3 Perusahaan yang Lakukan Perampingan Pegawai, Alasan Efisiensi-Investasi AI
Profesi di sektor teknologi tak lagi dicari perusahaan karena perkembangan Artificial Intelligence atau AI semakin marak.
Victor Janulaitis, Kepala Eksekutif Janco pada Wall Street Journal mengatakan bahwa alasan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT karena dunia menghadapi inflasi dan ketakpastian ekonomi.
AI sejatinya menjadi peranan penting dalam merekrut seseorang. Salah satunya dalam platform layanan transportasi online Lyft yang meninjau bagaimana AI bisa mengubah peranan posisi.
Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Jason Vogrinec, Wakil Presiden Eksekutif Lyft bahwa penggunaan AI tak diperbolehkan dalam wawancara kerja.
Sementara itu, temuan data Departemen Tenaga kerja Amerika Serikat (AS) mengungkapkan tingkat pengangguran pasar kerja teknologi informasi 3,8% pada April. Naik tipis dari Maret sebanyak 3,6%.
Gelombang PHK juga terus terjadi selama awal 2026 di sejumlah bisnis termasuk sektor teknologi karena alasan AI.
AI juga menjadi alasan Meta mengurangi sekitar 10 persen atau 8000 pegawai dengan alasan perampingan operasional dalam membiayai investasi di bidang AI.
Nike juga melakukan efisiensi sebanyak 2 persen atau 1400 pegawai karena alasan operasional global.
Beda lagi dengan Snap yang memecat 16 persen atau 1000 pegawal dengan alasan efisiensi.
(dis/dis)