Mengapa Tulisan Penting Tak Selalu Harus Puitis
Mengapa Tulisan Penting Tak Selalu Harus Puitis
Banyak orang mengira tulisan yang bagus harus selalu identik dengan kalimat indah, metafora, dan terdengar puitis.
Padahal, tidak semua pesan butuh dibungkus dengan kata-kata indah. Dalam banyak situasi, justru tulisan yang sederhana, jujur, dan langsung ke inti bisa terasa lebih kuat.
Tulisan yang memegang peran penting sering kali bertugas menyampaikan inti, sudut pandang, atau informasi secara utuh.
Dalam opini, pengalaman pribadi, hingga tulisan informatif, pembaca cenderung lebih mengingat kejujuran isi dan kejernihan maksud dibanding permainan bahasa yang terlalu artistik.
Dari sini, muncul kesadaran bahwa keindahan bahasa bukan satu-satunya ukuran kualitas tulisan.
Alasan Tulisan Penting Tidak Harus Puitis
Tulisan tidak selalu harus puitis karena tujuan utama menulis adalah berkomunikasi. Selama informasi dapat dipahami dengan jelas, disampaikan secara akurat, dan tidak menimbulkan kebingungan, sebuah tulisan sudah menjalankan perannya dengan baik.
Bahkan, dalam banyak situasi, gaya bahasa yang terlalu berbunga justru berisiko mengaburkan maksud dan membuat pembaca kehilangan fokus. Berikut beberapa alasan pendukungnya:
> Kejelasan Lebih Diutamakan
Dalam tulisan berita, artikel edukatif, atau panduan praktis, kejelasan adalah kunci dari tulisan yang dipaparkan. Kalimat yang langsung ke inti (to the point) akan lebih membantu pembaca memahami pesan tanpa harus menafsirkan makna-makna tersembunyi. Bahasa yang lugas membuat informasi terasa lebih ramah dan tidak melelahkan untuk dibaca.
> Fokus pada Fakta dan Data
Tulisan yang bersifat informatif menuntut ketepatan. Fakta, data, dan konteks yang tepat jauh lebih bernilai daripada kalimat indah yang tidak menambah pemahaman. Terlalu banyak gaya bahasa justru bisa mengalihkan perhatian dari inti pembahasan.
> Meminimalkan Salah Tafsir
Bahasa puitis cenderung membuka ruang penafsiran yang beragam. Dalam konteks profesional, pendidikan, atau informasi publik, pesan perlu diterima dengan makna yang sama oleh setiap pembaca. Oleh karena itu, penggunaan bahasa denotatif dengan struktur kalimat yang jelas menjadi pilihan yang lebih aman dan efektif.
> Menyesuaikan dengan Target Pembaca
Tidak semua pembaca datang untuk menikmati keindahan bahasa. Banyak yang membutuhkan jawaban cepat, penjelasan ringkas, dan informasi yang bisa langsung digunakan. Tulisan yang sederhana dan terarah justru lebih relevan dibadingkan tulisan yang terlalu bermain di ranah estetika.
> Fungsi Komunikasi Lebih Penting dari Gaya
Dalam dunia kerja, humas, hingga bisnis, tulisan berfungsi sebagai alat komunikasi. Tujuannya menyampaikan informasi, membangun pemahaman, dan menjaga kepercayaan. Pada konteks ini, efektivitas tulisan tentu lebih diutamakan daripada nilai artistik semata.
Pada akhirnya, kualitas sebuah tulisan tidak diukur dari seberapa puitis bahasanya, melainkan dari seberapa tepat pesan itu sampai. Struktur yang rapi, penggunaan tanda baca yang benar, dan isi yang jujur sering kali justru memberikan dampak yang lebih kuat dan berkesan bagi pembaca
(Steffy Gracia/arm)