2 Jenis Kanker yang Menyerang Generasi Muda
Meningkatnya kasus kanker pada usia muda menuai perhatian dari para ahli kesehatan dunia. Melansir dari laporan terbaru American Cancer Society, terdapat peningkatan yang cukup signifikan terhadap angka penderita kanker usus besar atau colorectal cancer (CRC) pada individu berusia 20 hingga 49 tahun.
Saat angka kejadian kanker usus besar pada lansia terus menurun, kondisi sebaliknya justru terjadi pada generasi muda. Hasil penelitian dari studi bertajuk Colorectal Cancer Statistics 2026 yang diterbitkan di jurnal CA: A Cancer Journal for Clinicians itu menunjukkan bahwa penyakit ini telah bergeser menjadi pemicu kematian tertinggi pada populasi berusia di bawah 50 tahun.
Pada orang dewasa di bawah 50 tahun, angka kematian telah meningkat sebesar 1% per tahun sejak 2004. Untuk orang usia 50 hingga 64 tahun, angka kematian juga meningkat 1% per tahun sejak tahun 2019. Sebaliknya, angka kematian telah turun sebesar 2 hingga 3% per tahun untuk orang yang berusia lebih dari 65 tahun sejak tahun 1990-an.
Hal yang sangat disayangkan adalah mayoritas kasus kanker usus besar pada generasi muda ini baru teridentifikasi ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut. Data menunjukkan sekitar 75% dari total kasus kanker tersebut ditemukan ketika kondisinya sudah cukup parah.
Sekitar setengah dari kasus tersebut terjadi pada rentang usia 45 hingga 49 tahun. Meski kelompok usia tersebut sudah memenuhi syarat untuk melakukan skrining, nyatanya hanya sekitar 37% yang menjalani pemeriksaan tersebut.
Selain kanker usus besar, laporan tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan pada jumlah kasus kanker rektum. Saat ini, kanker rektum menyumbang sebanyak 32% dari semua kasus kanker usus besar, naik sekitar 5% pada pertengahan 2000-an.
Peningkatan angka ini menuai perhatian Rebecca Siegel selaku direktur ilmiah senior bidang penelitian surveilans di American Cancer Society sekaligus penulis utama laporan tersebut. Ia menyebutkan bahwa saat ini terjadi perubahan pola penyakit.
"Setelah puluhan tahun mengalami kemajuan, risiko kematian akibat kanker usus besar kini justru meningkat pada generasi yang lebih muda," ujarnya kepada media Fox News.
Menurutnya, peningkatan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor gaya hidup atau lingkungan yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Melihat tren yang mengkhawatirkan ini, para peneliti menekankan pentingnya upaya penelitian mendalam untuk mengungkap penyebabnya. Selain itu, mereka juga menghimbau masyarakat untuk melakukan skrining sejak usia 45 tahun sebagai langkah pencegahan dini.
Laporan tersebut juga memperkirakan akan ada kasus kanker usus besar baru sekitar 158.850 di tahun ini, dengan jumlah angka kematian sekitar 55.230 yang disebabkan oleh penyakit tersebut.
Para peneliti juga menyoroti bahwa sejumlah pola hidup yang tidak sehat turut berkontribusi pada sebagian besar kasus kanker usus besar. Hal ini meliputi pola makan yang tidak sehat, konsumsi alkohol berlebih, merokok, jarang berolahraga, serta obesitas.
Hasil penelitian ini juga memancing perhatian kepala petugas ilmiah American Cancer Society, William Dahut. Ia menghimbau kepada masyarakat yang sudah memasuki usia 45 tahun untuk segera memulai skrining kanker usus besar sesuai anjuran medis.
"Temuan ini semakin menggarisbawahi bahwa kanker kolorektal semakin memburuk di kalangan generasi muda dan menyoroti kebutuhan mendesak bagi orang dewasa yang memenuhi syarat untuk memulai skrining pada usia 45 tahun yang direkomendasikan," ujarnya..
Meski terdengar mengkhawatirkan, sebenarnya penyakit tersebut memiliki peluang kesembuhan yang cukup tinggi jika terdeteksi lebih awal. Temuan tersebut menegaskan bahwa jika penyakit ini terdeteksi saat masih stadium awal, peluang untuk bertahan hidup selama lima tahun ke depan bisa mencapai 95%.
(Astrid Riyani Atmaja/fik)