengan cara memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan benar.

[Gambas:Video Insertlive]



(dis/dis)
FOTO TERKAIT
KOMENTAR
ARTIKEL TERKAIT
detikNetwork
BACA JUGA
VIDEO
TERKAIT
POPULER