5 Rekomendasi Buku Favorit Dian Sastro, Cocok untuk Bacaan Santai
5 Rekomendasi Buku Favorit Dian Sastro, Cocok untuk Bacaan Santai
Dian Sastrowardoyo atau Dian Sastro merupakan salah satu aktris yang dikenal gemar membaca buku. Pemeran Dasiyah di serial Gadis Kretek itu punya berbagai koleksi buku di rumah.
Bacaan Dian Sastro pun beragam, mulai dari buku fiksi hingga buku pengembangan diri.
Bagi Insertizen yang butuh rekomendasi buku, berikut lima buku favorit Dian Sastro yang bisa bisa jadi rekomendasi untuk kalian dibaca ketika santai:
1. The 7 Habits of Highly Effective People
Buku karangan Stephen R. Covey ini adalah panduan pengembangan diri yang mengajarkan bahwa kesuksesan sejati berakar pada karakter yang kuat, bukan sekadar teknik instan.
Intinya adalah perjalanan transformasi seseorang dari sikap reaktif menjadi proaktif dengan mengambil tanggung jawab penuh atas hidupnya, menetapkan visi jangka panjang agar setiap tindakan memiliki tujuan, dan mengelola waktu berdasarkan skala prioritas.
2. Olenka
Olenka adalah novel psikologis legendaris karya Budi Darma yang pertama kali terbit pada tahun 1983. Buku ini sering dianggap sebagai salah satu karya paling penting dan unik dalam sastra Indonesia karena gaya penceritaannya yang absurd, dingin, dan sangat mendalam dalam membedah sisi kelam kejiwaan manusia.
Ceritanya berlatar di Bloomington, Amerika Serikat, dan berfokus pada tokoh bernama Fantasista yang terobsesi dengan seorang perempuan bernama Olenka. Namun, alih-alih menjadi kisah cinta romantis, novel ini justru menggambarkan hubungan yang aneh, penuh keterasingan, dan pencarian jati diri yang menyakitkan. Melalui tokoh-tokohnya yang eksentrik, Budi Darma mengeksplorasi tema-tema berat seperti kesepian yang akut, kekosongan eksistensial, dan bagaimana masa lalu serta trauma bisa membentuk perilaku manusia yang tidak lazim.
Novel ini memenangkan Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Novel DKJ tahun 1980 dan tetap menjadi bacaan wajib bagi mereka yang ingin menyelami sastra yang lebih filosofis dan menantang logika umum.
3. Think Again : The Power of Knowing what You Don't Know
Think Again karya Adam Grant adalah buku tentang pentingnya berpikir ulang dan melupakan apa yang sudah kita pelajari (unlearning). Grant berargumen bahwa di dunia yang berubah sangat cepat, kecerdasan bukan lagi soal seberapa banyak yang Anda tahu, melainkan seberapa mampu Anda mengakui bahwa Anda salah dan mengubah pikiran Anda.
Buku ini menyoroti bahwa kita sering terjebak dalam tiga peran mental yang menghambat kemajuan: menjadi penceramah yang hanya ingin membuktikan diri benar, jaksa yang hanya ingin menjatuhkan argumen orang lain, atau politisi yang hanya ingin disukai.
Grant mengajak pembaca untuk beralih menjadi seorang ilmuwan, seseorang yang melihat pendapatnya sebagai hipotesis yang perlu diuji dan selalu mencari kebenaran, bukan sekadar pembenaran.
4. Killing Commendatore
Killing Commendatore (Kishidanjo Goroshi) adalah novel karya penulis Jepang ternama, Haruki Murakami. Seperti ciri khas Murakami lainnya, buku ini menggabungkan drama kehidupan nyata dengan elemen realisme magis yang misterius dan surealis.
Ceritanya mengikuti seorang pelukis potret yang baru saja bercerai dan memutuskan untuk tinggal di rumah terpencil milik seorang pelukis legendaris, Tomohiko Amada.
Di sana, ia menemukan sebuah lukisan tersembunyi di loteng berjudul Killing Commendator" yang menggambarkan adegan berdarah dari opera Don Giovanni.
Penemuan lukisan ini memicu serangkaian kejadian aneh: munculnya suara lonceng di tengah malam, kehadiran sosok setinggi dua kaki yang merupakan manifestasi dari sebua 'Ide', hingga pertemuan dengan tetangganya yang misterius dan kaya raya bernama Wataru Menshiki.
5. Oerang-Oerang Oetimu
Oerang-Oerang Oetimu adalah novel karya Felix K. Nesi yang memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018. Buku ini merupakan sebuah karya yang berani, satir, dan penuh warna tentang kehidupan masyarakat di Oetimu, sebuah wilayah fiksi di Timor, Nusa Tenggara Timur.
Narasi buku ini melompat-lompat antar-generasi, menjahit kisah-kisah penduduk lokal yang penuh dengan ironi, kekerasan, nafsu, hingga pengaruh kuat Gereja Katolik dan militer pasca-integrasi Timor Timur. Di dalamnya, Anda akan bertemu dengan karakter-karakter unik seperti sersan yang terobsesi dengan perang, romo yang bergulat dengan rahasia jemaatnya, hingga anak muda yang terjebak dalam mitos dan trauma sejarah.
Felix K. Nesi menggunakan gaya bahasa yang lugas dan sering kali jenaka untuk mengkritik perilaku kekuasaan, kemunafikan moral, serta bagaimana sejarah kelam masa lalu masih menghantui keseharian masyarakat kecil.
Secara keseluruhan, buku ini adalah potret kemanusiaan yang jujur tentang bagaimana orang-orang di pinggiran mencoba bertahan hidup di tengah sisa-sisa kolonialisme dan gejolak politik.
(dia/dia)