Kebiasaan Buruk Gen Z yang Sebabkan Penyakit
Gaya hidup Gen Z sering kali lekat dengan kepraktisan, mobilitas tinggi, dan kedekatan dengan teknologi. Dari bekerja di kafe hingga aktif di media sosial, banyak kebiasaan yang terlihat wajar dan bahkan menyenangkan. Namun di balik itu, ada pola hidup yang tanpa disadari berisiko bagi kesehatan, baik fisik maupun mental.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat bahwa sekitar 70% penyakit kronis pada usia dewasa muda berkaitan erat dengan gaya hidup tidak sehat. Artinya, kebiasaan yang dilakukan sejak usia muda dapat berdampak panjang di kemudian hari. Berikut sejumlah kebiasaan Gen Z yang kerap dianggap sepele, tetapi berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan.
1. Nongkrong Estetik / Cafe Hopping
Tren nongkrong di kafe sambil bekerja atau sekadar berbincang sudah menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z. Minuman favoritnya pun hampir selalu kopi susu dengan berbagai varian rasa. Di balik rasanya yang nikmat, minuman ini ternyata menyimpan kadar gula dan kalori yang cukup tinggi.
Jika dikonsumsi terlalu sering tanpa kontrol, kopi susu bisa meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, terlebih lagi jika dikombinasikan dengan kebiasaan duduk lama dan minim aktivitas fisik. Sesekali menikmati kopi susu tentu tidak masalah, namun perlu diimbangi dengan pola makan dan gaya hidup yang lebih seimbang.
2. Screen Time Berlebihan
Media sosial sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian Gen Z. Scrolling berjam-jam, termasuk kebiasaan doomscrolling, sering dilakukan tanpa sadar. Paparan layar yang berlebihan dapat menyebabkan mata lelah, sakit kepala, hingga gangguan tidur.
Tak hanya itu, terlalu lama menatap layar juga berpengaruh pada kesehatan mental. Rasa cemas, mudah terdistraksi, hingga penurunan kualitas fokus menjadi dampak yang kerap muncul. Membatasi waktu layar dan memberi jeda dari gawai menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental.
3. Begadang Demi Hiburan dan Game
Maraton menonton serial atau bermain game hingga larut malam sudah menjadi kebiasaan yang lumrah. Dorongan untuk tidak ketinggalan tren atau FOMO ini membuat waktu tidur gen Z kerap dikorbankan.
Kurang tidur dalam jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh, mengganggu konsentrasi, serta meningkatkan risiko penyakit kronis. Pola tidur yang berantakan juga berdampak pada suasana hati dan produktivitas sehari-hari.
4. Gaya Hidup Fast Fashion yang Konsumtif
Tren fast fashion dikenal menawarkan pakaian dengan desain menarik, cepat mengikuti tren, dan harga yang terasa ramah di kantong. Tak heran jika banyak orang tergoda untuk membeli pakaian baru hanya karena sedang viral atau diskon besar-besaran. Namun di balik tampilannya yang stylish, kualitas bahan fast fashion sering kali berada di bawah standar.
Penggunaan bahan sintetis berkualitas rendah dapat memicu berbagai masalah kesehatan kulit, mulai dari iritasi, gatal, hingga alergi, terutama jika dipakai dalam waktu lama atau saat cuaca panas. Selain itu, proses produksi fast fashion yang masif juga kerap melibatkan bahan kimia tertentu yang kurang ramah bagi kulit sensitif.
Tak hanya berdampak secara fisik, kebiasaan belanja pakaian secara berlebihan juga mendorong pola hidup konsumtif dan impulsif. Siklus tren yang cepat membuat pakaian mudah terasa usang meski baru dipakai beberapa kali. Di sisi lain, industri fast fashion turut menyumbang limbah tekstil dan pencemaran lingkungan dalam jumlah besar. Kebiasaan ini bisa mulai dikurangi dengan memilih pakaian berbahan lebih aman, nyaman, dan tahan lama, serta membeli sesuai kebutuhan agar tetap stylish tanpa mengorbankan kesehatan dan lingkungan.
5. Tekanan Sosial dari Media Sosial
Gen Z kerap dipuji sebagai generasi yang lebih terbuka membicarakan kesehatan mental. Namun di sisi lain, media sosial justru menjadi sumber tekanan yang tak selalu disadari. Paparan konten tentang pencapaian, transformasi penampilan, hingga gaya hidup ideal sering kali memicu kebiasaan membandingkan diri sendiri secara terus-menerus.
Paparan semacam ini dapat memicu overthinking, stres berkepanjangan, hingga rasa tidak cukup terhadap diri sendiri. Tanpa disadari, standar yang terbentuk di media sosial kerap bersifat semu dan tidak sepenuhnya mencerminkan realitas. Karena itu, menyaring konten yang dikonsumsi, membatasi waktu bermain media sosial, serta memberi ruang jeda bagi diri sendiri menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental tetap stabil.
6. Ketergantungan pada Makanan Viral
Dunia kuliner viral selalu berhasil menarik perhatian Gen Z. Mulai dari croffle, minuman boba, hingga berbagai makanan manis dan tinggi lemak, semuanya ingin dicoba. Sayangnya, makanan viral sering kali mengandung gula, lemak jenuh, dan kalori yang tinggi.
Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko kolesterol, obesitas, hingga diabetes. Selain itu, paparan konten makanan di media sosial juga berpengaruh pada pola makan yang kurang sehat dan citra tubuh. Menikmati makanan viral sesekali boleh saja, tetapi tetap perlu diimbangi dengan asupan bergizi dan pola makanan yang lebih seimbang.
Itulah sejumlah kebiasaan yang kerap dilakukan Gen Z tanpa disadari dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental. Dengan mengenali risikonya sejak dini, perubahan kecil dalam gaya hidup bisa menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
(Steffy Gracia/fik)