Ini 9 Ciri-ciri Kamu Sedang Mengalami Baby Blues

Risdawati | Insertlive
Rabu, 06 Sep 2023 09:30 WIB
Baby blues dan depresi pasca melahirkan
Jakarta, Insertlive -

Seorang ibu kerap kali mengalami penurunan kadar hormon setelah melahirkan. Hal tersebut akan memengaruhi suasana hati ibu. Oleh karena itu, tak jarang seorang ibu sering baby blues syndrome usai melahirkan.

Terdapat beberapa faktor penyebab baby blues, seperti jam tidur yang berantakan, tidak memiliki waktu sendiri, hingga waktu untuk merawat diri yang sedikit sulit. Kebiasaan-kebiasaan baru yang baru pertama kali dihadapi membuat hormon ibu menjadi turun, akibatnya sang ibu mengalami baby blues.

Lalu, bisakah kita mengatasi baby blues, dan bagaimana ciri-ciri bila sang ibu mengalami kondisi baby blues? Berikut informasinya yang telah berhasil dirangkum dari berbagai sumber.

ADVERTISEMENT

Pengertian Baby Blues Syndrome

Baby blues syndrome memiliki arti yaitu kondisi yang dialami oleh sebagian besar ibu yang baru melahirkan. Mengikat ibu ang baru melahirkan cenderung memiliki waktu tidur yang tidak teratur atau lebih tepatnya berantakan. Kekurangan waktu tidur sampai tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Jadi tidak mengherankan jika banyak dari ibu yang baru melahirkan mengalami depresi ringan, sehingga mampu merubah suasana hatinya.

Di masa-masa awal setelah melahirkan, baby blues akan muncul pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan. Biasanya, baby blues ini akan berlangsung selama beberapa hari dan paling lama hingga 2 minggu.

Kondisi baby blues ini dialami oleh 4 dari 5 orang tua baru atau sekitar 80 persen. Kondisi ini dapat dialami oleh orang tua baru, dan seorang ibu yang sudah beberapa kali melahirkan pun bisa mengalami kondisi seperti ini, selain itu dari segi usia, pendapatan, budaya, atau tingkat pendidikan ada saja yang mengalami.

Baby blues dapat hilang dengan sendirinya, tanpa harus melakukan perawatan khusus, intervensi atau pengobatan. Namun demikian, apabila gejala tidak hilang setelah beberapa minggu atau malah makin memburuk postpartum depression.

Pasalnya, terdapat 10 persen wanita mengalami postpartum depression. tidak seperti baby blues, depresi pasca melahirkan adalah masalah yang lebih serius dan tidak boleh diabaikan.

9 Ciri-ciri Mengalami Baby Blues

Ciri-ciri utama jika ibu mengalami baby blues syndrome yaitu perubahan suasana hati dengan cepat seperti senang lalu kemudian sedih. Contohnya, ketika ibu merasa senang dan bangga karena berhasil menjadi ibu baru yang dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, berselang waktu kondisi tersebut berubah menjadi sedih hingga membuat ibu menangis, karena merasa kesulitan dan tidak mampu mengemban tugas sebagai ibu baru. Terlebih jika mendapati kondisi anak yang tidak baik.

Selain ciri-ciri di atas, ada beberapa gejala baby blues syndrome mungkin termasuk, seperti:

  1. Kelelahan sehingga membuat ibu tidak mampu mengurus diri sendiri
  2. Merasa mudah tersinggung, mudah marah, dan cemas
  3. Kesedihan, kemurungan, rewel
  4. Kehilangan selera makan
  5. Sulit tidur
  6. Merasa kewalahan dengan tugas bayi
  7. Kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan.
  8. Kehilangan minat pada pekerjaan atau hobi favorit, atau memilih untuk lebih banyak bekerja.
  9. Menarik diri dan menyendiri

Gejala ini biasanya mulai membaik pada hari ke-10. Namun jika merasa gejalanya tidak kunjung membaik dan semakin parah, sebaiknya meminta bantuan lebih lanjut karena bisa jadi ibu mengalami postpartum depression.

Postpartum depression awalnya memang terlihat seperti baby blues karena memiliki ciri-ciri yang sama. Hanya saja, perbedaannya dari depresi pasca melahirkan gejalanya lebih parah seperti putus asa, merasa tidak berharga, merasa tidak adanya ikatan batin dengan bayi yang baru dilahirkannya.

