Advertisement

5 Gaya Parenting Ma di Film 'Na Willa' yang Bisa Ditiru

Astrid Riyani Atmaja | Insertlive
Na Willa (2026)
5 Gaya Parenting Mak di Film 'Na Willa' yang Bisa Ditiru (Foto: Dok. Visinema Pictures)
Jakarta -

5 Gaya Parenting Ma di Film 'Na Willa' yang Bisa Ditiru

Na Willa telah menjadi tontonan keluarga yang hangat dan memiliki banyak nilai penting. Film yang telah mewarnai layar kaca Indonesia sejak 18 Maret 2026 ini menyuguhkan kisah mendalam tentang kehidupan seorang anak perempuan bernama Na Willa dalam melihat dan memahami dunia sekitarnya.

Di samping visualnya yang memanjakan mata, film ini juga menonjolkan gaya parenting yang dinilai sangat suportif dan cocok untuk diadopsi oleh keluarga modern. Kehangatan hubungan antara karakter Na Willa dan Ma yang tersaji memberi gambaran pola asuh yang mengedepankan kedekatan emosional dan keterbukaan.

Berikut 5 gaya parenting ala Ma di film Na Willa yang bisa menjadi inspirasi para orang tua dalam membangun kedekatan dengan buah hati.


1. Mendukung Rasa Ingin Tahu Anak

Karakter Na Willa digambarkan sebagai anak yang tak pernah lelah mengeksplorasi dunia lewat rentetan pertanyaan lugunya. Rasa ingin tahunya yang tinggi membantunya memahami sekitar, mulai dari dinamika keluarga yang kompleks hingga pertemanan. Ia perlahan belajar menafsirkan setiap situasi yang dilihat dan dirasakan.

Advertisement

Jika dilihat dari sudut pandang psikologis, dorongan besar untuk memahami dunia termasuk dalam proses belajar alami yang mendukung tumbuh kembang anak. Di sini, peran orang tua sangat penting untuk memberikan ruang eksplorasi seluas mungkin tanpa batasan. Orang tua sebaiknya selalu hadir untuk memberikan arahan supaya si kecil bisa belajar secara optimal.

2. Menumbuhkan Sikap Kritis pada Anak

Rasa ingin tahu yang besar pada karakter Na Willa adalah cerminan dari daya pikir kritis yang mulai tumbuh. Kemampuan tersebut sangat penting untuk mendukung proses belajar anak karena akan berusaha untuk memahami informasi yang diterima secara mendalam.

Kisah Na Willa yang begitu hangat sebenarnya juga menegaskan pentingnya rasa ingin tahu si kecil dalam proses belajar dan tumbuh kembang. Sebaiknya, orang tua tidak mengabaikan setiap pertanyaan dari anak dan menanggapinya dengan serius. Langkah ini sangat berperan penting untuk membangun cara berpikir yang komprehensif pada buah hati.


3. Dorongan Orang Tua untuk Belajar

Dunia parenting adalah ruang belajar dua arah. Jadi, bukan hanya anak saja yang belajar. Orang tua pun dituntut untuk memahami setiap proses pertumbuhan agar bisa menyeimbangkan dengan kemampuan si kecil.

Ketika orang tua bisa mengevaluasi diri dan memahami perspektif si anak, mereka dapat menjadi agen pendidik sekaligus sahabat belajar yang suportif bagi anak. Proses belajar seperti inilah yang pada akhirnya akan menciptakan ruang aman bagi anak untuk berekspresi tanpa rasa takut.

4. Menerapkan Pola Parenting Authoritative

Pola parenting authoritative adalah gaya pengasuhan seimbang yang menggabungkan kehangatan dengan ketegasan. Gaya parenting tersebut diimplementasikan secara apik melalui hubungan anak dan orang tua oleh karakter Willa dan Ma yang begitu hangat. Di film ini, karakter Ma membesarkan putri semata wayangnya itu dengan authoritative parenting.

Melalui pendekatan ini, orang tua dapat merajut kedekatan emosional yang hangat dan tetap dengan aturan yang jelas dan tegas. Gaya parenting seperti ini dinilai mampu memberi dampak yang cukup signifikan pada anak dalam memahami batasan tanpa mengabaikan emosinya.

5. Membangun Kedekatan Emosional dengan Anak

Fondasi terpenting dalam perjalanan tumbuh kembang Na Willa di usia 6 tahun adalah kedekatan emosional yang terjalin bersama orang tuanya. Meski karakter Pa tidak hadir secara fisik, kehadiran Ma yang selalu ada di sisi Na Willa dapat mengisi kekosongan tersebut.

Dalam keseharian bersama Na Willa, membuktikan bahwa kehadiran orang tua untuk selalu mendengarkan setiap celoteh kecil dan memberikan validasi atas perasaan anak adalah cara paling sederhana untuk membangun rasa percaya diri. Ketika anak merasa aman secara emosional, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka dan memiliki resiliensi yang kuat dalam menghadapi dunia di luarnya.



(Astrid Riyani Atmaja/fik)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement