Advertisement

Pesan Quraish Shihab soal Bahaya Membuka Aib Orang

Astrid Riyani Atmaja | Insertlive
quraish shihab
Pesan Quraish Shihab soal Bahaya Membuka Aib Orang (Foto: YouTube Pusat Studi Al-Quran)
Jakarta -

Penggunaan media sosial yang semakin masif telah menciptakan budaya baru yang mengubah tingkah laku publik dalam berinteraksi. Salah satu fenomena yang kerap ditemui di tengah masyarakat digital adalah cancel culture, yakni tindakan pengucilan massal terhadap seseorang atau kelompok yang dianggap telah merugikan dan melanggar norma sosial.

Aksi cancel culture sebenarnya merupakan bentuk sanksi sosial digital terhadap seseorang yang telah melakukan kesalahan. Cara kerjanya adalah dengan mengekspos kelakuan buruk pelaku yang kemudian diikuti dengan aksi boikot massal terhadap orang tersebut.

Namun dalam praktiknya, fenomena ini sering kali mengekspos sisi negatif seseorang yang tuduhannya belum terbukti. Cancel culture tentunya akan memberi dampak yang besar kepada pihak yang menjadi sasaran karena keburukannya telah terlanjur diketahui banyak orang.

Pakar Tafsir sekaligus Pendiri Pusat Studi Al-Quran (PSQ), Prof. M. Quraish Shihab membagikan pandangannya terhadap fenomena tersebut. Menurutnya, rasa waspada dan curiga kini sudah tidak ada batasnya.

Advertisement

"Banyak orang merasa memiliki hak untuk menghakimi sesama hanya berdasarkan informasi yang belum mencapai derajat keyakinan penuh atau haqqul yaqin," ucapnya dalam Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Quran yang berjudul Berbaik Sangka Diantara Curiga lewat akun YouTube Pusat Studi Al-Quran pada Senin (23/2).

Ia menjelaskan bahwa ajaran Islam memiliki beberapa tingkatan dugaan yang perlu dicermati guna menghindari manusia dari kekhilafan. Dimulai dari waham (praduga tak berdasar), syak (dugaan yang memiliki dua kemungkinan), hingga dzon (dugaan yang punya dasar tetapi belum bisa dibuktikan kebenarannya).

Prof Quraish lebih lanjut menyorotkan perhatiannya terhadap fenomena masyarakat yang kerap mengambil kesimpulan tanpa memertimbangkan fakta yang ada.

"Hindarilah banyak dzon/dugaan/sangkaan karena banyak dari sangkaan itu yang tidak benar. Jangan cari tahu kesalahan orang. Kalau mencari tahu saja dilarang apalagi membuka kesalahan orang. Mencari tahu itu belum tentu benar atau tidak," tegasnya.

Dengan merujuk pada salah satu ayat di Al-Quran, Prof Quraish menekankan pentingnya menjaga privasi seseorang dengan tidak membeberkan aib atau indikasi kesalahan orang lain.

"Kalaupun anda sudah mengetahui kesalahan seseorang, jangan menyampaikan kesalahan itu kecuali pada tempatnya."

Untuk menyikapi fenomena tersebut, Prof Quraish berpesan untuk selalu berprasangka baik, tetapi tetap dibarengi dengan kehati-hatian. Menurutnya, manusia masih bisa menahan diri sebelum melayangkan penilaian buruk atas dugaan terhadap orang lain.

"Kita harus berhati-hati dalam menetapkan. Dalam konteks ini, kita harus punya batas-batas. Kalau sudah begini, baru begini. Tapi hubungan tetap baik, walaupun saya hati-hati. Jadi ada tolak ukur. Kita tetap senyum sama dia," ujarnya.

Prof Quraish juga menekankan pentingnya untuk selalu mawas diri alih-alih terpaku pada aib orang lain. Sebab, bisa saja aib kita ternyata lebih besar daripada orang yang diumbar aibnya.

(asr/KHS)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement