Advertisement

Bukan Masalah Ekonomi, Ini Alasan Anak Muda Ogah Nikah

InsertLive | Insertlive
Ilustrasi pernikahan, nikah muda, pernikahan dini, menikah
Bukan Masalah Ekonomi, Ini Alasan Anak Muda Ogah Nikah/Foto: Freepik
Jakarta -

Fenomena semakin banyak anak muda yang memilih menunda bahkan tidak menikah terus menjadi perhatian di berbagai negara. Selama ini, faktor ekonomi kerap disebut sebagai penyebab utama.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keputusan tersebut ternyata dipengaruhi oleh perubahan cara pandang generasi muda terhadap kehidupan dan hubungan, bukan semata-mata persoalan finansial.

Laporan yang dikutip CNBC Indonesia mengungkapkan bahwa generasi Milenial dan Gen Z kini memiliki definisi kebahagiaan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Pernikahan tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya tolak ukur kesuksesan atau pencapaian hidup.

Sejumlah anak muda justru lebih mengutamakan pengembangan diri, karier, kesehatan mental, hingga kebebasan menentukan arah hidup. Mereka juga cenderung lebih berhati-hati dalam memilih pasangan karena tidak ingin mengulang pengalaman perceraian yang banyak mereka saksikan di lingkungan sekitar.

Advertisement

Selain itu, perubahan budaya kerja juga ikut mempengaruhi keputusan tersebut. Kesempatan untuk belajar, bekerja, dan berpindah tempat tinggal membuat banyak orang merasa pernikahan bukan lagi prioritas utama di usia muda. Sebagian memilih membangun stabilitas emosional terlebih dahulu sebelum memutuskan berkomitmen dalam hubungan jangka panjang.

Media sosial pun disebut memiliki peran dalam mengubah persepsi tentang pernikahan. Di satu sisi, platform digital memperlihatkan sisi romantis sebuah hubungan. Namun di sisi lain, media sosial juga membuat berbagai persoalan rumah tangga, konflik pasangan, hingga perceraian menjadi lebih mudah terlihat sehingga memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi generasi muda.

Fenomena ini tercermin dari menurunnya angka pernikahan di sejumlah negara dalam beberapa tahun terakhir. Para peneliti menilai perubahan tersebut merupakan bagian dari pergeseran nilai sosial, ketika individu lebih mengutamakan kualitas hidup dan kebahagiaan pribadi dibanding mengikuti ekspektasi masyarakat.

Para ahli menegaskan bahwa rendahnya minat menikah bukan berarti generasi muda menolak membangun keluarga. Banyak yang hanya memilih menunda hingga merasa benar-benar siap secara emosional, mental, dan memiliki pasangan yang dianggap tepat. Dengan kata lain, keputusan untuk tidak buru-buru menikah kini lebih banyak didasari perubahan cara berpikir daripada semata-mata keterbatasan ekonomi.

Sementara itu, data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bukti bahwa semakin banyak warga Indonesia yang malas menikah.

Menurut Laporan Statistik Indonesia 2024, ada tren penurunan jumlah perkawinan yang cukup signifikan dalam enam tahun terakhir. Tercatat bahwa, penurunan paling drastis terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Dari tahun 2021 hingga 2023, angka pernikahan di Indonesia menyusut sebanyak 2 juta. Hal ini terjadi hampir di semua daerah. DKI Jakarta, misalnya, yang mengalami penurunan di angka nyaris 4 ribu.

Sementara di Jawa Barat penurunan terjadi nyaris hingga 29 ribu yang terjadi juga di provinsi padat penduduk lainnya seperti Jawa Tengah dengan angka hingga 21 ribu dan Jawa Timur yang menurun hingga 13 ribu.

(dis/fik)
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement