Mengenang Kembali Deretan Karya Terbaik Arswendo Atmowiloto
Yogi Alfian |
Insertlive
Jakarta -
Sang penulis novel Keluarga Cemara dikabarkan telah meninggal pada hari ini, Jum'at (19/7) pukul 17.50 di rumahnya Kompleks Jalan Damai, Pesanggrahan, Jakarta Barat.
Sebagai seorang seniman, karya-karya Arswendo sangat dihargai oleh masyarakat Tanah Air.
Berikut Insertlive sajikan deretan karya film terbaik yang melibatkan Arswendo Atmowiloto:
Sinetron yang diproduksi oleh Mizan Productions ini termasuk salah satu serial terpanjang di Indonesia tanpa melupakan sisi kualitas, karena terbukti sinetron Keluarga Cemara telah memperoleh beberapa meraih penghargaan paling banyak dan bergengsi diantaranya Panasonic Awards sebagai serial terbaik dan gelar Sinetron Terpuji yang diberikan Festival Film Bandung.
Pengkhiantan G30S/PKI adalah sebuah judul film bergenre dokudrama propaganda Indonesia tahun 1984. Film ini disutradai dan ditulis oleh Arifin C. Noer, serta diproduseri oleh G. Dwipayana.
Film itu menggambarkan masa menjelang kudeta dan beberapa hari setelah peristiwa mencekam tersebut. Kekacauan ekonomi saat itu membuat enem Jenderal diculik dan dibunuh oleh PKI dan TNI Angkatan Udara. Konon, katanya, itu terjadi untuk memulai kudeta terhadap Soekarno yang menjabat sebagai Presiden kala itu.
Pengkhianatan G 30 S PKI meraih sukses secara komersial maupun kritis. Film ini dinominasikan untuk tujuh penghargaan di Festival Film Indonesia 1984, memenangkan satu, dan mencapai angka rekor penonton - meskipun dalam banyak kasus penonton diminta untuk melihat film ini, alih-alih secara sukarela.
Film tersebut mengisahkan tentang 3 bagian drama sejarah yang menentukan nasib bangsa Indonesia pada tahun 1945. Di mana saat itu perang telah berakhir dan Indonesia berusaha keras meraih kemerdekaannya. Kisah ini mengambil tokoh seorang paman dan keponakannya (Temon).
Menceritakan tentang sang paman yang berusaha untuk mendapatkan cinta dari gadis pujaannya sedangkan keponakannya sendiri lebih dalam usahanya dalam menunggu ayahnya yang berprofesi sebagai tentara kembali dari medan peperangan.
Kisahnya dimulai dengan pesta 25 tahun perkawtinan bu dan Pak Padmo (Tuti Indra Malaon dan Rachmat Hidayat). Saat itu muncul kecemburuan Bu Padmo terhadap sekretaris Pak Padmo, Tante Retno (Niniek L.Karim). Kecemburuan ini membuat banyak salah paham, yang bisa diakhiri dengan gembira.
Pacar Ketinggalan Kerata merupakan salah satu film Indonesia yang termasuk terbaik sampai saat ini karena hampir memenangkan Piala Citra di semua kategori utama. Film ini didukung oleh aktor dan aktris terkenal seperti Nurul Arifin, Tuti Indra Malaon dan Onky Alexander.
(yoa/yoa)
Loading ...
Mengenang Kembali Deretan Karya Terbaik Arswendo Atmowiloto
Kabar duka datang dari salah satu sastrawan dan jurnalis Indonesia, Arswendo Atmowiloto.Pilihan Redaksi |
Sang penulis novel Keluarga Cemara dikabarkan telah meninggal pada hari ini, Jum'at (19/7) pukul 17.50 di rumahnya Kompleks Jalan Damai, Pesanggrahan, Jakarta Barat.
Sebagai seorang seniman, karya-karya Arswendo sangat dihargai oleh masyarakat Tanah Air.
Berikut Insertlive sajikan deretan karya film terbaik yang melibatkan Arswendo Atmowiloto:
Keluarga Cemara
Keluarga Cemara adalah sebuah serial sinetron yang mulai penayangannya pada tahun 1996 hingga tamat pada tahun 2005. Keluarga Cemara sendiri adalah cerita sambung karya Arswendo Atmowiloto.
Advertisement
Sinetron yang diproduksi oleh Mizan Productions ini termasuk salah satu serial terpanjang di Indonesia tanpa melupakan sisi kualitas, karena terbukti sinetron Keluarga Cemara telah memperoleh beberapa meraih penghargaan paling banyak dan bergengsi diantaranya Panasonic Awards sebagai serial terbaik dan gelar Sinetron Terpuji yang diberikan Festival Film Bandung.
Pengkhianatan G30S/PKI
Arswendo Atmowiloto membantu mempromosikan film Pengkhianatan G30S/PKI dengan membuat novel yang sama dengan judul film tersebut.Pengkhiantan G30S/PKI adalah sebuah judul film bergenre dokudrama propaganda Indonesia tahun 1984. Film ini disutradai dan ditulis oleh Arifin C. Noer, serta diproduseri oleh G. Dwipayana.
Film itu menggambarkan masa menjelang kudeta dan beberapa hari setelah peristiwa mencekam tersebut. Kekacauan ekonomi saat itu membuat enem Jenderal diculik dan dibunuh oleh PKI dan TNI Angkatan Udara. Konon, katanya, itu terjadi untuk memulai kudeta terhadap Soekarno yang menjabat sebagai Presiden kala itu.
Pengkhianatan G 30 S PKI meraih sukses secara komersial maupun kritis. Film ini dinominasikan untuk tujuh penghargaan di Festival Film Indonesia 1984, memenangkan satu, dan mencapai angka rekor penonton - meskipun dalam banyak kasus penonton diminta untuk melihat film ini, alih-alih secara sukarela.
Serangan Fajar
Serangan Fajar adalah sebuah film dokumentar drama perand Indonesia pada tahun 2981. Film tersebut disutradai oleh Arifin C. Noer dan dibintangi oleh Amoroso Katamsi. Serangan Fajar kemudian dinovelkan oleh Arifin C. Noer dan Arswendo Atmowiloto.Film tersebut mengisahkan tentang 3 bagian drama sejarah yang menentukan nasib bangsa Indonesia pada tahun 1945. Di mana saat itu perang telah berakhir dan Indonesia berusaha keras meraih kemerdekaannya. Kisah ini mengambil tokoh seorang paman dan keponakannya (Temon).
Menceritakan tentang sang paman yang berusaha untuk mendapatkan cinta dari gadis pujaannya sedangkan keponakannya sendiri lebih dalam usahanya dalam menunggu ayahnya yang berprofesi sebagai tentara kembali dari medan peperangan.
Pacar Ketinggalan Kereta
Pacar Ketinggalan Kereta adalah film yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul Kawinnya Juminten (1985) karya Arswendo Atmowiloto.Kisahnya dimulai dengan pesta 25 tahun perkawtinan bu dan Pak Padmo (Tuti Indra Malaon dan Rachmat Hidayat). Saat itu muncul kecemburuan Bu Padmo terhadap sekretaris Pak Padmo, Tante Retno (Niniek L.Karim). Kecemburuan ini membuat banyak salah paham, yang bisa diakhiri dengan gembira.
Pacar Ketinggalan Kerata merupakan salah satu film Indonesia yang termasuk terbaik sampai saat ini karena hampir memenangkan Piala Citra di semua kategori utama. Film ini didukung oleh aktor dan aktris terkenal seperti Nurul Arifin, Tuti Indra Malaon dan Onky Alexander.
(yoa/yoa)