Arti Enabler yang Dibahas Dokter Tirta dalam Kasus Mohan Hazian
Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama Mohan Hazian, pemilik brand fashion Thanksinsomnia, menjadi perhatian publik sejak awal Februari 2026. Dokter Tirta turut menyoroti kasus ini melalui akun X miliknya, @tirta_cipeng.
Dalam unggahannya, Dokter Tirta mengkritik Mohan serta lingkaran pertemanannya yang dianggap bersikap netral. Menurutnya, sikap tersebut justru bisa membuat lingkungan yang melindungi pelaku.
"Intinya circle Mohan bawa-bawa kasus Gofar sebagai alasan mereka netral. Udah kujelasin, kena (kasus pelecehan) stay with victim (percaya pada korban) dulu. Ya tetap ngeyel," tulis Dokter Tirta.
"Circle dia rata-rata ya owner brand lokal dan influencer skena fashion. Ini yang jadi masalah. Kesannya owner-owner brand lokal jadi enabler," katanya menambahkan.
Dokter Tirta menilai, dalam kasus kekerasan seksual, sikap yang seharusnya diutamakan adalah mendukung korban terlebih dahulu, bukan langsung bersikap netral atau membela pelaku tanpa bukti. Ia juga mengkritik klarifikasi Mohan yang dianggap lambat dan kurang jelas, padahal tuduhan datang dari lebih dari satu korban.
Apa Itu Enabler?
Secara umum, enabler adalah istilah yang merujuk pada orang atau kelompok yang secara tidak langsung mendukung perilaku buruk seseorang, misalnya dengan memilih diam, bersikap netral, atau membenarkan tindakan tersebut. Sikap seperti ini dapat membuat pelaku merasa aman karena tidak mendapatkan konsekuensi sosial.
Dalam kasus kekerasan seksual, enabler bisa saja teman, keluarga, atau rekan kerja yang lebih memilih menunggu bukti tanpa menunjukkan dukungan kepada korban. Akibatnya, korban merasa sendirian, sementara pelaku merasa dilindungi.
Dokter Tirta menilai sikap lingkaran pertemanan Mohan yang cenderung diam atau netral memberi kesan perlindungan terhadap pelaku. "Kesannya owner-owner brand lokal jadi enabler," ujarnya, karena dinilai lebih khawatir kehilangan relasi bisnis dibandingkan mendukung korban.
Kasus ini juga menimbulkan dampak luas, termasuk beberapa pihak yang memutus kerja sama dengan Mohan, sementara sebagian lainnya memilih tidak bersuara. Situasi seperti ini kembali memunculkan pentingnya budaya percaya pada korban terlebih dahulu dalam penanganan kasus kekerasan seksual.
Kronologi Singkat Kasus Mohan Hazian
Kasus ini bermula dari unggahan seorang perempuan berinisial Saa di platform X pada 8 Februari 2026. Ia mengaku mengalami tindakan tidak menyenangkan saat menjadi talent photoshoot pada Mei 2025. Menurut pengakuannya, ia diajak ke rumah Mohan dengan alasan diskusi pekerjaan, namun justru mengalami pelecehan, mulai dari rayuan, paksaan berciuman, hingga tindakan masturbasi di depannya.
Setelah itu, muncul korban lain dengan cerita serupa yang memperkuat tuduhan tersebut. Mohan Hazian kemudian membantah melalui video klarifikasi di Instagram Story, tetapi responsnya menuai kritik karena dianggap tidak tulus dan dinilai menyalahkan korban.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam mendukung korban dan memastikan setiap dugaan kekerasan seksual ditangani secara serius dan adil.
(yoa/fik)