Advertisement

Sering Makan Mi Instan di Musim Hujan? Waspadai Dampaknya

agn | Insertlive
Ilustrasi mi instan, mie instan, indomie,
Sering Makan Mi Instan di Musim Hujan? Waspadai Dampaknya/Foto: Freepik
Jakarta -

Menyantap makanan berkuah saat musim hujan memang tidak ada duanya.

Menyantap makanan berkuah dan hangat di tengah cuaca yang dingin karena hujan lebat pun sering menjadi pilihan utama masyarakat. Salah satu makanan berkuah favorit yang diincar adalah mi instan.

Proses pembuatan yang mudah, rasa yang gurih bikin nagih, dan hangatnya kuah mi membuat mi instan selalu menjadi andalan makanan di rumah. Masyarakat pun biasanya menyetok mi instan di rumah agar bisa disantap kapan saja.

Namun, sudah menjadi rahasia umum jika terlalu banyak mengonsumsi mi instan bisa berdampak buruk pada kesehatan. Ahli Gizi dari Ottimmo International Heni Adhianata mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan mi instan sebagai makanan rutin kala musim hujan. Karena ada kandungan yang dapat membahayakan tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan.

Advertisement

"Makanan instan yang membuat bahaya adalah natrium atau garamnya, serta beberapa zat aditif seperti pengawet, penambah rasa, atau pewarna. Kalau konsumsinya mungkin seminggu sekali, atau sebulan sekali, mungkin masih oke. Tapi kalau konsumsinya rutin, itu yang tidak disarankan," ucap Heni dalam laporan dari detikcom.

Mi instan mengandung natrium tinggi. Pada salah satu brand terkenal, mi instan mengandung lebih dari 70 persen asupan garam harian. Sementara tubuh hanya memerlukan asupan garam 5 gram per hari.

"Bahkan kandungan natriumnya itu, brand yang sudah sangat terkenal sekali, mie instan itu di atas 70% dari asupan garam harian. Jadi dari satu porsi itu saja, kita sudah mendapatkan asupan 70% garam atau natrium," tuturnya.

"Nah, 30%-nya kan belum tentu kita ada di angka itu bisa jadi pastinya (garam yang masuk ke tubuh) jadi lebih, karena untuk asupan garam itu satu hari hanya satu sendok teh atau sekitar 5 gram," lanjutnya.

Mengonsumsi makanan instan berlebihan juga bisa memicu penyakit seperti tekanan darah tinggi hingga penambahan berat badan. Zat adatif pada mi instan juga bisa mengganggu metabolisme tubuh.

"Dapat berpengaruh juga ke kenaikan berat badan. Karena makanan-makanan instan itu kan cenderung rasanya itu gurih, asin gitu ya. Jadi kadang kalau kita makan satu porsi itu bisa nambah lagi. Belum lagi kandungan karbohidrat, lemak, dan gulanya yang tinggi," ucapnya.

"Dengan adanya bahan tambahan pangan atau zat aditif, itu kan juga bisa mengganggu proses metabolisme. Karena ada zat pengawet, zat pewarna, penambahan MSG yang juga tidak baik jika dikonsumsi secara rutin," kata Heni.

Selain itu mi instan juga bisa memicu sakit radang tenggorokan. Hal itu terjadi karena daya tahan tubuh menurun dan terdapat bahan-bahan yang dapat memicu radang tenggorokan.

"Apalagi kalau misalnya kita terlalu banyak makan-makan instan, itu kadang natrium atau zat aditif itu bisa memicu radang tenggorokan. Itu yang kadang juga memperparah kondisi kita sakit di musim hujan," imbuhnya.

Heni pun menyebut masyarakat bisa kembali mengonsumsi makanan alami dan tetep bisa menghangatkan tubuh dengan asupan gizi yang seimbang.

"Kalau mau tetap menjaga kualitas asupan gizi, kita kembali ke yang minim proses. Jadi mungkin bisa kita ganti dengan rebus-rebusan, makanan-makanan yang direbus, yang dimasak dengan teknik yang simpel seperti sup, atau ubi rebus, jahe anget, seperti itu," ujarnya.

(agn/arm)

Komentar

!nsertlive

Advertisement