Kolom

New Abnormal Penonton Bayaran

kmb - INSERTLIVE
Jumat, 05 Jun 2020 14:30 WIB
Esai Komario Bahar
Jakarta, Insertlive -

Semua pekerjaan dan perusahaan terdampak virus resek yang belum juga pergi dari muka bumi. 90 persen dampak buruk, tapi nggak dipungkiri sisanya ada yang justru mendulang untung karena wabah, kalian harus akui beberapa bisnis justru memetik cuan di masa sekarang. Terutama bisnis di penyediaan alat medis yang ditimbun di awal-awal masa sekarang.

Ketika kalian prihatin kepada ojol dan para pekerja jalanan lainnya, apakah kalian sempat terbesit bagaimana nasib penonton bayaran di waktu-waktu sulit karena covid-19?

Di sela-sela kompleksitas dan problematika yang lahir di masa-masa ini, komedian absurd muncul dari kursi penonton bayaran. Dialah Dustin Tiffany alias Dustin Zero Logic. Dustin bukanlah penonton bayaran betulan karena sesungguhnya dia memang sudah sering wara-wiri di channel YouTube Majelis Lucu Indonesia.


Tapi kemunculannya di acara Malam-Malam yang berlanjut menjadi pemandu kuis tebak gambar memang berangkat dari bench penonton di acara tersebut.

kolom lainnnya:

Dustin bentuk fenomena baru di skena lawak. Cowok bergigi gompal dengan pekerjaan freelance sebagai desainer usaha percetakan itu memberi rasa baru di kancah televisi dan YouTube. Bicaranya yang cepat dan tak dipikir matang-matang bisa bikin kalian tertawa sembari keheranan dengan apa yang barusan kalian cerna dari tutur-tutur tak teratur.

Logika Dustin berbeda. Sematan kata Zero Logic dipopulerkan Tretan Muslim membantu penonton sedikit bisa memahami gaya personanya kala cuap-cuap di depan kamera. Diksi dan frasanya ngawur. Tapi ada kesan alami karena nggak dibikin-bikin dan sok elit macam Vicky Prasetyo.

Ada hal jujur yang diucapkan Dustin Tiffany. Dalam salah satu channel YouTube, Dustin pernah ditanya apa kesedihannya yang terdalam selama hidup. Jawabannya memang agak di luar nalar.

"Saya pernah beli gorengan ubi, tapi nggak pake cabe. Terus ibu saya marah, kok nggak pake cabe. Lah ubi kan (gorengan) manis ya, ya masa pake cabe kan? Di situ saya sedih," ucapnya terbata-bata.

Si pewawancara masih tertegun mendengar hal tersebut. Dia kemudian bertanya balik, "Itu kesedihan terdalam Dustin?"

Hanya jawaban 'iya' yang keluar dari mulut si pemandu kuis tebak gambar di program Malam-Malam tersebut. Beberapa bulan kemudian, Dustin digemari oleh kawula muda di internet. Banyak yang terhibur dengan lawakannya yang 'surealis'. Karena hal itu, Dustin kini mendapat gelar kehormatan: Lord Dustin. Setara Sir yang diberikan secara istimewa ke pelatih-pelatih tim sepakbola hebat meski bukan dari Inggris tulen.

Mereka merasa halal buang-buang waktu menyaksikan Dustin Zero Logic di platform YouTube, Spotify atau pun TV.

Beberapa podcast pesohor terkenal mulai antre mengundangnya (mumpung honornya masih murah). Padahal jelas-jelas, ucapan-ucapan Dustin kadang bikin sakit kepala.

kolom lainnya:

Dustin dan penonton bertarif. Ada hubungan tipis dari kemunculan Dustin dengan penonton bayaran yang harus menghadapi new abnormal saat ini.

Dustin bikin melek dari bench penonton bayaran di program yang dipandu Surya Insomnia, Tora Sudiro dan Dita Fakhrana. Komedian macam ini mengingatkan saya pada sosok mendiang Budi Anduk. Almarhum adalah pelawak yang besar dari kursi penonton sketsa Ngelaba yang dikomandoi Trio Patrio: Parto, Eko dan Akrie.

Ia kemudian jadi kru grup lawak tersebut sampai pada akhirnya sukses bersolo karier hingga ajal menjemput. Masih dari grup Patrio, Yadi Sembako juga menekuni pola yang sama. Yadi dulunya cuma pesuruh di Ngelaba sampai-sampai jadi penonton yang doyan nyeletuk kala grup itu beraksi di sketsa yang besar di TPI.

