James Cameron Pernah Diminta Bagikan Kokain di Lokasi Syuting Saat Awal Karier
Nama James Cameron kini identik dengan film-film raksasa seperti Titanic dan Avatar. Namun, jauh sebelum menjadi sutradara kelas dunia, perjalanan awal kariernya justru diwarnai cerita ekstrem yang nyaris tak masuk akal.
Dalam wawancara In Depth with Graham Bensinger yang dikutip Entertainment Weekly pada Kamis (30/1), Cameron mengungkap pengalaman mengejutkan saat pertama kali dipercaya menjadi production designer di film kelas B Battle Beyond the Stars (1980), produksi Roger Corman.
Kala itu, Cameron mendadak dipromosikan setelah desainer produksi sebelumnya dipecat karena dinilai bekerja terlalu lambat.
Masalahnya, promosi tersebut datang hanya dua minggu sebelum syuting dimulai, saat hampir seluruh set belum selesai dibangun.
"Semua set belum jadi dan aku pun kayak, 'Yaudahlah, ini kayak gue lompat ke api kali ya. Yuk, kita kerjain aja', dan mereka (bahkan) meminta gue kerja di jam 4 pagi," kenang Cameron.
Hari pertama menjabat sebagai desainer produksi justru menjadi momen paling absurd dalam hidup Cameron. Manajer produksi memanggilnya, lalu meletakkan beberapa barang di atas meja: daftar kru, uang kas produksi, dan dua jenis narkoba-kokain dan amfetamin.
"Dia meletakkan semua barang itu di atas meja," ungkap Cameron.
Kaget dan bingung, Cameron langsung bertanya, "Gue bingung dan bertanya, 'Tunggu dulu, apa yang harus gue lakukan dengan barang-barang ini?'"
Jawaban sang manajer produksi justru lebih mengejutkan. Narkoba tersebut bukan untuk dikonsumsi pribadi, melainkan untuk dibagikan kepada kru agar mereka bisa tetap terjaga dan sanggup bekerja sepanjang malam.
Menurut Cameron, praktik semacam itu dianggap lumrah di dunia film berbiaya sangat rendah pada era tersebut. Jadwal syuting yang brutal seolah hanya bisa ditaklukkan dengan prinsip tak tertulis: bekerja demi kokain.
Meski berada di posisi terjepit, Cameron menegaskan dirinya tidak pernah menggunakan narkoba. Ia mengaku cukup mengandalkan kopi untuk tetap fokus dan segar selama bekerja.
Alih-alih membagikan barang haram itu, Cameron memilih menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada asisten direktur seninya.
"Gue bilang ke asisten gue, 'Lo saja yang urus ini'. Dan ternyata dia tahu cara membaginya secara adil kepada kru," ujar Cameron sambil tertawa.
Yang lebih ironis, Cameron mengungkap bahwa pada masa itu, reputasi seorang desainer produksi atau direktur seni justru dinilai dari seberapa adil mereka membagikan narkoba kepada kru.
Pengalaman tersebut kini menjadi salah satu kisah paling gila dalam perjalanan hidup Cameron-sebuah potret ekstrem dunia film independen era 1980-an yang jauh berbeda dari standar industri saat ini.
Bagi Cameron, cerita itu kini tinggal kenangan. Namun, kisah ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju puncak Hollywood tidak selalu glamor-kadang justru gelap, brutal, dan nyaris tak masuk akal.
(ikh/ikh)