BMKG Sebut Musim Kemarau 2026 Bakal Lebih Kering
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengungkapkan musim kemarau 2026 akan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis yang pernah tercatat dalam periode 20 tahunan.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab mengatakan musim kemarau ini selain lebih kering juga akan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang.
"Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun," kata Fachri dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-76 Stasiun Klimatologi Jawa Barat "Observing Today, Protecting Tomorrow" di Jakarta, Selasa (14/4), dalam laporan yang dilihat dari CNN Indonesia.
BMKG saat ini menggunakan acuan rata-rata klimatologis periode 1991-2020. Meski akan lebih kering dari biasanya, musim kemarau kali ini bukan menjadi yang paling ekstrem atau Godzila El Nino, istilah yang banyak disebut masyarakat.
Menurut BMKG istilah itu tidak sepenuhnya benar bahkan dinilai berlebihan. Jika dibandingkan tahun per tahun, kemarau tahun 1997 dan 2015 masih jauh lebih ekstrem. Namun pada tahun ini memang diprediksi lebih kering dibandingkan tahun 2023.
Kondisi ini terjadi dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang muncul pada akhir April hingga awal Mei mendatang. Fenomena itu akan berpengaruh pada berkurangnya intensitas curah hujan di wilayah Indonesia.
"Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino, bukan gitu ya," tuturnya.
"Karena kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya El Nino, sehingga curah hujannya relatif lebih sedikit. Saat ini intensitas El Nino masih dalam kategori lemah, sambungnya.
(agn/fik)