Seleb vs Netizen, Intan Erlita: Mereka Iri dengan Kebahagiaan Orang Lain
DIS |
Insertlive
Jakarta
-
Netizen dan selebritis sudah bukan lagi hal yang baru. Terlebih soal banyaknya komentar julid serta menyayat hati dari ketikan jari netizen kepada selebritis.
Melalui tayangan langsung Insert Story, Senin (4/11), pakar psikolog, Intan Erlita memaparkan bahwa banyak orang yang tak suka melihat kebahagiaan orang lain.
Tak hanya itu, Intan menambahkan bahwa faktor lainnya yakni untuk mencari perhatian dan sensasi. Terlebih, ketika mereka akhirnya menjadi sorotan di kolom komentar pada unggahan beberapa selebriti.
"Ada lagi yang misalnya dia bukan cuman nggak suka sama kebahagiaan orang lain, tapi juga benar-benar orang yang suka cari perhatian ya cari sensasi lah biar diperhatiin sama si artis yang dia komenin," paparnya lebih lanjut.
Intan menyebut bahwa sebagai publik figur seharusnya lebih berhati-hati terhadap permasalahan ini. Karena, tak semua orang hanya ingin bertujuan untuk menyudutkan tetapi juga memiliki tujuan lain.
"Maksudnya, ya sekarang hati-hati aja. Mereka bisa aja punya tujuan lain selain nggak suka atas kebahagiaan orang lain dan cari perhatian dan sensasi semata," tukasnya.
(dis/dis)
Loading ...
Advertisement
Tak hanya itu, Intan menambahkan bahwa faktor lainnya yakni untuk mencari perhatian dan sensasi. Terlebih, ketika mereka akhirnya menjadi sorotan di kolom komentar pada unggahan beberapa selebriti.
Intan Erlita, pakar psikolog/ Foto: Insertlive |
"Ada lagi yang misalnya dia bukan cuman nggak suka sama kebahagiaan orang lain, tapi juga benar-benar orang yang suka cari perhatian ya cari sensasi lah biar diperhatiin sama si artis yang dia komenin," paparnya lebih lanjut.
Intan menyebut bahwa sebagai publik figur seharusnya lebih berhati-hati terhadap permasalahan ini. Karena, tak semua orang hanya ingin bertujuan untuk menyudutkan tetapi juga memiliki tujuan lain.
"Maksudnya, ya sekarang hati-hati aja. Mereka bisa aja punya tujuan lain selain nggak suka atas kebahagiaan orang lain dan cari perhatian dan sensasi semata," tukasnya.
(dis/dis)
Intan Erlita, pakar psikolog/ Foto: Insertlive