Kolaborasi Indonesia dengan PH Korea Selatan, Siapkan Film Garapan Dua Negara
Rumah produksi Troys Films resmi menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan hiburan asal Korea Selatan, Chan ENM, untuk mengembangkan proyek film dan konten hiburan lintas negara. Kolaborasi ini diumumkan dalam acara peresmian kerja sama yang digelar di Jakarta.
CEO Troys Films, Lok S. Iman, menjelaskan bahwa kerja sama ini mencakup produksi bersama (co-production), distribusi konten, pertukaran talenta, hingga transfer teknologi produksi film. Proyek pertama yang akan digarap adalah sebuah film panjang orisinal yang ditargetkan mulai syuting pada kuartal keempat tahun ini.
Meski belum mengungkap judul maupun genre film tersebut, Troys memberi sinyal bahwa proyek ini akan berbeda dari karya-karya mereka sebelumnya. Sutradara Randy Chans menyebut film kolaborasi tersebut bukan genre yang pernah diproduksi Troys Films selama ini.
"Oke, jadi pertama kita akan co-production untuk film. Dalam waktu dekat ini kita akan segera memproduksi film feature film (film panjang). Kedua, kita juga akan melakukan content distribution. Terus juga nantinya akan ada talent exchange program ke depannya," tutur Lok S. Iman selaku CEO Trois Films.
"Juga kita akan melakukan exchange technology. Jadi di film yang berikutnya kita akan syuting, itu akan ada support dari tim Korea Selatan yang memang sudah sangat ahli. Nanti dijelaskan detailnya oleh Rendi. Jadi akan ada kolaborasi produksi, tidak hanya perusahaannya tapi juga dalam segi directorship (penyutradaraan) maupun produksi. Kita akan di-support oleh tim-tim dari Korea yang sudah sangat berpengalaman," lanjutnya.
Yang menarik, proyek ini akan melibatkan sejumlah profesional film Korea Selatan yang memiliki rekam jejak internasional. Salah satunya adalah Yang Kil-yong, Action Director yang pernah terlibat dalam film-film terkenal seperti Oldboy, The Host, dan Warrior of the Rainbow. Selain itu, Han Gyoo-hoi akan bergabung sebagai Assistant Director, sementara Lee Ok-hee dipercaya sebagai Director of Photography (DOP).
Sementara itu, CEO Chan ENM Choi Woo Young menilai Indonesia sebagai salah satu pasar konten paling menjanjikan di Asia Tenggara. Menurutnya, pertumbuhan platform OTT, industri bioskop, serta populasi muda yang besar membuat Indonesia menjadi pasar strategis untuk pengembangan konten global.
"Saat ini pasar media global sedang berada di titik perubahan besar di mana konten lokal Asia semakin diutamakan dan berkembang. Platform pasar yang dipimpin oleh Netflix mulai memberikan perhatian besar terhadap IP orisinal dari Asia Tenggara. Khususnya pasar konten Indonesia dan Vietnam sangat menonjol karena pertumbuhan OTT mobile dan box office bioskop offline berkembang sangat pesat secara bersamaan, didukung oleh populasi muda yang besar. Itulah alasan mengapa Mr. Choi tertarik pada Indonesia. Pasarnya besar, masyarakat mengonsumsi konten dengan cepat, dan para kreator yang memimpin tren juga terus tumbuh. Kami sangat menantikan hari di mana karya yang kita bangun bersama akan menghubungkan Indonesia dan Korea, serta melangkah lebih jauh menyentuh hati penonton di seluruh dunia," jelas Choi Woo Young.
Meski film pertama akan menggunakan pemain Indonesia, kedua pihak tidak menutup kemungkinan menghadirkan aktor Korea Selatan maupun talenta internasional pada proyek-proyek berikutnya. Choi bahkan mengaku terkesan dengan akting alami aktris Indonesia, Isyana, yang dinilainya memiliki gaya bermain yang sangat natural.
Kerja sama ini menjadi langkah baru bagi kedua perusahaan yang sama-sama masih berusia sekitar tiga tahun, namun memiliki ambisi untuk menghadirkan karya yang mampu bersaing di pasar internasional.
(Insertlive)