Kenali Ciri-ciri Bipolar yang Sedang Kambuh agar Bisa Ditangani Lebih Cepat
Kenali Ciri-ciri Bipolar yang Sedang Kambuh agar Bisa Ditangani Lebih Cepat
Gangguan bipolar dikenal dengan pola suasana hati yang naik turun dan sering kali datang tanpa disadari oleh penderitanya atau orang terdekat. Perubahan suasana hati yang ekstrem, pola tidur yang berantakan, hingga perilaku yang terasa "berbeda dari biasanya" kerap dianggap sepele, padahal bisa menjadi sinyal awal kondisi bipolar sedang kambuh.
Mengenali tanda-tanda ini sejak dini sangat penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.. Dengan pemahaman yang lebih baik, risiko kondisi memburuk dapat ditekan, sekaligus membantu penderita merasa lebih aman dan didukung. Berikut penjelasan lengkap mengenai bipolar dan ciri-ciri saat kondisinya mulai kambuh.
Apa itu Bipolar?
Bipolar disorder, yang juga dikenal sebagai manic depression, merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem dan berbeda jauh dari kondisi emosional normal. Istilah bipolar sendiri berasal dari kata bi yang berarti dua dan polar yang berarti berlawanan. Artinya, penderita bisa berpindah dari satu kondisi emosional ke kondisi yang sangat kontras.
Perubahan suasana hati ini umumnya terbagi ke dalam dua fase utama. Ada fase mania atau hipomania yang ditandai dengan perasaan sangat gembira, euforia berlebihan, energi tinggi, atau justru mudah tersinggung. Kemudian ada fase depresif yang ditandai dengan suasana hati yang sangat rendah, rasa sedih mendalam, kehilangan minat, hingga perasaan putus asa.
Peralihan antar fase ini bisa berlangsung dalam hitungan hari, minggu, bahkan bulan. Dengan penanganan yang tepat, kondisi bipolar memang bisa dikontrol, tetapi penting dipahami bahwa gangguan ini bersifat seumur hidup.
Studi tahun 2024 mencatat adanya peningkatan kasus bipolar pada remaja dan dewasa muda, dengan angka insidensi sekitar 79 per 100.000 penduduk usia 15 hingga 19 tahun. WHO juga melaporkan bahwa pada 2016 terdapat sekitar 60 juta penderita bipolar di dunia, dan jumlahnya terus bertambah. Di Indonesia sendiri, data Institute for Health Metrics and Evaluation tahun 2017 menempatkan bipolar disorder sebagai salah satu gangguan mental dengan jumlah penderita terbesar.
Ciri-Ciri Bipolar Kambuh
Kekambuhan bipolar biasanya ditandai dengan munculnya kembali fase mania atau fase depresif secara lebih intens. Polanya bisa berbeda pada setiap orang, tetapi beberapa tanda umum berikut patut diwaspadai.
Fase Mania
Fase mania ditandai dengan lonjakan energi dan suasana hati yang terasa terlalu tinggi. Pada kondisi tertentu, fase ini bisa mendorong perilaku impulsif dan berisiko.
Euforia berlebihan
Perasaan sangat bahagia, merasa berada di puncak segalanya, dan berlangsung terus-menerus meski situasi sebenarnya tidak mendukung perasaan tersebut.
Kebutuhan tidur menurun drastis
Tidur hanya dua hingga tiga jam atau bahkan tidak tidur sama sekali, tetapi tubuh tetap terasa penuh energi.
Berbicara sangat cepat dan sulit dihentikan
Ucapan mengalir tanpa jeda, topik sering meloncat, dan sulit disela (flight of ideas). Kondisi ini dikenal sebagai pressure of speech.
Peningkatan aktivitas dan energi secara tiba-tiba
Dorongan kuat untuk melakukan banyak hal sekaligus, mulai dari memulai proyek baru hingga aktivitas yang tidak direncanakan sebelumnya.
Rasa percaya diri yang tidak realistis
Muncul keyakinan berlebihan terhadap kemampuan diri (grandiosity), merasa paling hebat, atau yakin bisa melakukan hal-hal besar tanpa batas.
Mudah tersinggung dan marah
Alih-alih euforia, sebagian penderita justru menunjukkan emosi yang cepat naik, mudah kesal, cepat terganggu (irritable), dan agresif terhadap hal kecil.
Perilaku impulsif dan berisiko
Mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang, seperti belanja berlebihan, berjudi, atau terlibat dalam perilaku berisiko lainnya.
|
Baca Juga : Gejala Bipolar pada Anak yang Sering Diabaikan
|
Fase Depresif
Berbanding terbalik dengan mania, fase depresif ditandai dengan penurunan suasana hati yang signifikan dan rasa kehilangan arah. Kondisi ini menyerupai mirip dengan depresi klinis, namun terjadi dalam konteks gangguan bipolar.
Kesedihan mendalam dan rasa hampa
Mengalami perasaan terpuruk, sedih, atau kosong yang bertahan hampir sepanjang hari dan sulit dijelaskan penyebabnya.
Kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari (Anhedonia)
Hal-hal yang sebelumnya menyenangkan terasa hambar dan tidak lagi menarik. Penderita juga tidak lagi menjalankan hobi atau pekerjaan yang dulunya dinikmati.
Kelelahan berkepanjangan
Tubuh terasa sangat lemas, bahkan untuk melakukan aktivitas ringan sekalipun.
Sulit fokus dan mengambil keputusan
Pikiran terasa lambat, mudah lupa, dan sulit menentukan pilihan sederhana. Kondisi ini sering memengaruhi prestasi belajar pada remaja.
Perasaan bersalah dan tidak berharga
Muncul kritik diri berlebihan, merasa gagal, dan memandang diri secara negatif.
Perubahan pola tidur
Bisa berupa insomnia, sering terbangun dini hari, atau justru tidur terlalu lama (hypersomnia)
Mengabaikan perawatan diri
Motivasi untuk mandi, makan teratur, atau menjaga kebersihan menurun drastis.
Muncul pikiran menyakiti diri atau bunuh diri
Pikiran bahwa hidup tidak lagi berarti atau keinginan mengakhiri hidup. Kondisi ini tergolong darurat dan membutuhkan bantuan medis secepatnya.
Gangguan bipolar memang bisa dikelola dengan baik, meski proses pemulihannya berbeda pada tiap individu. Konsistensi menjalani pengobatan, rutin berkonsultasi dengan tenaga profesional, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar memegang peran penting dalam menjaga kondisi tetap stabil. Karena itu, pendampingan psikiater tetap diperlukan agar penanganan berjalan tepat dan kualitas hidup penderita dapat terus terjaga.
(Steffy Gracia/arm)