Janji akan Alokasikan Gaji serta Tunjangan untuk Rakyat, Nafa Urbach Malah Dicibir
Nafa Urbach belakangan menjadi sorotan publik usai dirinya memberikan tanggapan terkait kenaikan gaji dan tunjangan rumah anggota DPR RI senilai Rp50 juta per bulan. Kritikan pedas pun ramai membanjiri kolom komentar unggahan Nafa Urbach di Instagram.
Mananggapi kritikan pedas tersebut, Nafa pun mengutarakan janjinya untuk mengalokasikan gaji serta tunjangan yang diterimanya sebagai anggota dewan untuk masyarakat.
"Anggota dewan itu tidak banyak rumah jabatan. Dikarenakan banyak sekali anggota dewan yang dari luar kota, maka dari itu, banyak sekali anggota dewan yang ngontrak di dekat Senayan supaya memudahkan mereka ke kantor," ucap Nafa Urbach dalam sebuah siaran langsung yang diunggah ulang oleh akun @rumpi_gosip, dilihat Rabu (20/8).
"Saya aja yang tinggalnya di Bintaro, macetnya luar biasa. Ini udah setengah jam di perjalanan, masih macet," sambungnya.
Nafa Urbach mengaku mengetahui keresahan yang dialami masyarakat. Maka dari itu, Nafa Urbach berjanji akan mengalokasikan gaji dan tunjangan yang diterimanya sebagai anggota dewan untuk masyarakat.
Anggota Komisi IX itu dengan tegas mengatakan dirinya akan memberikan seluruh gaji dan tunjangan yang diterimanya kepada masyarakat di daerah pemilihannya.
Namun, janji yang diutarakan Nafa Urbach justru dianggap hanya omong kosong oleh sebagian masyarakat. Bahkan, ada netizen yang meragukan janji Nafa Urbach untuk mensejahterakan para guru.
"Ngasih statement aja blunder mbak. Yakin bisa ngurus guru-guru?," tanya seorang netizen meragukan, yang diunggah Nafa Urbach pada Instagran Storiesnya, dilihat Rabu (27/8).
Nafa Urbach pun menanggapi komentar netizen tersebut. Ia pun tak menampik tidak semua orang bisa mempercayai dirinya. Walaupun begitu, Nafa meminta diberikan waktu untuk menepati janjinya tersebut.
"Saya paham tidak semua orang bisa percaya, atau banyak yang akan bilang ini pencitraan. Saya akan buktikan lewat tindakan nyata dan transparansi. Beri saya waktu untuk mendata para guru di dapil 6 dan mungkin seperti tadi ada yang bilang BpJS untuk lansia untuk dibayarkan secara mandiri saya sangat setuju. Sabar yah, saya dan team dapil butuh waktu supaya yang menerima benarbenar orang yang membutuhkan dan kesulitan. Kita mulai ini bulan depan yah teman," tutur Nafa Urbach.
Pada unggahan lainnya, Nafa Urbach membagikan komentar netizen yang meminta dirinya untuk bersuara demi rakyat agar menurunkan gaji anggota DPR. Nafa Urbach pun berjanji akan berusaha menyampaikan pesan masyarakat kepada anggota dewan di DPR.
"Basi mbak, mending mbak bantu rakyat suarakan di dalam DPR untuk turunkan gaji kalian," ujar seorang netizen.
"Saya paham banyak masyarakat yang berharap gaji dan tunjangan DPR diturunkan, tapi karena itu keputusan bersama di DPR, saya memilih cara yang bisa langsung saya lakukan sendiri terlebih dahulu dengan mengembalikan seluruh gaji dan tunjangan saya ke masyarakat di dapil sampai 2029," balas Nafa Urbach.
"Ini langkah yang saya bisa saya lakukan sendiri terlebih dahulu. Tapi saya berterima kasih untuk masukan mbak. Dan pasti saya akan sampaikan itu ke teman-teman lain di DPR," sambungnya.
Bahkan, ada netizen yang menyebut Nafa Urbach bisa saja mempermainkan masyarakat dengan janji-janji palsunya. Netizen tersebut juga menyoroti Nafa Urbach yang memutuskan pindah agama.
"Jadi artis aja lu! Agama aja lu permainkan, apalagi rakyat," sindir netizen.
Mananggapi cibiran netizen tersebut, Nafa Urbach menyebut dirinya hanya fokus untuk berbuat baik kepada masyarakat.
"Pilihan keyakinan adalah keputusan pribadi saya sejak 2023. Yang terpenting bagi saya sekarang adalah terus berbuat baik dan bermanfaat untuk masyarakat. Karena pada akhirnya, yang diingat bukan apa agama saya, tapi apa yang sudah saya lakukan untuk orang lain, terutama di dapil saya, dapil 6," jelas Nafa Urbach.
Seperti diketahui, masyarakat mengkritik kebijakan soal kenaikan gaji serta tunjangan rumah bagi anggota DPR RI senilai Rp50 juta per bulan. Pada Senin (25/8) kemarin, masyarakat berbondong-bondong ke Gedung DPR RI menuntut dibatalkannya kebijakan tersebut. Demo pun berakhir ricuh usai aparat kepolisian berusaha membubarkan massa dengan gas air mata.
(kpr/fik)