Advertisement

Kasus Gagal Ginjal Melonjak, Masyarakat Indonesia Banyak yang Cuci Darah

agn | Insertlive
Ginjal
Kasus Gagal Ginjal Melonjak, Masyarakat Indonesia Banyak yang Cuci Darah/Foto: pexels/kaboompics
Jakarta -

Kasus gagal ginjal di Indonesia mengalami lonjakan. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi menyebut peningkatan terjadi cukup signifikan. Penyakit ini bahkan menjadi salah satu beban pembiayaan terbesar di BPJS Kesehatan.

"Kalau gagal ginjal, kalau kita bandingkan tahun 2019-2025, itu dia meningkat 476,2 persen (pembiayaan di JKN, red)," ucap Nadia dalam laporan detikcom.

Kasus gagal ginjal juga menjadi penyakit dengan peningkatan paling besar dalam kurun waktu 2019-2025 dalam hal pembiayaan dibandingkan dengan penyakit kronis lainnya seperti jantung, kanker dan stroke.

Mereka yang mengidap gagal ginjal kronis membutuhkan perawatan hemodialisa atau cuci darah untuk menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Perawatan itu dilakukan untuk membersihkan limbah racun (ureum/kreatinin) dan kelebihan cairan dari tubuh.

Advertisement

Prosedur ini dilakukan untuk mencegah komplikasi mematikan, menyeimbangkan elektrolit, dan menjaga kualitas hidup pasien. Nadia pun mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan mereka agar terhindar dari penyakit tersebut.

"Jadi memang hati-hati, ginjal itu seperti silent killer dan awalnya kenapa orang bisa sakit ginjal? Dia punya hipertensi dan penyakit gula (diabetes melitus) yang tidak terkendali, sehingga pasti akan terganggu dengan ginjalnya," ucap Nadia.

"Itu (penyakit gagal ginjal) peningkatannya paling tinggi dibandingkan lainnya dari sisi pembiayaan, berarti kan jumlah kasusnya banyak," lanjutnya.

Data dari Kemenkes, berikut beban pembiayaan 4 penyakit kronis terbesar dari BPJS Kesehatan dalam satuan triliun rupiah.

1. Gagal Ginjal

2019: Rp2,32 triliun
2025: Rp13,38 triliun (+476,2%)

2. Stroke
2019: Rp2,56 triliun
2025: Rp7,21 triliun (+182,9%)

3. Kanker
2019: Rp3,81 triliun
2025: Rp10,31 triliun (+170,2%)

4. Jantung
2019: Rp10,28 triliun
2025: Rp17,35 triliun (+68,8%)

(agn/and)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement