Advertisement

Viral Daftar Harga Ritual Gunung Kawi, Sajen Sapi Rp20 Juta Jadi Sorotan Warganet

Yogi Alfian | Insertlive
Daftar Harga Ritual Gunung Kawi
Viral Daftar Harga Ritual Gunung Kawi, Sajen Sapi Rp20 Juta Jadi Sorotan Warganet (Foto: Tangkapan Layar)
Jakarta -

Pesarean Gunung Kawi kembali menjadi perbincangan di media sosial. Kali ini, sorotan bukan datang dari kisah mistis yang selama ini melekat pada tempat tersebut, melainkan beredarnya daftar harga selamatan dan nadzar yang disebut berasal dari kawasan Gunung Kawi.

Unggahan tersebut ramai dibahas karena memuat berbagai pilihan paket selamatan lengkap dengan nominal biayanya. Mulai dari ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah, daftar itu membuat banyak warganet mengaku terkejut.

Nama Gunung Kawi memang sedang ramai diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, publik sempat menyoroti pengakuan seorang kuncen yang menyebut sejumlah artis pernah datang ke kawasan tersebut. Sejak saat itu, rasa penasaran masyarakat terhadap sejarah dan tradisi di Gunung Kawi kembali meningkat.

Di tengah ramainya pembahasan, akun X @hanifproduktif mengunggah foto daftar harga selamatan dan nadzar.

Advertisement

"Ternyata di Gunung Kawi beneran ada price list-nya j** wkwkwk. Ini gak ada info projected ROI-nya kah?,"

Unggahan itu langsung menyebar luas dan memancing beragam komentar. Sebagian warganet mengaku baru mengetahui adanya daftar biaya tersebut, sementara yang lain penasaran dengan fungsi masing-masing paket ritual yang tercantum.

Daftar Harga yang Jadi Sorotan

Berdasarkan daftar yang beredar, tersedia berbagai pilihan perlengkapan selamatan maupun nadzar dengan harga yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya adalah:

  • Ayam besek: Rp130.000
  • Tumpeng ayam: Rp270.000
  • Tumpeng ayam sayur: Rp330.000
  • Tumpeng ayam hias: mulai Rp510.000 hingga Rp630.000
  • Kambing besek: Rp150.000
  • Tumpeng kambing: mulai Rp610.000
  • Tumpeng kambing utuh: Rp2.400.000
  • Satu ekor kambing sajen: Rp2.500.000
  • Satu ekor sapi sajen: Rp20.000.000
  • Tumpeng sapi: Rp25.000.000
  • Wayang kulit: Rp7.000.000
  • Wayang ruwatan: Rp15.000.000

Besarnya nominal tersebut membuat banyak pengguna media sosial ikut berdiskusi. Ada yang merasa harganya cukup mengejutkan, sementara sebagian lainnya menilai biaya tersebut kemungkinan mencakup kebutuhan logistik, perlengkapan, hingga penyelenggaraan acara.

Apa Itu Selamatan dan Nadzar?

Dalam tradisi masyarakat Jawa, selamatan merupakan kegiatan doa bersama yang biasanya disertai penyajian makanan sebagai bentuk rasa syukur atau permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, nadzar adalah janji seseorang untuk melakukan suatu amalan atau memberikan persembahan apabila doa atau harapan yang dipanjatkan telah terkabul.

Di kawasan Pesarean Gunung Kawi, sebagian peziarah menjalankan tradisi tersebut sesuai keyakinan dan kebiasaan yang berkembang. Bentuknya pun beragam, mulai dari penyediaan tumpeng, lauk-pauk, hasil bumi, hingga pagelaran wayang pada momen tertentu.

Karena kebutuhan setiap acara berbeda, biaya yang diperlukan juga tidak sama.

Destinasi Ziarah yang Memiliki Sejarah Panjang

Pesarean Gunung Kawi berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tempat ini dikenal sebagai lokasi makam Kanjeng Kyai Zakaria II atau Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono, dua tokoh yang dihormati masyarakat.

Setiap tahun, ribuan peziarah datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara. Tujuan mereka pun beragam, mulai dari berziarah, berdoa, mempelajari sejarah, hingga menikmati wisata religi dan budaya.

Di sekitar kawasan pesarean juga tersedia berbagai fasilitas pendukung seperti area parkir, penginapan, rumah makan, kios oleh-oleh, hingga penyedia perlengkapan untuk kebutuhan selamatan.

Respons Warganet Beragam

Viralnya daftar harga tersebut kembali memunculkan beragam tanggapan di media sosial. Ada yang menganggap informasi itu sebagai hal baru, sementara sebagian lainnya mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan tujuan setiap orang yang datang ke Gunung Kawi.

Pasalnya, tidak semua pengunjung datang untuk menjalankan ritual tertentu. Banyak pula yang berkunjung untuk berziarah, mengenal sejarah, atau sekadar menikmati suasana pegunungan yang sejuk.

Ramainya perbincangan ini menunjukkan bagaimana media sosial mampu mengangkat kembali tradisi lokal menjadi pembahasan nasional. Namun, masyarakat juga diimbau untuk memahami konteks budaya yang melatarbelakangi tradisi tersebut serta menyaring informasi yang beredar sebelum menarik kesimpulan.

(yoa/fik)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement