Kolom

Harta, Takhta, Agama

KMB | Insertlive
Jumat, 08 May 2020 10:56 WIB
s
Jakarta, Insertlive -

Ternyata bukan chef Renatta. Apalagi Raisa dan Isyana yang sold out dua-duanya. Meski netizen +62 masih sering membawa chef Renatta menggantikan kedudukan wanita di belakang takhta sekarang ini, nyatanya tiga fitnah dan jerumus duniawi paling nyata itu mengalami modifikasi lagi.

Tetap menggangu di tingkat annoying, meski bukan cuma mengarah ke jerumus nafsu dunia. Publik Indonesia terlalu sering ribut-ribut dan superkepo masalah agama. Termasuk agama para pesohor.

Contoh nyata dan terbaru adalah warta terkait berpulangnya Didi Kempot. Banyak netizen ribet dan penasaran keyakinan Didi ketimbang penyakit sang pelantun 'Cidro'. Oh my Lord, memangnya kenapa saudara-saudara, situ nggak afdal kalau belum tahu agama pesohor yang baru meninggal?

Ini terjadi ketika jenazah Didi Kempot menjalani prosesi sakramen perminyakan dan sempat ditaruh di peti. Tapi kemudian ia dimakamkan secara Islam ketika tiba di Ngawi untuk bersanding dengan mendiang putra pertamanya.

Salah satu komentar dangkal datang dari akun @vinaope ke Instagram Insertlive berbunyi sebagai berikut, "Ga jelas nih insert siang td ksh kabar meninggal nya pke baju jas di peti putih, pas gue liat di stasiun tv lain didi kempot meninggal scara Islam ,, ah gmna nih ksh kbr gk jls."

Didi lahir di keluarga plural. Dengan nama tulen Dionisius Prasetyo, kalian harusnya tahu bahwa ia sebelumnya memang nasrani. Sejak 1997, Didi sudah memeluk Islam. Ini terjadi ketika legenda campursari itu menikah kedua kalinya.

Masalah sakramen perminyakan jenazah Didi, konon hal itu ada andil dari keluarga sebagaimana disampaikan Wali Kota Surakarta, FX Rudy secara internal. Juga benar Didi memang dipakaikan jas usai perminyakan tersebut.

Jenazah Didi keluar dari Rumah Sakit Kasih Ibu memang bukan pakai kurung batang, meski menggunakan peti, toh ada lapisan kain hijau bertuliskan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

kolom lainnya:



Kakak Didi yang sudah berpulang lebih dulu, pelawak Mamiek Prakoso juga ditaruh di peti kok sebelum dikebumikan secara Islam.

Soal keyakinan pesohor negeri ini nggak akan lepas dari sorotan lebay penikmat dunia hiburan. Ya menyangkut Lord Didi Kempot, bayangkan saja, keyword paling dicari sesuai data yang saya punya, 'agama didi kempot' (huruf kecil semua bukan karena typo, tapi sesuai dengan SEO Friendly) jauh merajai chart paling banyak dicari ketimbang 'penyebab meninggalnya didi'. Ya salam... Kalau nggak percaya, silakan tulis 'didi kempot' di Google.

 'Harta, Takhta, Agama'.Agama artis kerap bikin netter kepo lebay.



Bahkan pencarian 'agama didi kempot' jadi juara di mesin pencarian sudah ada ketika jenazah Didi Kempot masih berada di rumah sakit saat dinyatakan baru meninggal. Duh, mau salto rasanya. Padahal semua wartawan di Indonesia masih hyper hectic mengulik penyebab kematian maestro campursari ini lo.

Sekarang siapa pun pesohor yang mangkat, netizen penasaran agamanya bakal jadi pencarian nomor satu ketimbang sebab-musabab kematian. Bukti fresh lagi soal kekepoan level dewa netizen soal agama artis adalah Roy Kiyoshi yang baru terlibat psikotropika semalam. Di kolom pencarian, 'roy kiyoshi agama' masih lebih banyak diburu ketimbang 'roy kiyoshi narkoba' atau 'roy kiyoshi ditangkap'.

Mungkin karena efek banyak berita Roy Kiyoshi merayakan Waisak di tanggal merah kemarin. Tapi ini membuktikan keyakinan seseorang masih tetap lebih mengusik netter secara trengginas ketimbang isu lainnya.

Distopia netizen +62. Masalah SARA di Tanah Air ini sepertinya tetap selalu jadi gunjingan sampai hari kiamat. Agama adalah asasi. Salah satu elemen paling personal dalam hidup. Sebegitunya netter di sini merayakan gunjingan sebesar-besarnya terkait keyakinan seseorang.


***

Beberapa waktu lalu, medio Februari 2019, seorang kawan 'sepersusuan' detikcom dipersekusi saat liputan kegiatan munajat akbar jemaah 212. Saat itu situasi tetiba berubah mencekam dan wartawan detikcom serta dua orang VJ CNN mengambil gambar karena ada kerusuhan kecil yang berujung pahit buat mereka.

Bermula dari teriakan copet di tengah kerumunan jemaah yang sedang melakukan ibadah, spontanitas para jurnalis yang ada di sekitar tempat itu mengambil gambar peristiwa dengan berdesak-desakan. Tapi oknum jemaah di sana mengancam dan mendorong kawan-kawan agar tak mengambil gambar.

Satria, kawan kami diseret bagai maling ke dalam tenda. Dipukul dan diinterogasi sampai diteriaki 'Mana KTP, ente muslim bukan, kalau bukan Islam ngapain di sini, ini media ente yang suka beritain nggak bener ye!"

Sek sek, nggak salah Bung? sejak kapan orang Non-Islam nggak boleh liputan kegiatan ibadah orang Islam? Sejak kapan jurnalis pemeluk Islam dilarang liputan ke klenteng, vihara atau ibadah misa Natal? Rasanya kok ya mbok dangkal banget kata-kata demikian. Sudah lama redaksi pasti menugaskan wartawan muslim piket di hari Natal, dan wartawan non-Islam piket Lebaran.

Cerita itu langsung diceritakan Satria di balkon lantai 9 detikcom di gedung Trans TV, yang jadi mabes saya sebelum dipindahtugaskan. Saat itu kami baru kenal, karena Satria ini adalah jurnalis baru di keluarga besar detik. Kami sama-sama Islam, tapi merasa perundungan wartawan dengan embel-embel SARA tersebut sebagai ironi.

Contoh berbeda agama seolah bukan urusan pribadi yang paling asasi adalah warta mengenai penerimaan bantuan sembako warga terdampak Corona di Bangka Belitung April lalu. Kebetulan kami beritakan juga waktu itu.

kolom lainnya:



Sembako berujung SARA di sana viralnya bukan main. Sebab, Kepala Dinsos Babel, Aziz Harahad mencantumkan syarat penerima bantuan haruslah muslim. Silakan sumpah serapah, saya nggak halang-halangi. Terutama kamu-kamu yang melewatkan berita ini. Ujungnya si Aziz ini ditegur Gubernur Babel, Erzaldi Rosman.

Memang Aziz ini pikir, yang terkena dampak virus resek ini hanya pemeluk Islam apa ya? Sampai-sampai membuat syarat aneh-aneh bin cetek yang klimaksnya memunculkan intoleransi pribadi. Antitesis dari asas rasa kepedulian dari bantuan itu Mas bro!

Kalau kalian masih terjebak masalah agama orang lain dengan berlebihan, sungguh kalian adalah kaum-kaum yang disebut pakde Didi Kempot sadboys dan sadgirls sejati, sebab jadi 'sad' dalam artian sebenarnya.

Harta kerap menjadi duniawi yang dikejar nomor satu, takhta berikutnya. Dua-duanya rentan gunjingan. Sementara agama, bukan rentan lagi, bisa dibilang darurat situasinya kalau di Indonesia.

***

Alkisah, seorang teman dekat bertamu buat ngopi-ngopi ganteng jelang malam. Namanya Reza. Nggak punya darah Kroasia apalagi Uganda. Dia Padang totok dengan sertifikat warga +62 asli. Sudah jadi kebiasaannya juga menanyakan gosip terkini.

"Eh boy, Johny Indo jadi Islam apa Kristen? Kayaknya ribet banget dimakaminnya," celetuk Reza penasaran.

Saya jelaskan, sebagian keluarga Johny Indo memang mengklaim sang artis dan eks napi ini sudah kembali ke Kristen meski kisahnya bertobat dan jadi dai menginspirasi banyak orang. Tapi sebagian keluarganya lagi menyebut Johny Indo masih teguh sebagai seorang muslim. Sampai akhirnya dimakamkan, Johny Indo dikebumikan secara Islam.

Beda lagi dengan chef Renatta. Renatta sudah kerap mengisi posisi yang ditinggalkan Raisa dan Isyana di penggalan terakhir istilah 'Harta, Takhta, ....'. Wajar, Raisa dan Isyana soalnya sudah kawin duluan dengan jodohnya masing-masing.

Posisi Renatta nanti akan lengser sendiri di pelesetan netizen kalau ia sudah ke pelaminan. Dan netizen akan gampang menggantinya jika nanti ada artis cewek dengan kategori sebagai berikut: cantik, berprestasi, dan punya akhiran nama dengan huruf 'A' --maaf, Rukmana, Suparna nggak masuk ya--. 

Tapi jangan salah, chef Renatta bareng Juna dan Arnold juga pernah digosipin masalah agamanya oleh warga +62.  Seorang YouTuber membuat judul begini, "Jarang yang Tahu, Inilah Agama yang Dianut 3 juri Masterchef Indonesia'. 

Bukan Renatta yang merespons, karena sudah ada Arnold Poernomo si chef kocak tukang ngegas yang rajin posting. Dengan emot muka malas, ia memberi reaksi di Twitter berbunyi, "Indahnya Indonesia, agama aja di kepoin."

Tapi bukan berarti Renatta Moeloek berhenti dibicarakan. Karena parasnya yang manis, eh maksudnya lantaran tubuhnya yang dirajah, netizen kaget ia pemeluk Islam. "Lah tatonya banyak, tapi malah muslim," begitu kira-kira celetukan warganet.

Harta, takhta, agama. Sekarang tiga-tiganya jadi 'tiga jawara gunjingan' utama ketimbang disebut 'tiga serangkai jerumus duniawi'. Kaya raya bisa digosipin main pesugihan, kedudukan tinggi rawan dibilang KKN. Eh sekarang mau mati aja jadi bahan gunjingan karena keyakinan.

Sadboys dan sadgirls, tak apa harta dan takhta saja yang identik mengundang keributan. Tapi biarkan agama lekat dengan ketenteraman, sesuai arti harfiahnya --A (tidak) Gama (kacau)--. Sebab dia hadir untuk mendamaikan.

***

PS, buat chef Renatta, kamu nggak usah dengerin netizen. Semangat aja masaknya ya...

Komario Bahar



Redaktur Pelaksana Insertlive


[Gambas:Video Insertlive]



(kmb/kmb)
KOMENTAR
ARTIKEL TERKAIT
Loading
Loading
BACA JUGA
UPCOMING EVENTS Lebih lanjut
detikNetwork
VIDEO
TERKAIT
Loading
POPULER