Pihak Yayasan Ungkap Kronologi Aduan ART Erin soal Dugaan Penganiayaan
Nia Damanik, pihak yayasan penyalur asisten rumah tangga (ART), akhirnya buka suara terkait dugaan penganiayaan yang dialami Hera, ART Rien Wartia Trigina, mantan istri Andre Taulany.
Dalam pengakuannya, Wati mengatakan Hera menghubunginya melalui pesan WhatsApp soal dugaan penganiayaan yang dilakukan Erin. Usai membaca pesan dari Hera, Nia pun memutuskan untuk menelepon untuk mendengarkan penjelasan lebih jelas.
"WA saya terus saya tanya 'Ada apa kok bisa dipukul?'. Terus saya telepon balik dong karena saya, 'Kok main tangan?'," beber Nia Damanik di Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Hera pun menceritakan secara detail kronologi dugaan penganiayaan yang dilakukan Erin. Hera mengaku dugaan penganiayaan itu terjadi akibat permasalahan yang sepele.
"Lalu saya telepon, 'Kenapa Neng? Kok bisa dipukul?' saya bilang kayak gitu. Katanya cuma gara-gara korden, lupa nutup korden, dan ada debu di tong sampah sedikit, sama lupa menutup kamar mandi. Hanya itu," ungkap Nia.
Mendengar pengakuan Hera, Nia mengaku heran dengan alasan penganiayaan tersebut. Bahkan, Hera sempat meminta agar Nia menjemput dirinya dari rumah Erin.
Namun sayang, tak berselang lama Hera tak dapat dihubungi lagi, karena ponselnya diambil.
"Kubilang, 'Cuma gara-gara itu kok kamu dipukul?' saya bilang kayak gitu. Nah, lalu sekitar jam setengah empatlah, setengah empat dia bilang, 'Saya dijemput aja,' gitu. Pada jam itu saya sudah tidak bisa menghubungi Hera lagi. Katanya HP-nya sudah ditarik," tuturnya.
Nia juga menanggapi soal pihak Erin yang menuding Hera kerap merekam isi rumahnya. Namun, Hera menegaskan bahwa tidak ada soal video maupun foto isi rumah Erin.
Nia pun menyinggung soal pengakuan Hera soal dirinya mendapatkan perkataan kasar dari Erin.
"Kalau terkait masalah foto, video rumah itu kita tidak tahu. Dari klien kita, keterangannya itu dia dikatakan bodoh, dia dikatakan gembel semua," ujarnya.
Sementara kuasa hukum lainnya, Ernes Hasibuan, menilai pengakuan dari pihak Erin justru seolah membenarkan adanya tindak penganiayaan.
"Nggak, lagi pula begini. Anggaplah itu benar. Justru karena, itu benar sehingga timbullah rasa kesal daripadanya kan begitu? Oleh karena kesal, marah, maka mungkin sekali untuk memukul, melakukan pemukulan. Jadi dalil kita, tuduhan kita, senyata-nyata makin mendekati kebenaran kan begitu kira-kira? Arahnya kan ke sana," jelas Ernes.
(kpr)