Taklukkan Gedung Taipei 101, Alex Honnold Bongkar Jumlah Bayaran dari Netflix
Nama Alex Honnold sudah identik dengan aksi panjat tebing ekstrem yang mempertaruhkan nyawa. Namun, di balik popularitas dokumenter petualangan yang ditontonnya jutaan orang, pendaki legendaris itu justru mengaku menerima bayaran yang jauh dari kata pantas.
Dalam sesi diskusi di Sundance Film Festival 2026, Alex Honnold secara terbuka mengkritik sistem kompensasi platform streaming, khususnya Netflix.
Pernyataan tersebut disampaikan Honnold saat membahas pengalamannya terlibat dalam proyek dokumenter, termasuk aksi ikonik Taipei 101 Climb, seperti dilaporkan The New York Times pada Senin (26/1).
Honnold menilai ada ketimpangan besar antara nilai konten yang dihasilkan dengan bayaran yang diterima oleh atlet atau subjek dokumenter.
Menurutnya, meski film bertema petualangan sering merajai daftar tontonan teratas dan ditonton jutaan orang, keuntungan finansial itu jarang benar-benar dirasakan oleh mereka yang mengambil risiko langsung di lapangan.
Dalam perbandingan yang cukup menohok, Honnold menyinggung bagaimana atlet Major League Baseball bisa menandatangani kontrak hingga US$170 juta (Rp2,84 triliun), sementara dirinya hanya menerima bayaran di kisaran enam digit dolar AS .
"Netflix membayar saya dalam jumlah yang sangat kecil dan memalukan untuk film itu," ujar Honnold.
Ia menegaskan bahwa nominal tersebut terasa tidak sebanding dengan dampak dan performa film di platform streaming.
"Padahal, film tersebut merupakan salah satu konten yang paling banyak ditonton di platform mereka selama berbulan-bulan." ungkapnya.
Lebih jauh, Honnold menyoroti sistem bisnis streaming yang dinilainya tidak adil bagi para profesional olahraga ekstrem.
Ia menyebut, para atlet mempertaruhkan nyawa demi menciptakan momen sinematik yang ikonik, tetapi nyaris tidak mendapatkan manfaat jangka panjang dari kesuksesan film tersebut.
"Ada ketimpangan besar antara nilai yang diciptakan oleh subjek dokumenter dengan apa yang platform streaming bersedia bayar. Mereka mendapatkan keuntungan dari risiko yang kami ambil, sementara kami hampir tidak mendapatkan apa-apa dari royalti atau penayangan jangka panjang," kata Honnold.
Pernyataan ini kembali memanaskan perdebatan lama soal absennya sistem residu atau royalti bagi subjek dokumenter di platform streaming.
Berbeda dengan aktor film fiksi, atlet dan tokoh dokumenter umumnya hanya menerima bayaran satu kali tanpa pembagian keuntungan jangka panjang.
Meski begitu, Honnold tidak menutup mata terhadap dampak positif yang ia rasakan. Ia mengakui bahwa popularitas film dokumenter tersebut membuka pintu kontrak sponsor bernilai besar di luar proyek film.
Namun, secara prinsip Honnold menegaskan bahwa perusahaan media raksasa seharusnya lebih menghargai kontribusi para kreator dan subjek dokumenter.
Alex Honnold sendiri menjadi fenomena global setelah sukses mendaki El Capitan setinggi hampir 900 meter tanpa tali pengaman.
Aksi tersebut diabadikan dalam dokumenter Free Solo, yang meraih Oscar dan mengukuhkan namanya sebagai salah satu atlet panjat tebing paling berani sepanjang masa.
Sejak itu Honnold rutin terlibat dalam berbagai serial dokumenter petualangan, baik bersama Netflix maupun National Geographic, meski kini ia semakin vokal soal keadilan di balik layar industri streaming.
Terbaru, Honnold berhasil memanjat gedung pencakar langit Taipei 101 di Taiwan pada Minggu, (25/1) tanpa menggunakan tali pengaman maupun alat pelindung.
Honnold sukses mencapai puncak menara setinggi 508 meter tersebut dalam waktu sekitar 90 menit.
(ikh/and)