Advertisement

Raja Charles Punya Protokol Khusus Saat Bertemu Pangeran Harry, Ada Saksi di Dalam Ruangan

Yogi Alfian | Insertlive
Raja Charles III
Raja Charles Punya Protokol Khusus Saat Bertemu Pangeran Harry, Ada Saksi di Dalam Ruangan (Foto: Instagram @theroyalfamily)
Jakarta -

Rencana pertemuan Raja Charles III dengan Pangeran Harry kembali menjadi perhatian publik. Di tengah kabar keduanya akan bertemu di Inggris dalam waktu dekat, muncul laporan bahwa Istana Buckingham memiliki protokol khusus setiap kali ayah dan anak itu bertemu.

Protokol tersebut diklaim diterapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan selama pertemuan berlangsung. Mulai dari kehadiran saksi di dalam ruangan hingga skenario mengakhiri pembicaraan jika situasi mulai dianggap tidak nyaman.

Pengamat keluarga Kerajaan Inggris, Kinsey Schofield, mengatakan Raja Charles bersama para pejabat istana telah menyiapkan strategi khusus dalam setiap interaksi dengan Pangeran Harry.

"Raja beserta para pejabat istana telah menyusun strategi dengan cermat mengenai cara berinteraksi dengan Pangeran Harry, termasuk memastikan ada saksi yang hadir secara tidak mencolok di dalam ruangan," kata Kinsey Schofield, seperti dikutip dari Page Six, Senin (6/7).

Advertisement

Menurut Schofield, sekretaris pribadi Raja Charles selalu bersiaga selama pertemuan berlangsung. Jika pembicaraan mulai mengarah ke topik sensitif atau muncul permintaan yang sulit dipenuhi, sekretaris akan mencari alasan agar pertemuan segera diakhiri.

"Sekretaris pribadi Raja juga diketahui selalu bersiaga dan siap turun tangan apabila percakapan menjadi tidak nyaman atau muncul permintaan yang sulit. Mereka akan mengakhiri pertemuan dengan mengingatkan Raja bahwa agenda berikutnya memerlukan waktu perjalanan tambahan sehingga beliau harus segera pergi," ujarnya.

Tak hanya itu, staf yang menyajikan teh pun disebut memiliki peran dalam protokol tersebut.

"Selama pertemuan berlangsung, pelayan atau kepala pelayan yang menyajikan teh juga sengaja berada di ruangan lebih lama, alih-alih langsung meninggalkannya," lanjut Schofield.

Ia mengungkapkan, pola seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Protokol serupa sudah diterapkan sejak masa Ratu Elizabeth II dan terus digunakan hingga sekarang.

"Para ajudan istana atau sahabat terpercaya kerap hadir dalam pertemuan maupun percakapan telepon sebagai saksi sekaligus memberikan dukungan jika diperlukan," klaim Schofield mengenai kebiasaan yang diterapkan semasa Ratu Elizabeth II.

Schofield menilai pendekatan Istana Buckingham terhadap Pangeran Harry kini lebih mengutamakan perlindungan terhadap institusi kerajaan dibanding menjaga hubungan keluarga.

"Istana Buckingham kini memandang setiap interaksi dengan Pangeran Harry dari sudut pandang melindungi institusi kerajaan, bukan lagi menjaga hubungan keluarga," katanya.

Ia menyebut perubahan sikap itu terjadi setelah Harry dan Meghan Markle memutuskan mundur sebagai anggota senior keluarga kerajaan pada 2020. Sejak saat itu, hubungan keduanya dengan keluarga kerajaan disebut terus mengalami ketegangan.

"Hal itu mungkin terdengar menyedihkan bagi sebagian orang, tetapi dari sudut pandang istana, berbagai peristiwa dalam beberapa tahun terakhir membuat mereka percaya banyak keputusan Harry pada akhirnya lebih menguntungkan kepentingannya sendiri daripada keluarganya," ujar Schofield.

"Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan tersebut, itulah kenyataan yang kini menjadi dasar bagaimana mereka mengelola hubungan ini."

Schofield juga menepis kabar yang menyebut Ratu Camilla ingin selalu berada di sisi Raja Charles saat bertemu Harry.

"Sejauh yang saya ketahui, Ratu Camilla tidak terlalu berminat berinteraksi dengan Harry maupun Meghan. Ia akan mendukung Raja jika diminta, tetapi tidak melihat adanya manfaat untuk kembali membuka persoalan lama," katanya.

Menurut sejumlah sumber, di lingkungan kerajaan berkembang keyakinan bahwa setiap komunikasi dengan Harry dan Meghan Markle sering kali berujung pada munculnya informasi baru di ruang publik. Kondisi tersebut membuat kepercayaan di antara kedua belah pihak semakin sulit dipulihkan.

Sebelumnya, Pangeran Harry pernah mengungkapkan bahwa dinamika keluarga yang rumit serta persoalan rasisme menjadi alasan utama dirinya dan Meghan Markle memilih meninggalkan Inggris.

"Pengalaman di masa lalu membuat istana memilih bersikap hati-hati terhadap setiap usulan pertemuan. Charles telah menunjukkan bahwa ia bersedia menjaga jarak ketika pembicaraan mulai berfokus pada uang atau persoalan keluarga yang sensitif," ujar Schofield.

Ia juga membantah anggapan bahwa Raja Charles membutuhkan Ratu Camilla untuk melindunginya saat bertemu Harry.

"Gagasan bahwa ia membutuhkan Ratu Camilla untuk melindunginya dari putra bungsunya sendiri tidak sejalan dengan keputusan-keputusan yang telah diambilnya selama beberapa tahun terakhir."

Hingga kini, Istana Buckingham belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.

Di tengah berbagai spekulasi, Raja Charles dan Pangeran Harry dikabarkan akan kembali bertemu di Inggris pada bulan depan. Pertemuan itu disebut menjadi salah satu upaya memperbaiki hubungan keduanya yang telah retak selama bertahun-tahun.

Harry dan Meghan Markle juga dikabarkan akan membawa kedua anak mereka, Pangeran Archie dan Putri Lilibet, untuk bertemu sang kakek. Namun, belum dipastikan apakah Meghan akan ikut dalam pertemuan keluarga tersebut.

Sebelumnya, Raja Charles disebut sangat antusias karena akan kembali bertemu Archie dan Lilibet. Pasalnya, keluarga Harry terakhir kali mengunjungi Inggris sekitar empat tahun lalu.

Menariknya, Harry dan Meghan juga telah mengonfirmasi akan menginap di salah satu kediaman resmi kerajaan selama berada di Inggris. Ini menjadi kali pertama pasangan tersebut menerima undangan menginap di akomodasi kerajaan setelah sebelumnya beberapa kali memilih menolak.

(yoa)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement