Advertisement

Musim Dingin Tetap Butuh Sunscreen, Ini Alasannya

Astrid Riyani Atmaja | Insertlive
Railway in winter with sun
Musim Dingin Tetap Butuh Sunscreen, Ini Alasannya/Foto: Freepik/jannoon028
Jakarta -

Memasuki awal tahun, sejumlah negara empat musim masih diselimuti oleh salju. Di tengah musim dingin tersebut, waktu siang hari biasanya jauh lebih pendek dan langitnya cenderung berawan. Akibatnya, keberadaan sang surya kerap tidak disadari.

Masih banyak yang berpikir bahwa tabir surya atau sunscreen sudah tidak diperlukan lagi pada kondisi iklim tersebut. Padahal, sinar UV tetap hadir di siang hari meski dalam suhu yang rendah.

Para ahli dermatologis menyebutkan bahwa sepanjang Januari justru menjadi periode yang paling rentan terjadi kerusakan kulit jangka panjang. Paparan sinar matahari di musim dingin memang tidak sepanas di negara-negara tropis saat musim kemarau. Namun, kondisi ini justru menjadi pengecoh. Selama musim dingin, bukan sengatan sinar matahari yang jadi masalah utama, tetapi proses penuaan kulit yang terjadi secara diam-diam.

Banyak orang yang lengah saat hal ini terjadi. Inilah yang membuat paparan sinar matahari di bulan Januari lebih berbahaya dibandingkan bulan-bulan lainnya. Dalam kondisi ini, perlindungan dari tabir surya sangat dibutuhkan.

Advertisement

Saat musim dingin, tantangan terbesar di siang hari sebenarnya bukanlah indeks UV itu sendiri, melainkan kurangnya tanda paparan sinar matahari yang jelas. Berbeda dengan musim semi atau panas yang paparan sinar mataharinya lebih tampak sehingga orang-orang dapat segera meneduh atau mengoleskan tabir surya kembali.

Meski suhunya terasa sejuk, paparan sinar matahari tetap memiliki tingkat UV A yang tinggi. Sinar matahari ini dapat menembus lapisan dermis hingga merusak kolagen kulit. Kondisi ini bisa memicu hiperpigmentasi hingga penuaan dini, seperti munculnya flek hitam atau kerutan pada bagian tertentu. Rendahnya kesadaran terhadap paparan sinar ultraviolet saat musim dingin seringkali membuat efeknya jauh lebih parah dibandingkan saat musim panas.

Lebih lanjut, posisi matahari berada di titik terendah langit saat musim dingin. Fenomena ini disebabkan oleh kemiringan poros bumi yang menjauhi pusat tata surya sehingga matahari muncul dari sudut yang lebih rendah. Artinya, matahari berada lebih dekat dengan permukaan bumi. Alhasil, paparan sinar ultraviolet memiliki intensitas yang lebih kuat.

Terlebih lagi, kondisi udara yang kering membuat permukaan kulit rentan mengalami pecah-pecah. Lapisan pelindung kulit yang rusak ini bisa jadi lebih parah saat terkena paparan sinar ultraviolet. Kulit yang kering akan lebih berisiko mengalami peradangan atau terbakar dibandingkan kulit yang terhidrasi saat cuaca panas.

Oleh sebab itu, penggunaan tabir surya tetap penting saat musim dingin agar kulit tetap terlindungi dari paparan sinar ultraviolet. Pilih tabir surya dengan SPF minimal 30. Untuk perlindungan yang lebih maksimal, oleskan tabir surya secara merata pada bagian tubuh yang terbuka setiap dua hingga tiga jam sekali, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

(Astrid Riyani Atmaja/fik)

Komentar

!nsertlive