5 Surat Al-Qur'an yang Peringatkan soal Kebiasaan Doyan Flexing
Perkembangan teknologi yang canggih membuat aktivitas ikut berubah. Segala hal aktivitas serta gaya hidup mulai dipertontonkan secara sadar dan terbuka di publik.
Hal tersebut bisa menjadi salah satu cara membuka energi positif tetapi di lain hal justru membuat banyak yang bertanya apa tujuan dari memamerkan gaya hidup kemewahan atau flexing?
Dari ajaran Islam, secara tegas melarang perilaku pamer (flexing) atau riya yang didorong oleh kesombongan dan keinginan dipuji, karena dapat merusak keikhlasan ibadah dan menimbulkan penyakit hati. Konsep flexing sama dengan riya.
Dalam Al-Qur'an, sudah ada lima surat yang memberi peringatan soal orang doyan flexing.
1. Al-Baqarah: 264
Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ lā tubṭilụ ṣadaqātikum bil-manni wal-ażā kallażī yunfiqu mālahụ ri`ā`an-nāsi wa lā yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhir, fa maṡaluhụ kamaṡali ṣafwānin 'alaihi turābun fa aṣābahụ wābilun fa tarakahụ ṣaldā, lā yaqdirụna 'alā syai`im mimmā kasabụ, wallāhu lā yahdil-qaumal-kāfirīn
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
Dalam QS. Al-Baqarah: 264, Allah menjelaskan bahwa kalau kita sedekah lalu diungkit-ungkit, dipamerkan, atau niatnya cuma supaya dipuji orang, maka pahala sedekah itu bisa hilang.
Ibarat debu di atas batu yang kena hujan deras, semua kebaikan itu tersapu habis dan tidak tersisa apa-apa. Intinya, kalau tidak ikhlas dan hanya cari pengakuan manusia, amal yang terlihat baik bisa jadi sia-sia di sisi Allah.
2. Al-Ma'un: 4-6
Arab latin: fa wailul lil-mushallîn
Artinya: Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat.
Arab latin: alladzîna hum 'an shalâtihim sâhûn
Artinya: (yaitu) yang lalai terhadap salatnya.
Arab latin: alladzîna hum yurâ'ûn
Artinya: yang berbuat riya.
Surah Al-Mau'un: 4-6, menjelaskan bahwa Allah memperingatkan orang yang salat tapi hatinya lalai dan melakukannya karena ingin dilihat atau dipuji orang lain. Artinya, meskipun secara luar terlihat rajin ibadah, kalau niatnya buat pamer atau cari pengakuan, ibadah itu bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.
3. An-Nisa: 38
Arab latin: Walladzîna yunfiqûna amwâlahum ri'â'an-nâsi wa lâ yu'minûna billâhi wa lâ bil-yaumil-âkhir, wa may yakunisy-syaithânu lahû qarînan fa sâ'a qarînâ.
Artinya: (Allah juga tidak menyukai) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada orang (lain) dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Akhir. Siapa yang menjadikan setan sebagai temannya, (ketahuilah bahwa) dia adalah seburuk-buruk teman.
Surah An-Nisa ayat 38 menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang yang mengeluarkan hartanya hanya untuk pamer atau supaya dipuji orang lain.
4. An-Nisa: 142
Arab latin: innal-munâfiqîna yukhâdi'ûnallâha wa huwa khâdi'ûhum, wa idzâ qâmû ilash-shalâti qâmû kusâlâ yurâ'ûnan-nâsa wa lâ yadzkurûnallâha illâ qalîlâ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.
Surah An-Nisa' ayat 142 menjelaskan ciri orang munafik, mereka beribadah bukan karena iman, tapi sekadar ingin terlihat baik di depan manusia. Saat salat pun dilakukan dengan malas dan niatnya untuk pamer.
5. Al-Anfal: 47
Arab latin: wa lâ takûnû kalladzîna kharajû min diyârihim batharaw wa ri'â'an-nâsi wa yashuddûna 'an sabîlillâh, wallâhu bimâ ya'malûna muḫîth
Artinya: Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.
Surah Al-Anfal: 47 mengingatkan agar kita tidak bersikap sombong dan melakukan sesuatu hanya untuk pamer atau ingin dipuji orang lain. Setiap tindakan yang dilandasi kesombongan dan keinginan untuk pengakuan bukanlah sikap yang diridhai Allah, karena Allah mengetahui apa pun yang tersembunyi di balik perbuatan manusia.
(dis/fik)