Advertisement

Terlalu Negative Vibes! Begini Cara Hadapi Orang Toxic di Kantor

InsertLive | Insertlive
Ilustrasi red flag di kantor, toxic
Terlalu Negative Vibes! Begini Cara Hadapi Orang Toxic di Kantor/Foto: Freepik
Jakarta -

Lingkungan kerja yang sehat dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan mental karyawan. Namun, tidak semua orang beruntung bekerja dengan rekan yang suportif. Di banyak kantor, ada saja sosok yang gemar bergosip, menjatuhkan orang lain, menyebarkan energi negatif, hingga mengambil kredit atas hasil kerja rekan satu tim.

Psikolog dan pakar kepemimpinan dari berbagai media internasional menyebut perilaku toxic di tempat kerja tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan, dampaknya bukan hanya menurunkan semangat kerja, tetapi juga memicu stres berkepanjangan, burnout, hingga meningkatnya keinginan untuk resign.

Lantas, bagaimana cara menghadapi orang toxic di kantor tanpa ikut terseret dalam konflik? Berikut beberapa langkah yang direkomendasikan para ahli.

1. Tetapkan batasan yang jelas

Advertisement

Salah satu cara paling efektif adalah membuat batasan (boundaries). Jangan merasa wajib terlibat dalam setiap percakapan, terutama jika isinya gosip, keluhan tanpa solusi, atau upaya menjatuhkan rekan kerja.

Menurut psikolog dari Cleveland Clinic, menjaga jarak secara emosional maupun fisik dapat membantu melindungi kesehatan mental. Jika pembicaraan mulai mengarah ke hal negatif, alihkan topik atau akhiri percakapan dengan sopan.

2. Tetap profesional

Orang toxic sering kali berharap mendapat reaksi emosional dari orang lain. Karena itu, usahakan tetap tenang dan fokus pada pekerjaan.

Hindari membalas sindiran, menyebarkan gosip balasan, atau terlibat dalam drama kantor. Sikap profesional justru membuat Anda lebih dihargai dan mengurangi peluang konflik semakin membesar.

3. Jangan ikut bergosip

Gosip memang sering menjadi hal yang sering dibicarakan di lingkungan kerja, tetapi ikut menyebarkan rumor justru bisa memperburuk situasi.

Para ahli menyarankan untuk tidak menjadi bagian dari lingkaran negatif tersebut. Jika seseorang mulai membicarakan keburukan rekan lain, Anda bisa mengalihkan pembicaraan ke topik pekerjaan atau memilih meninggalkan percakapan secara halus.

4. Dokumentasikan

Apabila perilaku toxic sudah masuk kategori intimidasi, sabotase pekerjaan, atau perundungan (bullying), simpan bukti-bukti yang relevan.

Catat tanggal, waktu, kronologi kejadian, hingga saksi jika ada. Dokumentasi tersebut akan membantu apabila Anda perlu melaporkannya kepada atasan atau tim HR.

5. Komunikasikan secara langsung jika memungkinkan

Tidak semua konflik harus berakhir dengan laporan ke HR. Jika situasinya masih memungkinkan, cobalah berbicara empat mata secara tenang.

Harvard Business Review menyarankan untuk mengutamakan percakapan daripada konfrontasi. Fokuslah pada perilaku yang mengganggu, bukan menyerang kepribadian orang tersebut. Pendekatan yang tegas namun tetap empati dinilai lebih efektif dalam menyelesaikan masalah.

6. Cari dukungan dari atasan atau HR

Jika berbagai upaya tidak membuahkan hasil dan perilaku tersebut mulai mengganggu pekerjaan maupun kesehatan mental, jangan ragu mencari bantuan.

Sampaikan masalah secara objektif dengan membawa fakta dan bukti, bukan berdasarkan emosi. Pendekatan seperti ini akan memudahkan perusahaan mengambil langkah yang tepat.

7. Prioritaskan kesehatan mental

Jangan membawa seluruh beban pekerjaan ke rumah. Luangkan waktu untuk beristirahat, berolahraga, berbicara dengan orang terdekat, atau berkonsultasi dengan profesional bila diperlukan.

Menurut Cleveland Clinic, paparan perilaku toxic secara terus-menerus dapat memicu kecemasan, gangguan tidur, hingga menurunkan rasa percaya diri. Karena itu, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menyelesaikan pekerjaan.

(dis/fik)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement