Apa Itu Fear Mongering? Strategi Menakut-nakuti yang Sering Tak Disadari

INSERTLIVE | Insertlive
Selasa, 20 Jan 2026 22:30 WIB
ilustrasi takut Apa Itu Fear Mongering? Strategi Menakut-nakuti yang Sering Tak Disadari/Foto: Photo by Melanie Wasser on Unsplash
Jakarta, Insertlive -


Berita palsu atau yang tak bisa dipastikan sumbernya beberapa tahun belakangan semakin menjamur.

Tidak hanya itu, berita-berita yang berisi asumsi atau dugaan yang belum pasti terjadi, tetapi sudah menimbulkan ketakutan bagi orang yang membaca juga makin liar.

Secara definisi, tindakan menakut-nakuti ini disebut sebagai fear mongering. Orang yang melakukan fear mongering sengaja menyebarkan rumor yang menakutkan atau berita yang dilebih-lebihkan untuk memanipulasi opini publik atau perilaku masyarakat.

ADVERTISEMENT

Barry Glassner dalam bukunya yang fenomenal, The Culture of Fear (1999), berpendapat bahwa masyarakat modern sering kali takut pada hal yang salah.

Glassner memandang fear mongering sebagai teknik narasi untuk menormalisasi kesalahan penalaran, di mana insiden terisolasi (kejadian tunggal) diposisikan seolah-olah sebagai tren global.

Ada beberapa tujuan dilakukan fear mongering ini, misal untuk pengalihan perhatian. Menurutnya, politisi dan media memanfaatkan ketakutan ini untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah yang lebih mendesak, seperti ketimpangan ekonomi atau kemiskinan.

Akibatnya, masyarakat menghabiskan terlalu banyak energinya untuk menghindari bahaya yang langka, sementara bahaya yang lebih mungkin terjadi justru diabaikan.

Cara Kerja Fear Mongering dan Dampaknya pada Masyarakat

Fear mongering tidak bekerja secara acak. Teknik ini menyerang bagian otak yang disebut amigdala, yang bertanggung jawab atas respons 'lawan atau lari'.


Ketika seseorang merasa terancam, kemampuan berpikir kritisnya cenderung menurun, sehingga mereka lebih mudah menerima solusi instan atau narasi tertentu.

Teknik utama yang sering digunakan dalam fear mongering adalah:

  1. Hiperbola: Mengambil risiko kecil dan menyajikannya seolah-olah bencana besar yang tak terelakkan.
  2. Repetisi: Mengulang-ulang narasi ancaman secara terus-menerus hingga dianggap sebagai kebenaran umum (illusory truth effect).
  3. Ketiadaan Konteks: Menyajikan data statistik yang menyeramkan tanpa membandingkannya dengan rata-rata normal atau probabilitas nyata.

Dampak dari penyebaran ketakutan ini sangat nyata dan sering kali merusak. Masyarakat cenderung mencari 'kambing hitam' atas ketakutan yang mereka rasakan, yang sering kali berujung pada diskriminasi terhadap kelompok tertentu.Paparan terhadap berita buruk secara terus-menerus juga membuat individu merasa tidak berdaya.

Di tingkat pemerintahan, ketakutan publik sering kali melahirkan undang-undang yang reaktif namun mengorbankan hak privasi atau kebebasan sipil.

Cara Mengidentifikasi Fear Mongering

Sebagai audiens yang cerdas, kita perlu melakukan filtrasi informasi dengan langkah-langkah berikut:

Ciri Informasi Sehat:

  • Berbasis data dengan sumber kredibel
  • Memberikan perspektif yang seimbang
  • Menyajikan solusi yang konstruktif.

Ciri Fear Mongering:

  • Menekankan pada ancaman tanpa jalan keluar yang jelas
  • Menggunakan kata-kata provokatif
  • Memaksa audiens untuk segera merasa panik atau marah.

(dia/dia)
Tonton juga video berikut:

ARTIKEL TERKAIT

snap logo
SNAP! adalah kanal video vertikal yang menyajikan konten infotainment singkat, cepat, dan visual. SNAP! menghadirkan cuplikan selebriti, tren viral, hingga highlight interview.
LEBIH LANJUT
Loading
Loading
BACA JUGA
UPCOMING EVENTS Lebih lanjut
detikNetwork
VIDEO
TERKAIT
Loading
POPULER