Kolom

Aplikasi Malaikat Online Adalah Bentuk Insecure Akidah

KMB | Insertlive
Selasa, 12 May 2020 18:44 WIB
Kolom Komario Bahar
Jakarta, Insertlive -

5.000-an orang langsung mengunduh aplikasi Raqib Atid. Entah Ramadhan's effect, atau memang kita terlalu suka yang apa-apa didigitalisasi. Yang jelas aplikasi ini memang laris-manis begitu dipasarkan di Google Play Store.

Pengembangnya adalah Mahmud Fauzi. Kita percaya niatnya baik. Karena tujuannya mengingatkan orang untuk berbuat baik.

Dalam Islam, dua malaikat itu bertugas mencatat kebaikan dan keburukan manusia semasa hidup. Dan aplikasi yang seolah bikin dua malaikat jadi digital akan memantau amal baik dan amal buruk dengan catatan dan grafik di ponsel kalian.

"Apps yang dapat membantu Anda menjadi pribadi yang lebih baik, dengan merecord kesalahan dan kebaikan Anda setiap hari dan memberi Anda ringkasan dan grafik serta kebaikan Anda setiap hari," bunyi deskripsinya di Google Play Store.

Sampai sini Anda tertarik? Oh kalau ketinggalan berita mohon maaf... saya beri tahu bahwa aplikasi itu sudah benar-benar hilang dari peredaran. Tapi tak menutup kemungkinan nanti muncul lagi. Jika kamu salah satu pengunduh aplikasi ini, sekali lagi itu adalah hak. Tapi rasa-rasanya, pengunduh apps ini kayak insecure sama akidahnya sendiri.

Saya juga jauh dari alim. Menegakkan salat lima waktu saja susahnya setengah mati. Satu-satunya yang bisa saya 'sombongkan' tapi cenderung konyol adalah saya mampu puasa tanpa sahur --dengan catatan harus makan malam-- satu bulan penuh selama Ramadhan. Selain itu saya nggak punya apa-apa lagi. Sebab puasa tanpa salat dengan tertib sama saja bohong.

kolom lainnya:

aplikasi 'Raqib Atid' memiliki ide yang terbilang unik. Melalui aplikasi ini, orang bisa memantau perbuatan amal baik dan amal buruknya dengan membuat catatan sendiri.aplikasi 'Raqib Atid' memiliki ide yang terbilang unik. Melalui aplikasi ini, orang bisa memantau perbuatan amal baik dan amal buruknya dengan membuat catatan sendiri./ Foto: App Raqib Atid



Iman saya kerap kendur karena kemalasan. Kecuali salat Jumat yang pantang absen, saya masih harus tahu diri terus usaha memperbaiki kewajiban saya sebagai pemeluk Islam. 

Lima waktu yang fardu ain harus dilaksanakan. Tuhan nggak tawar-menawar soal ini. Soalnya Allah sudah murah hati mau kompromi sama Muhammad SAW kala diangkat naik ke langit tujuh.

Well, kalau masih samar-samar, saya ceritain lagi sedikit gimana Muhammad dimandatkan Allah jumlah ibadah umatnya dalam sehari. Awalnya Rasul menerima perintah Allah salat 50 waktu dalam satu hari. Tapi Musa AS mengingatkan Muhammad, manusia takkan mampu sembahyang dan sujud 50 waktu sehari.

"Mintalah keringanan," seru Musa ke Muhammad.

Setelah dua kali menawar, lima waktu disepakati. Tapi Musa masih bersikeras bahwa itu tetap berat untuk manusia.

Di sini Muhammad mengambil keputusan. "Aku sudah meminta keringanan kepada Tuhanku, sampai aku malu. Kini aku sudah ridha dan pasrah," lugasnya.

Setiap kali mendengar ulang hal itu, saya juga malu. Bahkan saat masa-masa 'tergelap', saya pernah berkelakar bareng teman-teman dulu. Bodohnya dengan bangga.

"Eh wartawan itu pekerjaan yang bikin kafir bro. Kita terlalu sering nungguin narsum yang suka seenak jidat. Belum nulis nggak kenal jam, selama masih ada bahan gas terus. Ada yang tewas siap meluncur sebelum diinfus. Mana bisa salat yang bener, Tuhan maklum kali ah."

kolom lainnya:



Tentu klaim Tuhan bisa maklum atau menganggap jurnalis yang wara-wiri adalah 'musafir abadi' selama masih di jalanan adalah keblinger. Tapi dableknya saya sempat setuju.

Ketimbang pakai aplikasi pencatat amal buruk dan baik, saya punya alat pengingat lebih ampuh bin rewel di rumah. Bahkan perlu saya akui, saya yang masih jauh dari kata ideal sebagai muslim merasa kualitas ibadah naik (nggak seberapa sih) seiring WFH karena 'alat' saya punya bawelnya pakai rumus kuadrat belakangan. 

***

Tak masalah orang bilang aplikasi Raqib Atid memang bisa membantu orang selalu mengingatkan orang berbuat amal baik. Tapi yang sebenar-benarnya membantumu jadi baik atau buruk adalah diri kamu sendiri.

Aplikasi Raqib Atid seperti bentuk kalian selingkuh dari duo malaikat beneran yang tiap hari memantau kamu secara nyata.

Semua yang mengimani Al Quran, tentu meyakini keberadaan Raqib Atid. Maka baiknya tak perlu memakai tambahan bantuan yang seolah menggantikan peran dua malaikat di kiri-kanan badan sendiri.

Beda dengan aplikasi pengingat azan, itu jelas fungsinya saklek sebagai alarm. Apalagi ketika kamu dinas ke pelosok atau di luar negeri yang pemeluk Islamnya minoritas.

Soal opini menggunakan apps malaikat online menyelingkuhi malaikat tulen yang memang sudah eksis sejak diciptakan, saya punya analogi lain buat kalian.

Analoginya begini, kamu sudah lama dekat sama gebetan di medsos. Lalu kalian memutuskan kopdar setelah kamu pedekate maut di medsos berbulan-bulan. Bertemu dari pagi ternyata makin klop, lalu kamu merasa mantap tembak si dia saat dinner romantis malam harinya.

Sayangnya jawaban si dia antiklimaks, "Maaf, aku lebih nyaman sama kamu di dunia maya, kita pacaran by online aja ya, jangan ada status serius dulu."

Kamu mulai merajuk. Bertanya keheranan. Ternyata alasannya lebih ngehek dari kamu duga. "Kamu lebih manis di Instagram, suka ingetin aku makan di Facebook. Di Twitter aja kamu rajin bangunin aku sahur," ucap si dia memenggal kalimatnya.

Kamu masih tertegun mendengar 'derap-derap' tuturnya yang rapi. Si dia melanjutkannya dengan lempeng.

"Kan kalau jadi pacaran beneran, pasti kamu berubah, nantinya nggak care, boro-boro WhatsApp aku setiap jam kayak sebelum ketemu, ingetin makan aja pasti lama-lama lupa."

Kamu patah hati, ternyata dia nggak suka kamu yang nyata. Terus gimana perasaan malaikat Raqib Atid tahu kamu lebih percaya aplikasi pengganti tugasnya.

Kalian memang mau, Raqib Atid berbisik pelan di kuping kamu, "Eh kami yang beneran selalu ada di samping kamu lo."



Komario Bahar




Redaktur Pelaksana Insertlive


(kmb/kmb)
KOMENTAR
ARTIKEL TERKAIT
Loading
Loading
BACA JUGA
UPCOMING EVENTS Lebih lanjut
detikNetwork
VIDEO
TERKAIT
Loading
POPULER