Sehingga, muncul pikiran untuk bunuh diri atau ketidakmampuan dalam merawat bayi yang baru dilahirkannya. Kondisi baby blues tidak hanya terjadi pada wanita, pasangan pria juga mungkin mengalami baby blues karena perubahan hormon selama dan setelah bayi lahir. Kadar testosteron mungkin turun dan kadar estrogen mungkin meningkat pada ayah baru. Hormon lain, seperti kortisol, vasopresin, dan prolaktin, mungkin meningkat. Semua perubahan hormon ini dapat menyebabkan depresi.

Penyebab Baby Blues

Hingga kini, penyebab baby blues syndrome belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, terdapat beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya baby blues syndrome, yaitu:

1. Sulit Beradaptasi

Pemicu pertama baby blues syndrome adalah kesulitan beradaptasi dari kehidupan sebelum dan sesudah menjadi ibu. Setelah menjadi seorang ibu, tentu saja terdapat tanggung jawab besar yang harus diemban.

Tak jarang ibu merasa kelelahan untuk mengurus kebutuhan buah hati sendirian, terlebih lagi jika ini adalah pengalaman baru. Itulah mengapa peran keluarga sangat dibutuhkan untuk mencegah ibu mengalami baby blues syndrome.

2. Perubahan Hormon

Ibu akan mengalami perubahan kadar hormon yang cukup drastis setelah melahirkan. Selama fase ini, kadar hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh menurun drastis, sehingga memicu perubahan suasana hati serta perasaan lelah dan tertekan.

3. Kurang Istirahat

Siklus tidur bayi baru lahir yang tidak teratur sering kali menyebabkan ibu terbangun di malam hari. Di mana hal ini secara langsung akan mengurangi waktu tidur ibu. Kurangnya waktu tidur disertai kesibukan dalam mengurus buah hati dapat membuat ibu kelelahan sehingga memicu terjadinya gejala baby blues.

4. Memiliki Riwayat Gangguan Mental

Wanita dengan riwayat gangguan kesehatan mental lebih berisiko mengalami baby blues syndrome. Terutama jika ibu memiliki riwayat gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan cemas, atau bipolar.

Tips Mengatasi Baby Blues

Ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi baby blues. Baby blues biasanya hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk merasa lebih baik:

  • Tidurlah cukup dan sebanyak yang Anda bisa.
  • Mintalah bantuan dari pasangan, keluarga, dan teman Anda. Beri tahu mereka apa yang bisa mereka lakukan untuk Anda, seperti berbelanja makanan atau menjaga bayi saat Anda mandi atau tiur.
  • Luangkan waktu untuk diri sendiri. Mintalah seseorang yang Anda percayai untuk menjaga bayi Anda agar Anda bisa keluar rumah. Mendapatkan sinar matahari juga bisa membantu.
  • Cobalah untuk terhubung dengan orang tua baru lainnya. Kelompok pendukung dapat membantu. Ini adalah sekelompok orang yang memiliki keprihatinan yang sama. Mereka bertemu untuk mencoba membantu satu sama lain.
  • Jangan minum alkohol, menggunakan narkoba, atau menyalahgunakan obat resep. Semua ini dapat memengaruhi suasana hati Anda dan membuat Anda merasa lebih buruk. Dan mereka dapat mempersulit Anda dalam merawat bayi Anda.
  • Makan makanan sehat dan berolahraga jika bisa. Olahraga dapat membantu mengurangi stres.

Faktor Risiko yang Meningkatkan Kemungkinan Baby Blues

Faktor risiko tertentu dikaitkan dengan reaksi yang lebih intens terhadap baby blues syndrome. Adapun sejumlah faktor risiko baby blues syndrome, meliputi:

  • Mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.
  • Rendah diri.
  • Tidak memiliki pasangan.
  • Merasa kecewa atau tidak puas dengan pasangannya.
  • Takut melahirkan.
  • Melahirkan secara caesar, mengalami persalinan berisiko, atau komplikasi pasca persalinan.
  • Mengalami kecemasan dan stres saat lahir.
  • Melahirkan bayi pertama.
  • Riwayat depresi atau kecemasan.
  • Kurangnya dukungan sosial.
  • Kekurangan vitamin dan mineral tertentu.
  • Masalah tidur.
  • Usia ibu yang lebih muda.

Itulah 9 ciri-ciri baby blues syndrome yang sering terjadi pada wanita yang baru melahirkan. Bagi ibu yang mendapati ciri-ciri di atas ada pada diri ibu, lakukan tips-tipsnya agar dapat mengurangi baby blues yang sedang dialami. Semoga informasi ini bermanfaat.

(Risdawati/yoa)
Tonton juga video berikut:
KOMENTAR
Loading
Loading
BACA JUGA
UPCOMING EVENTS Lebih lanjut
detikNetwork
VIDEO
TERKAIT
Loading
POPULER