Di sektor milenial, penonton bayaran berubah nasib juga dialami Sensen. Dia kini adalah asisten Raffi Ahmad. Kebetulan karena saya di era 2009 pernah saban hari mengawali liputan ke DahSyat RCTI, mata saya cukup akrab dengan Sensen yang suka menari-nari centil di sudut 'tribun' stasiun televisi di Kebon Jeruk. Dia adalah penonton bayaran yang selalu menjadi penghias acara musik yang isinya sebenarnya lebih banyak bermuatan ngebanyol.

Di sana ada Raffi Ahmad yang memang menjadi host tetapnya. Berawal berkenalan di situ, Raffi dan Sensen jadi dekat dan puncaknya sang pesohor menjadikannya pegawai pribadi.

Asal tahu saja, penggelut profesi penonton bayaran baru bisa sedikit bernapas belakangan ini setelah new normal diberlakukan. Acara televisi mulai mengundang lagi penonton-penonton tim hore yang memang diakui menjadi unsur penting dalam sebuah acara TV.

Saat 2020 memasuki pertengahan Maret di mana grafik pasien positif corona mulai menggila di Indonesia, penonton bayaran sesak napas. TV-TV tak mengundang mereka karena menghindari kerumunan massa. Padahal TV-TV sendiri tetap menggenjot paksa roda ekonomi dengan acara yang harus tetap diisi narasumber dan bintang-bintang layar kaca.

Normal baru di industri itu adalah menghadapi tuntutan menghadirkan tontonan yang segar, tanpa penonton. Bukan cuma masker, host dan narsum memakai face shield untuk kebutuhan proteksi diri sekaligus edukasi penonton.

Saya sempat ngobrol-ngobrol bareng teman wanita yang memang bekerja sebagai koordinator penonton bayaran di Trans TV. Kebetulan karena sering jumpa, saya sekalian minta izin hasil ngobrol-ngobrol untuk pembuatan esai suatu saat.

Namanya Irene. Dia biasa mengurus penonton acara program talkshow siang-siang yang diisi artis terdiri dari pedangdut, komedian, desainer dan host tulen. Tebakan kalian nggak salah kalau menyebut nama salah satu kue kering.

Di program Brownis, Irene bertugas mengatur arus penonton bayaran. Sudah jadi pekerjaannya menghubungi koordinator bayaran untuk keperluan acara-acara di Trans TV. Nyatanya, pandemik tetap bikin mereka yang biasa memeriahkan program TV jadi menjerit.

Jika Anda berpikir penonton bayaran cuma dibayar sekitar Rp50 ribu plus nasi kotak, itu sebetulnya nggak salah. Tapi Anda sepertinya belum tahu, penonton bayaran pun punya kelas-kelasnya sendiri.

Saat ngopi sore bareng, Irene mengatakan, penonton kelas model yang punya tampang lumayan cakep justru punya rate cukup mengagetkan.

"Mereka yang tampang model-model bisa dibayar Rp500 ribu paling top, tergantung kelasnya, jadi nggak semua sama," terangnya kembali menyeruput green tea latte.

Penonton bayaran adalah profesi unik. Dari sana, banyak yang besar lalu berkarier di layar kaca meski cuma jadi bahan rundungan receh bintang-bintang lainnya, tapi juga yang bisa menafkahi keluarga sampai beli rumah karena naik kelas dari umat-umat tim hore jadi koordinatornya.

Memaklumi penonton bayaran berteriak saat covid-19 menghantam. Pemasukan jelas tak ada. Ditambah mereka sudah menasbihkan pekerjaannya sebagai profesi job tulen walau sebenarnya kategori itu tak bisa masuk jenis pekerjaan di KTP. Mereka terpaksa banyak banting setir agar dapur tetap ngebul sembari berharap situasi benar-benar normal tanpa embel-embel 'new' di depannya.

Atau kalau mereka beruntung dan ulet --ditambah faktor X, penentu paling sulit untuk urusan takdir--, mereka bisa melanjutkan pola istimewa yang ditempuh Budi Anduk, Yadi Sembako, Ely Sugigi, Sensen, atau Dustin Tiffany si Zero Logic. 

Komario Bahar 

Redaktur Pelaksana Insertlive

(kmb/kmb)
FOTO TERKAIT
KOMENTAR
ARTIKEL TERKAIT
detikNetwork
BACA JUGA
VIDEO
TERKAIT
POPULER