Hotman Paris Desak DPR Panggil Kapolda NTB terkait Kasus Santri Diduga Dibakar Senior
Pengacara Hotman Paris ikut menyoroti kasus dugaan pembakaran tiga santri di Pondok Pesantren Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ia bahkan mendesak Komisi III DPR RI memanggil Kapolda NTB karena menilai penanganan perkara tersebut belum menunjukkan perkembangan berarti.
Menurut Hotman, kasus ini tergolong serius lantaran pelaku disebut belum juga ditangkap meski peristiwanya telah terjadi beberapa bulan lalu.
"Parah pelaku belum ditangkap! Halo Kapolda?????? Kom 3 Dpr agar panggil Polda Setempat!!," tulis Hotman dalam unggahannya, Rabu (8/7).
Tak berhenti di situ, pengacara kondang tersebut juga mempertanyakan informasi yang diterimanya terkait dugaan adanya oknum aparat yang menghalangi keluarga korban.
"Apa benar ada oknum aparat halang-halangi keluarga korban?," tanyanya.
Hotman mengaku memperoleh kabar bahwa keluarga korban yang saat ini berada di Rumah Sakit Bhayangkara tidak diizinkan bertemu dengan pihak luar, termasuk relawan yang selama ini mendampingi mereka.
"Sekarang pihak keluarga ada di RS Bhayangkara, mereka dilarang bertemu dengan pihak luar termasuk relawan yg sudah membantu!," tulis Hotman.
Ia juga menyebut ruang perawatan korban dijaga oleh aparat kepolisian bersama pihak rumah sakit.
"Di ruangan di jaga kepolisian dan pihak rumah sakit," pungkasnya.
Kasus yang disoroti Hotman bermula dari dugaan pembakaran terhadap tiga santri di Pondok Pesantren Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah.
Peristiwa itu mengakibatkan satu korban meninggal dunia, sedangkan dua santri lainnya mengalami luka bakar serius.
Meski terjadi pada November 2025, kasus tersebut baru menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial pada Juni 2026.
Berdasarkan keterangan para korban, mereka diduga disiram bahan bakar lalu dibakar oleh senior usai melaporkan tindakan kenakalan pelaku kepada pimpinan pondok pesantren.
Di sisi lain, pihak pesantren membantah adanya unsur kesengajaan. Mereka menyatakan insiden itu merupakan kecelakaan saat para santri bermain bensin untuk meluruskan kayu ketapel.
(KHS/fik)