Pengguna Vape Indonesia Meningkat, Pakar Beberkan Bahaya Rokok Elektrik

INSERTLIVE | Insertlive
Senin, 06 Jun 2022 19:25 WIB
Vape
Jakarta, Insertlive -

Pengguna vape di Indonesia dinyatakan mengalami peningkatan angka yang cukup drastis. Pada 2021, Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) menunjukkan adanya peningkatan 10 kali lipat pengguna rokok elektrik di Indonesia.

Pengguna vape kebanyakan adalah orang yang sengaja memilih rokok elektrik karena alasan ingin mengurangi atau berhenti merokok. Lantas, antara vape dan rokok, manakah yang lebih bahaya?

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI dr Maria Endang Sumiwi menyatakan bahaya rokok elektrik sama dengan rokok konvensional. Ia menambahkan, rokok elektrik mengandung cairan bahan berbahaya yang tidak memiliki standar baku, ini menyebabkan tidak adanya batas aman saat merokok elektrik.


"Rokok elektrik sama bahayanya seperti rokok biasa kan apalagi dia ada cairan bahannya itu ya yang mana tidak ada standar amannya. Jadi kita tidak tau apa yang terkandung di dalamnya jadi tidak ada batas amannya," ujar dr Maria pada acara Radio Kesehatan Kemenkes RI dilansir dari detikcom.

"Sama bahaya utamanya karena ada kandungan tembakau bisa menimbulkan adiktif, belum lagi cairan rasa-rasanya itu yang bisa memiliki kandungan berbahaya," sambungnya.

Sementara, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, juga menyatakan bahwa rokok elektrik bukan solusi untuk mengurangi rokok konvensional.

"Rokok elektrik bukan solusi. Tapi justru jembatan perokok konvensional. Malah jadi perokok elektrik dan konvensional nantinya," ujarnya dalam konferensi pers virtual

Ketua Kelompok Kerja bidang Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Feni Fitriani Taufik juga menyatakan baik rokok elektrik maupun rokok konvensional sama-sama bisa menimbulkan bahaya bagi tubuh lantaran adanya nikotin yang membuat adiksi atau kecanduan.

"Survei dari RSUP Persahabatan, 76 persen pengguna rokok elektronik juga mengalami adiksi. Itu wajar karena masih ada nikotinnya," beber dr Feni dalam webinar daring Hari Tanpa Tembakau bersama PDPI.

Ia menegaskan merokok elektrik bukan membuat seseorang berhenti merokok, namun justru menambah risiko bahaya pada tubuh.

"Artinya, jumlah bahan-bahan berbahaya yang seharusnya tidak masuk ke dalam tubuh itu juga makin meningkat. Tentu semakin besar risiko berbahayanya, akan semakin lama terpajang risiko terhadap penyakit juga akan semakin besar," lanjutnya.

Menurut survei yang dibeberkan dr Feni, terdapat hasil analisis kadar kontinen dalam urine, yang belakangan terungkap jumlah metabolisme nikotin di tubuh pengguna vape atau rokok elektrik jumlahnya mencapai lebih dari 200. Menurutnya, kadar tersebut serupa dengan seseorang yang tengah mengkonsumsi rokok konvensional sebanyak 5 batang.

(yoa/syf)
Tonton juga video berikut:
FOTO TERKAIT
KOMENTAR
ARTIKEL TERKAIT
UPCOMING EVENT Lebih lanjut
detikNetwork
BACA JUGA
VIDEO
TERKAIT
POPULER