Mengenal Brain Rot, Kondisi Otak Lelah Akibat Akses Konten Digital Berlebihan
Mengenal Brain Rot, Kondisi Otak Lelah Akibat Akses Konten Digital Berlebihan
Istilah brain rot belakangan makin populer di media sosial dan umumnya dikaitkan dengan budaya populer, terutama terkait 'meme' dan sejenisnya.
Namun ternyata, istilah yang berarti 'pembusukan otak' ini justru berhubungan dengan kondisi mental yang terasa lelah, sulit fokus, dan penuh kabut karena terlalu lama terpapar konten digital.
Kebiasaan scrolling media sosial tanpa henti, menonton video pendek dalam jangka waktu lama, hingga berkali-kali mengecek notifikasi bisa membuat otak kelelahan tanpa disadari. Kondisi ini lah yang memancing 'brain rot'.
Lantas apa sebenarnya brain rot dan bagaimana dampak serta cara mengatasinya? Berikut merupakan ulasannya.
Apa Itu Brain Rot?
Inspira Health menyebut brain rot sebgai dampak negatif yang terjadi akibat paparan berlebihan dari konten digital yang dangkal, reptitif, serta terlalu merangsang.
Meski bukan merupakan diagnosis medis resmi, istilah ini dinilai relevan untuk menggambarkan kelelahan otak dan mental akibat konsumsi konten digital secara berlebihan.
Neurolog Susan Lotkowski menjelaskan bahwa platform digital memang dirancang agar pengguna bisa terus terlibat pada setiap notifikasi, like, atau video lucu yang memicu lonjakan kecil dopamin, zat kimia di otak yang berperan dalam rasa senang dan motivasi.
Namun jika hal ini dilakukan tanpa henti, otak bisa terbiasa dengan rangsangan instan dan mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas yang memerlukan fokus lebih panjang dan mendalam.
Paparan konten digital berlebihan pada otak kemudian tak hanya menyebabkan rasa lelah sesaat. Pada jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan dampak seperti:
1. Rentang perhatian menurun
2. Mudah terdistraksi
3. Sulit menyimpan dan mengingat informasi
4. Rasa cemas yang meningkat
5. Gangguan tidur
Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata orang memeriksa ponsel lebih dari 100 kali sehari. Tiap gangguan kecil yang datang meninggalkan attentiuon residue, sisa perhatian yang tertinggal pada aktivitas sebelumnya sehingga fokus sulit kembali utuh.
Bagaimana Cara Mencegah Brain Rot?
Cara Mencegah Brain Rot/ Foto: Freepik |
Neuropsikolog dari Marcus Neuroscience Institute, Raphael Wald menjelaskan bahwa jeda penggunaan ponsel selama 72 jam bisa membantu ‘mengatur ulang’ respons dopamin di otak.
Rentang waktu tiga hari ini dinilai cukup untuk memutus pola stimulasi instan yang terus-menerus diterima oleh itak dari notifikasi, media sosial, hingga konten digital lainnya.
Notifikasi bisa memicu pelepasan dopamine dalam jumlah kecil. Jika hal ini terjadi berulang kali, otak akan terbiasa untuk mencari kepuasan instan dan sulit berkonsentrasi pada aktivitas yang membutuhkan waktu lebih lama.
Mengurangi waktu paparan layar bisa mengontrol kadar dopamin hingga kembali stabil, mendukung konsentrasi, motivasi, serta kejernihan pikiran yang lebih baik.
Meski tak semua orang bisa berhenti menggunakan ponsel selama 72 jam, mengurangi penggunaan ponsel selama satu hingga dua jam sehari hingga embatasi waktu layar sebelum tidur atau makan sudah cukup membantu untuk menurunkan beban stimulasi pada otak.
Beragam cara sederhana berikut juga bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan otak di tengah paparan konten digital yang masif.
1. Mulai dari Jeda Kecil
Mulai dengan menyisihkan waktu selama 30 hingga 60 menit tanpa ponsel dalam sehari, terutama saat pagi hari. Gunakan waktu ini untuk melakukan aktivitas dengan tenang tanpa gangguan notifikasi ponsel.
2. Terapkan Batas Waktu Layar
Manfaatkan fitur seperti pengingat waktu layar di ponsel untuk membatasi penggunaan media sosial atau aplikasi hiburan.
3. Kurasi Konten yang Dikonsumsi
Pilih akun atau platform yang memberikan nilai edukatif dan inspiratif, hindari konten negatif atau sensasional yang bisa memancing rasa cemas.
4. Terapkan Aturan 20-20-20
Terapkan aturan untuk mengalihkan pandangan selama 20 detik ke objek sejauh 20 kaki (6 meter) setelah menatap layar selama 20 menit. Cara ini bisa membantu mengurangi kelelahan mata serta memberi jeda bagi otak.
5. Perbanyak Aktivitas Offline
Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas di luar media sosial seperti membaca buku fisik, berolahraga, hingga bertemu langsung dengan orang lain. Interaksi tatap muka bisa meningkatkan empati dan kualitas hubungan sosial.
Brain rot tak berarti Anda harus menghindari teknologi sepenuhnya, tetapi dengan pola penggunaan yang bisa dikontrol dengan baik, otak terhindar dari rasa lelah dan kemampuan konsentrasi bisa tetap terjaga.
(asw)
Cara Mencegah Brain Rot/ Foto: Freepik