Pariwisata Timur Tengah Kena Dampak Konflik Iran vs AS-Israel
Pariwisata Timur Tengah selama ini dapat meraup keuntungan hingga 367 miliar USD atau Rp6.203 triliun per tahun. Namun, konflik antara Iran dan AS-Israel, memberikan dampak serius terhadap pariwisata di Timur Tengah.
Akibat memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah, membuat citra liburan mewah dan aman bagi turis menjadi terancam. Bahkan, bandara di wilayah tersebut, termasuk Dubai kini terpaksa ditutup, imbas konflik As-Israel dan Iran itu.
Tentu saja, dengan adanya penutupan bandara ini membuat banyak wisatawan yang dari dan ke Timur Tengah terkendala. Apalagi, salah satu hotel ikonik di Dubai, Burj Al Arab mengalami kerusakan akibat konflik AS-Israel dan Iran.
Berdasarkan dari AirDNA, banyak pemesanan liburan di Uni Emirat Arab (UEA) dibatalkan. Sejak serangan pertama pada Sabtu (28/2), terjadi 8.450 pembatalan pemesanan.
Menurut perusahaan konsultan Tourism Economics, jumlah wisatawan yang datang ke Timur Tengah pada tahun ini diperkirakan akan mengalami penurunan antara 23 juta hingga 38 juta orang. Tentu saja hal ini memicu kerugian ekonomi hingga 56 miliar USD atau Rp946,62 triliun.
Seperti diketahui, saat ini Iran tengah terlibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Usai mendapat serangan dari AS-Israel pada Sabtu (28/2), Iran pun melancarkan serangan balasan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk Dubai.
Imbas serangan balik Iran itu, menimbulkan kekhawatiran bagi wisatawan di Dubai. Mereka pun mulai berusaha mencari cara untuk bisa keluar dari Dubai di tengah konflik yang kian memanas.
(kpr/yoa)