Advertisement

Analisis Kekuatan Kesatria Dewa di One Piece dan Alasan Mereka Terasa 'Lemah'

asw | Insertlive
Kesatria Dewa / God's Knights One Piece
Ini Analisis Kekuatan Kesatria Dewa di One Piece dan Alasan Mereka Terasa 'Lemah'/Foto: dok. X
Jakarta -

Analisis Kekuatan Kesatria Dewa di One Piece dan Alasan Mereka Terasa 'Lemah'

Pada awal kemunculan Kesatria Dewa alias God's Knights di One Piece, mereka digambarkan sebagai sosok yang memiliki ancaman besar terhadap semesta tersebut.

Mereka digambarkan memiliki kemampuan regenerasi yang luas biasa, kekuatan yang aneh, bahkan memegang status elit di bawah Imu. Namun, usai konflik di Elbaph berkembang, banyak yang merasa jika Kesatria Dewa tak sekuat yang dibayangkan.

Lantas mengapa Kesatria Dewa kini terkesan 'lemah'? Berikut merupakan analisisnya.

1. Kesatria Dewa Melawan Kru Yonko atau Legenda

Ini merupakan poin paling sederhana, tetapi paling penting. Kesatria Dewa tidak melawan bajak laut baru atau pasukan dewasa, melainkan sosok Monkey D. Luffy yang merupakan seorang Yonko.

Advertisement

Tak hanya itu, Luffy juga didampingi kru kuat seperti Sanji yang bisa menghajar komandan level tinggi, Zoro dengan Haoshoku Haki, serta Jinbe dan Franky yang punya kekuatan untuk mengalahkan petarung elit.

Selain kru Topi Jerami, Kesatria Dewa juga dipermalukan oleh Rocks D. Xebec dan Bajak Laut Roger yang merupakan legenda di semesta One Piece. Hal ini tak berarti Kesatria Dewa lemah, tetapi lawan mereka yang sudah terlalu kuat.

2. Ternyata yang Lemah adalah Pemilik Darah Murni Tenryuubito

Jika melihat sejarah pertarungan Kesatria Dewa, yakni Figarland yang dihajar Rocks D. Xebec, Shepherd Sommers yang pernah kalah dari Silvers Rayleigh, Scopper Gaban, dan Luffy, hingga Rimoshifu Killingham yang dihajar Sanji, ada pola yang bisa dilihat.

Semua sosok yang mengalahkan Kesatria Dewa tersebut merupakan Tenryuubito darah murni dari 20 keluarga sendiri. Hal ini bisa dibandingkan dengan Harald yang lebih mengerikan dan Gunko yang terasa lebih kompeten.

Fakta ini memunculkan teori soal Kesatria Dewa dari 'darah murni' yang kemungkinan besar kurang ditempa oleh pertarungan langsung. Sementara pada kasus Garling, Sommers, dan Killingham, mereka dinilai terlalu arogan.

Kesatria Dewa juga tak menunjukkan Haoshoku Haki yang menjadi ciri umum seorang petarung kuat di semesta One Piece.


3. Keabadian Jadi Penghambat Perkembangan

Kesatria Dewa punya keunggulan besar sebagai sosok yang punya kemampuan regenerasi sehingga membuat kehidupan mereka semi-abadi. Namun, kemampuan ini justru menjadi masalah.

Pasalnya, kekuatan besar sering terlahir dari pertarungan hidup dan mati, tekanan ekstrem, hingga batas yang dipaksa dilampaui dalam semesta One Piece. Hal ini bisa dilihat dari Luffy yang berkembang dari kekalahan, serta Zoro yang tumbuh lewat duel berisiko tinggi.

Sementara Kesatria Dewa tak perlu takut mati karena kemampuan regenerasi mereka, sehingga tak ada risiko atau dorongan untuk berkembang. Mereka juga tak memiliki kebutuhan untuk melampaui batas.

Kehidupan yang nyaris abadi membuat Kesatria Dewa tak berkembang dan hidup mereka stagnan. Sommers sendiri tak merasakan kekuatannya berkembang dibandingkan dengan 38 tahun lalu.

4. Bukan ‘Power Creep’, Kesatria Dewa Jadi Musuh Berbasis Gimik

Pada genre shounen, musuh berikutnya yang dihadapi umumnya semakin kuat. Hal inilah yang disebut sebagai power creep. Namun, Eiichiro Oda tampaknya mengambil pendekatan yang berbeda untuk Kesatria Dewa.

Mereka digambarkan tak lebih kuat dari Bajak Laut Kaido atau Big Mom secara kemampuan mentah, tetapi mereka punya gimik unik seperti regenerasi, teleportasi, hingga kekuatan Buah Iblis yang aneh.

Hal ini membuat Kesatria Dewa sulit dikalahkan dengan cara biasa, tetapi tidak selalu unggul dalam duel murni. Kesatria Dewa kemudian menjadi menarik karena ancaman mereka bukan di level kekuatan, tetapi mekanisme kekuatan itu sendiri.



(asw/and)
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement