Advertisement

Rotan dan Bambu Sintentis: Estetika Hangat Tren Zero Waste Interior

InsertLive | Insertlive
Ki-ka, James (Barca Living), Stanford (Enviro Craft), Erik (Spatial Sonata), dan Karen (OBSESSIONS) di event ARCH:ID
Rotan dan Bambu Sintentis: Estetika Hangat Tren Zero Waste Interior/Foto: InsertLive/Dias
Jakarta -

Kesadaran akan keberlanjutan (sustainability) kini semakin memengaruhi arah tren desain interior, mendorong munculnya konsep zero waste yang menekankan minimnya limbah sejak proses produksi hingga penggunaan.

Dalam hal ini, material seperti rotan sintetis dan bambu menjadi sorotan karena dinilai lebih ramah lingkungan dibanding bahan konvensional. Rotan sintetis, misalnya, dirancang tahan lama sehingga mengurangi kebutuhan penggantian furnitur dalam jangka pendek, sementara bambu dikenal sebagai material cepat tumbuh yang dapat dipanen tanpa merusak ekosistem.

Kombinasi keduanya menghadirkan solusi desain yang tidak hanya estetis, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan jejak karbon.

Lebih dari sekadar tren, penggunaan rotan sintetis dan bambu dalam interior mencerminkan pergeseran gaya hidup menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Advertisement

Desainer kini mulai mengedepankan prinsip zero waste dengan memanfaatkan sisa potongan material, mendaur ulang elemen lama, hingga merancang furnitur multifungsi agar tidak mudah terbuang.

Hasilnya adalah ruang yang terasa hangat, natural, dan berkarakter, sekaligus selaras dengan nilai keberlanjutan.

Di tengah meningkatnya kesadaran lingkungan, pilihan material ini bukan hanya soal gaya, tetapi juga pernyataan sikap terhadap masa depan bumi yang lebih lestari.

Penggunaan rotan dan bambu sintetis ini kemudian diaplikasikan langsung oleh Enviro Craft yang selama tiga puluh tahun menerapkannya dalam industrial interior design.

"Selama 30 tahun ini, kami percaya bahwa desain yang hebat tak hanya dilihat tetapi juga dirasakan seperti tiap anyaman, tekstur, dan skala instalasi yang kami hadirkan membawa komitmen yakni desain berintegritas dengan kualitas pengerjaan dan perhatian tanpa henti di tiap detail," kata Stanford S, Founder dan Direktur Enviro Craft pada media, Kamis (23/4) di ARCH:ID, ICE BSD.

Dalam event ARCH:ID, Enviro memperlihatkan booth instalasi After Tempo kolaborasi Spatial Sonata dan Obsessions.

"Kita bikin exhibition collab sama Enviro secara gampangnya kan kita mencoba aturkan flow atau garis besarnya tempo yang diatur di dalam booth dibuat lagi lebih detail," kata Erik, owner Spatial Sonata.

"Kita ellaborate rotan dan bambu dari dinding, ceiling, lampu sampai detailing bangku dan meja buatan Enviro dalam booth ini," tandasnya.

Ki-ka, James (Barca Living), Stanford (Enviro Craft), Erik (Spatial Sonata), dan Karen (OBSESSIONS) di event ARCH:IDKi-ka, James (Barca Living), Stanford (Enviro Craft), Erik (Spatial Sonata), dan Karen (OBSESSIONS) di event ARCH:ID/ Foto: InsertLive/Dias

Pada akhirnya, rotan sintetis dan bambu tak lagi sekadar pilihan material, melainkan representasi arah baru dalam desain interior yang lebih sadar lingkungan.

Di balik tampilannya yang hangat dan menenangkan, tersimpan upaya untuk menekan limbah, memperpanjang usia pakai, serta menjaga keseimbangan alam.

Tren ini menunjukkan bahwa keindahan ruang tidak harus mengorbankan bumi karena justru bisa berjalan seiring, menghadirkan hunian yang bukan hanya nyaman dipandang, tetapi juga bertanggung jawab untuk masa depan.

(dis/dis)
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement