Jenis dan Makna 'Ojigi' Posisi Membungkuk Hajime Moriyasu Pelatih Jepang

Insertlive | Insertlive
Rabu, 07 Dec 2022 17:45 WIB
AL WAKRAH, QATAR - DECEMBER 05: Head Coach Hajime Moriyasu of Japan says goodbye to the Japanese fans after the FIFA World Cup Qatar 2022 Round of 16 match between Japan and Croatia at Al Janoub Stadium on December 05, 2022 in Al Wakrah, Qatar. (Photo by Markus Gilliar - GES Sportfoto/Getty Images)
Jakarta, Insertlive -

Jepang harus berlapang dada usai kandas di babak 16 besar Piala Dunia 2022 Qatar.

Tim berjuluk Samurai Biru itu pulang lebih awal usai kalah adu penalti melawan Kroasia.

Hajime Moriyasu pelatih tim nasional Jepang lantas menyampaikan permohonan maaf kepada penggemar usai kekalahan tersebut.


Moriyasu menyampaikan permohonan maaf atas kekalahan tersebut dengan menampilkan pose membungkukkan badan di tengah lapangan usai pertandingan berakhir.

IKUTI QUIZ

Pose Moriyasu membungkukkan tubuh sebagai permohonan maaf itu membuat mata dunia kagum dengan budaya Jepang.

Dilansir dari Reuters, Moriyasu menyampaikan pesan haru perihal Jepang yang tidak lolos di babak 16 besar.

"Tentu saja kami ingin menang dan hasilnya sangat disayangkan. Kami tidak dapat menembus penghalang menuju babak delapan besar, tetapi para pemain mampu menunjukkan generasi baru dari sepak bola Jepang," ujar Moriyasu dikutip dari Reuters pada Selasa (6/12).

Pose Moriyasu membungkuk saat meminta maaf ini menjadi sorotan dan memang dikenal sebagai budaya Jepang yang disebut Ojigi.

Budaya Ojigi ini ternyata merupakan budaya Jepang yang kerap digunakan sebagai bentuk penghormatan terhadap lawan bicara.

Namun, budaya Ojigi ternyata juga memiliki makna yang berbeda-beda, tergantung dengan tujuan penggunaan dan ditujukan kepada siapa.

Budaya Ojigi mulai dilakukan orang Jepang pada era 500-800 sebelum masehi.

Budaya ini ternyata berasal dari Tiongkok dan pertama kali masuk ke Jepang lewat ajaran Buddha.

Kala zaman kekaisaran Jepang, budaya Ojigi ini diperuntukkan guna memberikan penghormatan terhadap orang yang berkedudukan lebih tinggi.

Budaya Ojigi terus berkembang mengikuti perkembangan zaman hingga kini digunakan sebagai bentuk terima kasih, memohon sesuatu, memberi selamat, hingga meminta maaf.

Ojigi pada dasarnya memiliki dua bentuk pose, yakni berdiri dan duduk. Namun, budaya Ojigi kebanyakan dilakukan dengan posisi berdiri.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan saat melakukan Ojigi. Penerapan 3 hal dasar ini berlaku untuk semua jenis Ojigi.

Tiga hal dasar yang dimaksud, yaitu punggung direnggangkan, tapi tetap lurus, posisi kaki dan pinggul harus lurus, serta menarik napas saat menurunkan kepala lalu, mengembuskan napas saat mengangkat kepala.

AL WAKRAH, QATAR - DECEMBER 05: Head Coach Hajime Moriyasu of Japan says goodbye to the Japanese fans after the FIFA World Cup Qatar 2022 Round of 16 match between Japan and Croatia at Al Janoub Stadium on December 05, 2022 in Al Wakrah, Qatar. (Photo by Markus Gilliar - GES Sportfoto/Getty Images)AL WAKRAH, QATAR - DECEMBER 05: Head Coach Hajime Moriyasu of Japan says goodbye to the Japanese fans after the FIFA World Cup Qatar 2022 Round of 16 match between Japan and Croatia at Al Janoub Stadium on December 05, 2022 in Al Wakrah, Qatar. (Photo by Markus Gilliar - GES Sportfoto/Getty Images)/ Foto: Getty Images/Marvin Ibo Guengoer - GES Sportf

Berikut ini merupakan jenis-jenis budaya Ojigi yang perlu diketahui:

1. Eshaku

Eshaku merupakan salah satu budaya Ojigi yang paling umum dilakukan orang Jepang.

Budaya Eshaku ini biasanya digunakan untuk menyapa rekan di kantor.

Eshaku umum digunakan untuk sekadar memberi salam, seperti ucapan selamat pagi atau 'otsukaresama desu' (terima kasih kerja kerasnya).

Eshaku biasanya dilakukan dengan posisi berdiri sambil menundukkan kepala sekitar 15 derajat.

2. Senrei

Budaya Ojigi berikutnya adalah Senrei yang kerap dilakukan dalam posisi duduk.

Posisi Senrei biasanya digunakan saat situasi formal atau semiformal.

Cara melakukan Senrei adalah dengan membungkukkan badan dan kepala dengan posisi 30 derajat.

Selain itu, orang yang melakukan Senrei harus menahan posisi membungkuk ini selama 2-3 detik.

3. Keirei

Keirei termasuk budaya Ojigi yang paling banyak digunakan oleh warga Jepang.

Keirei biasa dilakukan untuk memberikan salam kepada orang lain.

Selain itu, Keirei juga kerap digunakan sebagai bentuk ucapan terima kasih.

Biasanya, Keirei ini dilakukan dengan posisi berdiri dan badan membungkuk 30 derajat.

4. Saikeirei

Saikeirei termasuk salah satu Jenis budaya Ojigi yang cukup jarang digunakan.

Biasanya, budaya Ojigi ini dilakukan sebagai wujud hormat serta permintaan maaf yang mendalam kepada atasan, mertua, atau rekan bisnis yang penting, dan sebagainya.

Cara melakukan Saikeirei biasa sering dilakukan dengan cara membungkukkan badan 45 derajat dan posisi kepala diturunkan, serta menahan posisi ini selama kurang lebih 3 detik.

5. Shazai

Shazai juga menjadi salah satu jenis Ojigi yang paling jarang ditemukan.

Posisi Shazai biasanya dilakukan dengan cara badan membungkuk 70 derajat dan menahan posisi ini sampai kurang lebih 4 detik.

Shazai dilakukan ketika seseorang melakukan kesalahan besar dan memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Budaya Ojigi jenis Shazai ini yang dilakukan Hajime Moriyasu usai timnas Jepang kalah di babak 16 besar Piala Dunia 2022 Qatar.

(ikh/and)
Tonton juga video berikut:
KOMENTAR
ARTIKEL TERKAIT
Loading
Loading
BACA JUGA
UPCOMING EVENTS Lebih lanjut
detikNetwork
VIDEO
TERKAIT
Loading
POPULER