Home Hot Gossip Berita Hot Gossip

Cerita Cinta Laura Blusukan ke Asmat: Disambut Kehangatan, Dihantam Kenyataan

Insertlive | Insertlive
Senin, 17 Nov 2025 22:15 WIB
Cerita Cinta Laura Blusukan ke Asmat: Disambut Kehangatan, Dihantam Kenyataan / Foto: Marianus Harmita
Jakarta, Insertlive -

Cinta Laura membagikan pengalaman mendalam setelah melakukan perjalanan panjang menuju Asmat, Papua.

Kunjungan ke wilayah Asmat itu semakin membuka mata Cinta tentang realitas kehidupan masyarakat di Indonesia Timur.

Ia mengunjungi beberapa desa yang hanya bisa dijangkau dengan perahu karena tidak memiliki akses jalan darat.


Cinta menjelaskan bahwa perjalanan tersebut membutuhkan rute berlapis, mulai dari Jakarta, kemudian transit ke Makassar, berlanjut ke Timika, hingga mendarat di Ewer Airport.

Setelah itu, ia harus menumpang speedboat untuk bisa mencapai desa-desa terpencil.

"Tahun ini ke Asmat, Papua. Perjalanan panjang: Jakarta-Makassar-Timika-Ewer Airport, lanjut naik speedboat karena desa-desa nggak ada akses mobil," kata Cinta.

Selama tinggal di pedalaman, Cinta menyadari betapa masyarakat setempat hidup dengan kondisi terbatas.

Ia melihat langsung bagaimana warga sangat bergantung pada air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari minum, masak, hingga mandi.

"Pengalaman tinggal di pedalaman bikin makin bersyukur karena masyarakat sangat bergantung pada air hujan untuk minum, masak, dan mandi," ujarnya.

Cinta berharap pemerintah dan lembaga besar dapat lebih memperhatikan wilayah Indonesia Timur.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya tentang Jawa atau kota-kota besar, tetapi juga daerah-daerah terpencil yang masih membutuhkan bantuan nyata.

"Harapannya pemerintah dan institusi besar lebih perhatikan Indonesia Timur, karena Indonesia bukan cuma Jawa atau pulau-pulau besar lainnya," tegasnya.

Selama blusukan, Cinta banyak melihat ketimpangan yang membuatnya semakin ingin berkontribusi.

Ia merasa kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat luas menjadi kunci untuk membawa perubahan jangka panjang.

"Blusukan ke Asmat bikin aku sadar masih banyak daerah yang perlu kolaborasi bantuan dari pemerintah, komunitas, dan individu," jelasnya.

Salah satu momen yang paling membekas baginya terjadi saat ia mengunjungi Posyandu di Desa Akat.

Ia melihat ruangan kecil yang panas, dipadati ibu dan anak yang menunggu imunisasi dan pemeriksaan kesehatan dengan sabar.

"Momen paling bikin sedih tuh pas kunjungan ke Posyandu di desa Akat, itu ruangan panas, kecil, ibu-anak berdesakan tapi tetap sabar nunggu imunisasi dan pengecekan kesehatan," kata Cinta.

Namun cerita yang paling menusuk hatinya justru terjadi saat ia memasak sagu bakar bersama anak-anak sekolah dasar.

Ia mengetahui bahwa satu keluarga hanya memiliki enam ekor udang untuk tujuh orang.

Hal yang membuatnya terharu adalah ketika sang ayah memberikan udang tersebut kepadanya karena menganggapnya sebagai tamu.

"Cerita yang paling ngena, waktu masak sagu bakar bareng anak SD. Keluarga itu cuma punya 6 udang untuk 7 orang, tapi ayahnya ngasih ke aku dulu karena dianggap tamu. Bapaknya bilang dia cukup makan kepala udang. Aku baru ngasih balik setelah bilang dia sudah makan," ungkapnya.

Cinta mengatakan bahwa masyarakat Papua memiliki kehangatan yang sulit ia temukan di tempat lain. Menurutnya, masyarakat di sana sangat tulus, rendah hati, dan ramah kepada orang luar.

"Orang Papua sangat tulus, rendah hati, dan welcoming, makanya Papua jadi tempat favorit aku di Indonesia," ujarnya.

Setelah mengalami langsung kondisi Asmat, Cinta bertekad untuk terus melakukan aksi sosial di Papua.

Jika karier dan rezekinya berjalan baik, ia ingin membangun program jangka panjang agar dampaknya dapat dirasakan masyarakat dalam waktu lama.

"Ke depan, kalau rezeki dan kariernya terus baik, aku mau lebih banyak bikin aksi sosial jangka panjang untuk Papua," tutupnya.

(ikh/ikh)
VIDEO TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT



FOTO TERKAIT
POPULER
DETIKNETWORK