5 Tradisi Unik Hari Raya Idul Fitri di Indonesia
ikh |
Insertlive
Jakarta -
Namun ada juga tradisi unik menyambut lebaran yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tradisi itu sudah dilakukan turun temurun dan selalu dinanti setiap tahunnya.
Berikut ini sejumlah tradisi unik menyambut hari raya Idul Fitri dari berbagai daerah di Indonesia.
Masyarakat akan bermain meriam di sepanjang tepian sungai Kapuas. Jadi tak heran jika dentuman keras meriam akan terdengar saat malam Takbiran di kota Pontianak.
Meriam-meriam tersebut akan dihiasi dengan ornamen warna-warni dan bermotif khas adat Melayu. Tradisi ini sudah dilakukan turun temurun dan selalu dinanti oleh masyarakat Pontianak.
Para lelaki yang jadi perwakilan masing-masing desa akan saling bertarung dengan hanya menggunakan lidi dari pohon enau. Tradisi pertarungan ini akan dilakukan dalam waktu 30 menit saja. Tradisi ini menjadi simbol mempererat tali persaudaraan di sana.
Biasanya masyarakat akan menggelar tradisi ini saat tiga malam terakhir jelang lebaran. Lampu-lampu dari bahan bakar minyak tanah ini akan dipasang sepanjang jalan menuju masjid.
Gunungan hasil bumi itu nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat yang menginginkannya. Gunungan tersebut menjadi simbol sedekah sultan kepada rakyatnya.
Biasanya umat Islam akan membagikan berbagai makanan, minuman serta buah-buahan kepada warga sekitar. Hal itu sebagai bentuk rasa syukur atas toleransi dan kerukunan umat beragama di pulau Bali.
(ikh/ikh)
Loading ...
5 Tradisi Unik Hari Raya Idul Fitri di Indonesia
Umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2019. Hal itu menandakan masa ibadah puasa yang telah usai di bulan ramadan.
Advertisement
Namun ada juga tradisi unik menyambut lebaran yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tradisi itu sudah dilakukan turun temurun dan selalu dinanti setiap tahunnya.
Berikut ini sejumlah tradisi unik menyambut hari raya Idul Fitri dari berbagai daerah di Indonesia.
Festival Meriam Karbit
Festival Meriam Karbit merupakan tradisi menyambut hari raya Idul Fitri yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Kota Pontianak, Kalimanta Barat. Tradisi ini biasanya akan dilakukan masyarakat saat malam Takbiran tiba.Masyarakat akan bermain meriam di sepanjang tepian sungai Kapuas. Jadi tak heran jika dentuman keras meriam akan terdengar saat malam Takbiran di kota Pontianak.
Meriam-meriam tersebut akan dihiasi dengan ornamen warna-warni dan bermotif khas adat Melayu. Tradisi ini sudah dilakukan turun temurun dan selalu dinanti oleh masyarakat Pontianak.
Baku Pukul Manyapu
Baku Pukul Manyapu adalah tradisi menyambut hari raya Idul Fitri yang biasa dilakukan oleh masyarakat dari desa Mamala dan Morella di Maluku Tengah. Biasanya tradisi ini akan dilakukan pada hari ketujuh lebaran.Para lelaki yang jadi perwakilan masing-masing desa akan saling bertarung dengan hanya menggunakan lidi dari pohon enau. Tradisi pertarungan ini akan dilakukan dalam waktu 30 menit saja. Tradisi ini menjadi simbol mempererat tali persaudaraan di sana.
Tradisi Tumbilotohe
Tumbilotohe berasal dari dua suku kata yaitu Tumbilo yang artinya memasang dan Tohe yang berarti lampu. Tradisi memasang lampu ini merupakan perayaan untuk menyambut hari Idul Fitri di Gorontalo.Biasanya masyarakat akan menggelar tradisi ini saat tiga malam terakhir jelang lebaran. Lampu-lampu dari bahan bakar minyak tanah ini akan dipasang sepanjang jalan menuju masjid.
Pesta Grebeg Syawal
Pesta Grebeg Syawal adalah tradisi menyambut hari raya Idul Fitri yang biasa dilakukan oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Para pengawal keraton akan membawa gunungan hasil bumi berisi sayuran dan buah-buahan yang biasa disebut Gunungan Kakung dan Gunungan Putri.Gunungan hasil bumi itu nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat yang menginginkannya. Gunungan tersebut menjadi simbol sedekah sultan kepada rakyatnya.
Tradisi Ngejot
Ngejot adalah tradisi menyambut hari raya Idul Fitri yang dilakukan oleh umat Islam di Bali. Meskipun mayoritas masyarakat di Bali memeluk agama Hindu, tradisi ini membuat perayaan lebaran jadi semarak.Biasanya umat Islam akan membagikan berbagai makanan, minuman serta buah-buahan kepada warga sekitar. Hal itu sebagai bentuk rasa syukur atas toleransi dan kerukunan umat beragama di pulau Bali.
(ikh/ikh)