Renungan Pria di Sampul Album Ikonik Arctic Monkeys: Kesuksesan Segila Ini Tak Akan Terulang Lagi
Dua puluh tahun setelah rilis album debut Arctic Monkeys bertajuk Whatever People Say I Am, That's What I'm Not, pria di balik sampul ikoniknya, Chris McClure, mengaku masih sulit percaya dengan skala kesuksesan album tersebut dan yakin fenomena serupa hampir mustahil terjadi di era sekarang.
Album yang dirilis pada Januari 2006 itu bukan hanya mengubah nasib Arctic Monkeys, tetapi juga mencatat sejarah sebagai album debut tercepat terjual oleh band mana pun di Inggris, melampaui rekor Definitely Maybe milik Oasis. Dalam minggu pertamanya saja, album tersebut terjual lebih dari 360 ribu kopi.
Dari Mabuk di Bar, Jadi Wajah Sejarah Musik Inggris
Foto hitam-putih di sampul album itu menampilkan McClure duduk dengan ekspresi lelah setelah semalaman minum. Tak ada konsep megah, tak ada studio mahal. Hanya realitas mentah kelas pekerja Inggris.
"Aku bahkan muntah saat sesi foto itu," kenang McClure.
"Semuanya kabur. Baru saat album dirilis aku berpikir, 'Sial, apa yang telah kulakukan?'" lanjutnya.
Ia hanya dibayar £70 atau Rp1,6 Juta untuk menghabiskan malam di Liverpool, tanpa menyadari fotonya akan menjadi salah satu sampul album paling ikonik dalam sejarah musik modern Inggris.
Band Kelas Pekerja Jadi Berita Nasional
McClure mengenang betapa gilanya momen perilisan album tersebut. Wartawan menunggu di luar rumah ibunya, bahkan masuk ke pub tempat ia bekerja.
Namun yang paling mengusik pikirannya kini adalah satu hal yakni momen seperti itu tidak mungkin terjadi lagi hari ini.
"Bayangkan sekarang ada band Inggris kelas pekerja, empat anak muda, lalu jadi berita utama di BBC Six O'Clock News," katanya.
"Menurutku itu tak akan terjadi lagi." sambungnya.
Pernyataan itu menyiratkan kritik tajam terhadap industri musik modern, di mana algoritma, media sosial, dan fragmentasi audiens membuat fenomena budaya sebesar Arctic Monkeys di era 2000-an hampir mustahil terulang.
Album yang Menjadi Penanda Zaman
Album ini melahirkan single legendaris 'I Bet You Look Good On The Dancefloor', memenangkan Mercury Prize, BRIT Award, serta meraih delapan kali platinum di Inggris.
Lebih dari sekadar kumpulan lagu, Whatever People Say I Am, That's What I'm Not menjadi potret generasi, suara kelas pekerja, dan simbol masa ketika musik gitar Inggris masih mampu mendominasi budaya arus utama.
Legenda yang Tak Bisa Direplikasi
Dua dekade berlalu, Arctic Monkeys tetap relevan. Namun bagi Chris McClure, kesuksesan debut mereka adalah produk zaman yang tak bisa diulang.
Bukan karena kurangnya talenta hari ini, melainkan karena dunia telah berubah, dan momen ketika sebuah band lokal bisa mengguncang satu negara dalam semalam mungkin telah berlalu.
(ikh/ikh)