Sepenggal Kisah Warga yang Bertahan di Kampung Mati 'Blok Tarikolot'
Blok Tarikolot desa Sidamukti menjadi 'kampung mati' yang ditinggalkan oleh warga penghuninya. Desa yang berada di daerah Majalengka, Jawa Barat, itu dihantam bencana tanah longsor pada 2006 silam.
Banyak rumah warga yang kini hancur terbengkalai karena tak lagi dihuni. Bahkan ilalang yang tumbuh liar juga menambah suasana mencekam di Blok Tarikolot desa Sidamukti.
Tim In-Depth InserLive berusaha untuk menyusuri rumah warga di Blok Tarikolot yang kini sunyi. Salah satu rumah warga bahkan ada yang lantainya sudah tertimbun tanah.
Tim kemudian menemui Herlina salah seorang warga yang pernah tinggal di Blok Tarikolot. Herlina masih ingat betul detik-detik ketika bencana menghantam permukiman warga.
Herlina pun mengajak tim untuk mengunjungi rumah miliknya yang sudah porak-poranda. Momen ini menjadi pilu ketika Herlina menemukan foto sang suami yang masih terbingkai rapi di dinding rumahnya.
Herlina bersama 253 kepala keluarga terpaksa mengungsi demi keselamatan jiwa. Mereka kini memilih tinggal di Blok Buahlega dan bertahan hidup di sana sejak 2011.
"Ini foto suami saya kebetulan kerja di dinas kehutanan. Soalnya waktu kejadian jam sekitar 7 malam, itu tahun 2006 kejadiannya. Kami direlokasikan 2009. 2011 awal udah pindah ke Buahlega," ungkap Herlina kepada tim In-Depth, Senin (12/4).
Tak hanya Herlina yang menyimpan kisah pilu soal kehilangan kempung halaman. Herman juga punya memori indah ketika masih bisa tinggal di Blok Tarikolot bersama warga lainnya. Salah satu momen yang masih diingat Herman adalah ketika menonton TV bersama anak-anak.
"Di sini dulu tempat nonton TV hampir tiap sore. Di sini nonton bersama anak-anak," ungkap Herman.
Herman juga cerita soal suasana kekeluargaan yang ada di Blok Tarikolot. Herman sempat menunjukkan rumah mewah milik salah seorang warga yang dulu sering dijadikan tempat berkumpul.
"Ini rumah bagus punya Pak Haji Jengko. Seringlah dulu di sini, sering bermain anak-anak di lapangan bulutangkis, olahraga, hampir setiap sore kegiatan ramai disini. Ada orangnya, selalu ada aktivitasnya, dari pagi sampai sore juga ramai. Anak-anak sekolah atau jalan ke situ," cerita Herman.
Tim In-Depth lantas kembali menyusuri permukiman warga lainnya yang ada di Blok Tarikolot. Namun Herman secara mengejutkan mengaku masih tinggal di sana.
Pengakuan itu membuat Tim In-Depth penasaran dengan alasan Herman masih bertahan di Blok Tarikolot. Tim lantas menemukan fakta bahwa masih ada sekitar 45 kepala keluarga yang memilih bertahan di kampung mati tersebut.
Herman dan warga lainnya yang memilih bertahan di Blok Tarikolot terpaksa menerawang di tengah kegelapan ketika malam hari tiba. Malam yang gelap juga terasa semakin mencekam dengan suasana sunyi Blok Tarikolot.
"Masih ada beberapa. Kalau alasan bapak bertahan di sini karena masih betah, enakan di sini lah, adem, dekat dengan kebun. Tapi kalau hujan takut juga. Kalau malam kegiatannya kurang cahaya juga. Berkumpul siskamling sana, rumahnya yang ini tapi listrik masih ada. Ini di depan udah kosong, banyak yang kosong dan gelap, dibetahin aja," ungkap Herman.
Tim lantas berusaha menyusuri kembali kawasan Blok Tarikolot saat malam hari untuk menemui warga lain yang masih bertahan di Blok Tarikolot dengan kondisi tanpa penerangan.
Tim pun berhasil menemui salah seorang warga bernama Ajit yang berkenan berbagi cerita soal Blok Torikolot. Bahkan Ajit yang tinggal bersama sang kakek mempersilakan tim In-Depth untuk menginap semalam.
Keesokan harinya tim bersama Ajit mengunjungi perkebunan milik warga Blok Tarikolot. Sepanjang perjalanan Ajit cerita bahwa mayoritas warga Blok Tarikolot adalah petani mangga.
Banyak warga yang memilih bertahan di Blok Tarikolot karena dekat dengan lokasi kebun. Selain itu sebagian warga juga ada yang memilih tinggal sementara di Blok Tarikolot hanya untuk bertani dan kemudian pulang ke Blok Buah Lega begitu selesai.
Namun tim juga mengunjungi warga yang kini sudah pindah ke Blok Buahlega. Kondisi rumah warga di tempat relokasi itu lebih layak huni. Para warga pun merasa lebih aman dan tenang meski terpaksa meninggalkan Blok Tarikolot yang punya banyak kenangan.