Vaksin Segera Datang, Wanita Korea Buru-buru Operasi Plastik, Kenapa?

SYAFRINA SYAAF - INSERTLIVE
Rabu, 06 Jan 2021 12:33 WIB
prosedur berbahaya operasi plastik di Korea Selatan
Jakarta, Insertlive -

Ryu Han Na, seorang mahasiswi berusia 20 tahunan menjalani operasi kosmetik memperbaiki bentuk hidung pada pertengahan Desember 2020.

Alasan Ryu sederhana, dia merasa akhir tahun 2020 menjadi kesempatan terakhir untuk menjalani operasi plastik sebelum pendistribusian vaksin.

Pasalnya, ketika sudah mendapatkan vaksin, orang-orang akan melepas masker begitu juga dengan Ryu.


Oleh karena itu, dia memilih mempercantik bentuk hidung sebelum harus melepas masker wajah saat vaksin telah diberikan secara merata.

Menjalani kursus online sepanjang 2020, menjadi momen tepat untuk Ryu memulihkan diri setelah operasi plastik tanpa harus bertemu banyak orang dan menarik perhatian.

"Aku selalu ingin melakukan operasi hidung. Aku pikir sekarang akan menjadi yang terbaik untuk eksekusi, sebelum orang mulai melepas masker ketika vaksin tersedia pada tahun 2021," kata Ryu yang merogoh 4,4 juta won atau Rp56 juta sebagai biaya operasi hidung.

Tak hanya Ryu, berdasarkan laporan Reuters, permintaan operasi plastik di Korea Selatan meningkat signifikan seiring ketersediaan vaksin corona yang semakin dekat.

Alasan akan segera melepas masker menjadi pemicu para wanita dan pria Korea Selatan untuk melakukan operasi plastik.

Korea Selatan telah menjadi pusat bedah plastik kosmetik bahkan sebelum dunia berada pada kondisi pandemi.

Industri operasi plastik diperkirakan mengalami kenaikan 9,2 persen setiap tahunnya. Pada 2020 telah memberikan penghasilan pada negara sebesar US$10,7 miliar atau lebih kurang Rp150 triliun.

Data dari Gangan Unni memperkirakan pada tahun 2021, industri operasi plastik akan menyentuh angka US$11,8 miliar.

Park Cheol Woo, seorang ahli bedah plastik di Klinik WooAhLn, mengatakan bahwa pada tahun 2020 mayoritas pasien bedah plastik lebih tertaik memperbaiki bentuk wajah yang tertutup masker wajah, mulai dari hidung dan bibir.

"Baik pertanyaan bedah dan non-bedah tentang mata, alis, batang hidung dan dahi - satu-satunya bagian yang terlihat - pasti meningkat," kata Park Cheol Wo yang bertanggung jawab mengoperasi hidung Ryu. 

Ahli bedah Shin Sang Ho membeberkan fakta menarik bahwa banyak warga Korea Selatan menghabiskan dana darurat dari pemerintah untuk operasi plastik.

Alhasil, pendapatan rumah sakit astetik dan klinik kecantikan meningkat pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2020.

"Saya merasa ini semacam pembalasan dendam. Saya merasakan bahwa pelanggan mengekspresikan emosi terpendam mereka (dari virus corona) dengan melakukan prosedur kosmetik," pungkas Shin.

Data pemerintah menunjukkan bahwa dari 14,2 triliun won (US$12,95 miliar) bantuan tunai pemerintah, 10,6 persen digunakan di rumah sakit dan apotek, segmen terbesar ketiga menurut klasifikasi adalah supermarket dan restoran, meskipun rincian jenis rumah sakit tidak diungkapkan.

Data Gangnam Unni menunjukkan pasien operasi plastik mengalami pelonjakan 63 persen pada 2020 dibanding 2019.

Pada 2020, setidaknya ada permintaan sebanyak 1 juta sesi konseling, dua kali lipat jumlah dari tahun sebelumnya.

Namun, bisnis operasi plastik Korea Selatan mengalami sedikit dampak negatif pada Desember 2020 dan awal Januari 2021 akibat jumlah kasus positif corona di Negara Ginseng meningkat pesat.

"Kami mendapatkan semakin banyak pembatalan dalam janji konsultasi baru-baru ini karena orang lebih banyak menahan diri untuk pergi keluar, terutama pelanggan dari pinggiran kota yang sebagian besar menunda operasi mereka hingga 2021," kata Park.

(syf/syf)
FOTO TERKAIT
KOMENTAR
ARTIKEL TERKAIT
detikNetwork
BACA JUGA
VIDEO
TERKAIT
POPULER