Ternyata Ini Penyebab Orang Indonesia Gemar Buka Puasa Pakai Gorengan
Indonesia jadi negara dengan beragam gorengan nikmat, mulai dari bakwan, risol, pastel, hingga molen. Berbagai jenis gorengan ini pun selalu menjadi makanan favorit yang dikonsumsi saat buka puasa oleh orang Indonesia.
Namun, ternyata ada sejarah panjang di balik gorengan menjadi makanan favorit saat berbuka puasa. Perlu diketahui bahwa dalam sejarah kuliner, teknik masak dengan menggoreng masih terbilang baru.
Peradaban purba lebih akrab dengan teknik bakar, panggang, dan rebus untuk mengonsumsi bahan makanan.
Bukti awal tradisi menggoreng makanan pertama kali terdeteksi di Mesir. Blake Lingle dalam Fries! (2016) menyebut bahwa orang Mesir sudah menggoreng makanan sejak tahun 2500 Sebelum Masehi (SM). Tradisi ini kemudian berkembang di Eropa dan China.
Ketika sampai di Eropa dan China, teknik menggoreng makanan menjadi tradisi yang tak bisa dilepaskan. Penduduk dua wilayah itu pun mengembangkan berbagai macam teknik menggoreng, mulai dari deep frying hingga stir frying, membuat cita rasa makanan semakin beragam.
Penduduk Eropa dan China yang sering melakukan migrasi ke berbagai penjuru dunia kemudian membuat budaya menggoreng makanan ikut tersebar, termasuk di Indonesia.
Teknik menggoreng makanan semakin masif di Indonesia sejak orang China dan Eropa datang pada abad ke-16. Seiring waktu berjalan, teknik memasak ini populer ke berbagai kalangan. Hal ini didukung dengan munculnya minyak kelapa sebagai bahan baku pada abad ke-19.
Selain itu, kehadiran mentega sebagai bahan menggoreng oleh bangsa Eropa, khususnya Belanda juga membuat teknik memasak ini semakin populer di kalangan masyarakat.
Teknik Masak Menggoreng/ Foto: Instagram / TikTok |
Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (2016) menyebut bahwa mentega menjadi bahan andalan untuk menggoreng di era Hindia Belanda, terutama pada abad ke-20.
Mulai dari masa ini lah muncul berbagai variasi makanan dari menggoreng, mulai dari pisang goreng hingga tempe goreng. Meski demikian, gorengan kala itu tak bisa dinikmati masyarakat biasa karena harga minyak kelapa dan mentega yang mahal.
Memasuki era Orde Baru, dunia kuliner Indonesia mengalami banyak perubahan. Kebijakan Presiden Soeharto yang memperbolehkan pembangunan industri sawit membuat minyak goreng banyak dijual di pasaran.
Minyak goreng sawit yang punya harga lebih murah dibanding minyak kelapa membuat gorengan makin populer di kalangan masyarakat.
Gorengan makin merajalela usai pada tahun 1970-an muncul dua pemain besar di industri minyak goreng, yakni Liem Sioe Liong atau Sudono Salim yang memproduksi minyak merek Bimoli, serta Eka Tjipta Widjaja yang menciptakan minyak merek Filma.
Sudono Salim kemudian juga memproduksi tepung terigu merek Bogasari yang menjadi salah satu bahan utama untuk membuat gorengan. Kehadiran merek ini membuat masyarakat Indonesia bisa menjangkau tepung dengan mudah.
Kehadiran tepung dan minyak yang menjadi bahan baku utama untuk membuat gorengan pada akhirnya membuat jenis makanan ini punya popularitas tinggi di kalangan masyarakat Indonesia. Gorengan kemudian menjadi makanan yang tak bisa lepas dari keseharian orang Indonesia.
(asw)
Teknik Masak Menggoreng/ Foto: Instagram / TikTok