Tio Pakusadewo Nangis Kenang Momen Belajar Ngaji Lagi di Penjara berkat Ali Imron
Perjalanan hidup aktor senior Tio Pakusadewo tampaknya memasuki fase yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah melewati berbagai ujian, termasuk masa-masa sulit yang membawanya ke balik jeruji, pria berusia 62 tahun itu kini mengaku menemukan makna hidup yang berbeda.
Dalam sebuah wawancara yang penuh emosi, Tio bahkan menyebut kehidupannya saat ini seperti adegan terakhir dalam sebuah film.
Sebuah titik balik yang membuatnya ingin menata ulang banyak hal dalam hidup, terutama hubungan dengan dirinya sendiri dan Tuhan.
Air mata Tio tak terbendung saat mengenang perjalanan spiritual yang mulai berubah ketika dirinya berada di penjara.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda.
"Ya Tuhan mohon maaf. Sampai saya berkesimpulan, ya ini kalau di film ini adegan tikungan yang terakhir. Ya mungkin sudah saatnya saya bebenah semua-semua kan, yang di dalam terutama. Bebenah dirilah ya. Banyak mengurangi hal-hal yang tidak perlu. Ucapan yang tidak perlu. Tindakan apalagi. Berpikir juga nggak perlu juga. Terima saja ini hadiah dari Tuhan. Mungkin kalau orang yang sehat tahu bahwa sakit itu adalah ibadah dan luar biasa. Mereka berebut sakit," kata Tio Pakusadewo di Rumpi: No Secret, Selasa (23/6).
Momen yang paling membekas bagi Tio justru datang dari sosok yang tak pernah ia duga sebelumnya, yakni Ali Imron.
Mantan terpidana kasus terorisme itu menjadi orang yang mengingatkannya kembali pada pelajaran mengaji yang sudah lama ditinggalkan.
Pertemuan keduanya terjadi saat sama-sama berada di dalam penjara. Saat itu, Ali Imron dikenal para penghuni lapas dengan panggilan Pak Ustaz.
Awalnya, Tio mengaku tidak mengenalnya dan bahkan enggan untuk bertemu.
Namun, seiring waktu, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Dari obrolan sederhana itulah muncul pertanyaan yang kemudian mengubah banyak hal dalam hidup Tio.
"'Mau belajar ngaji nggak? Eh pernah ngaji nggak? Masih ingat?'. 'Nggak, ya jim ha kho selebihnya lupa'. 'Mau saya ajarin?', 'Lama nggak?', gue bilang. 'Tergantung kalau masih cerdas bisa'. Dia menjamin dua hari bisa lancar lagi. Ternyata, bisa," cerita Tio.
Pengalaman tersebut menjadi awal dari perjalanan spiritual yang semakin kuat. Tio mulai kembali membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan mempelajari surat-surat yang sebelumnya sudah lama tidak ia sentuh.
"Nah dari situ saya mulai baca-baca ayat yang disarankan gitu ya. Hebatnya di penjara itulah, saya bisa menghapal ayat kursi. Menghapal banyak surat. Sekeluarnya pun saya masih bisa menghapa Al-A'la," akunya.
Kenangan itu membuat Tio kembali menangis. Baginya, kemampuan untuk kembali mengaji dan menghafal surat-surat pendek menjadi bukti kasih sayang Tuhan yang masih diberikan kepadanya, bahkan ketika dirinya sedang berada dalam titik terendah kehidupan.
Perubahan tersebut juga memengaruhi kebiasaan sehari-harinya. Selama dua tahun terakhir sebelum jatuh sakit, Tio mengaku hampir tidak pernah melewatkan salat Subuh berjamaah di masjid. Aktivitas itu menjadi bagian penting dalam rutinitas hidupnya.
Kondisi kesehatan yang menurun belakangan ini membuatnya tidak lagi bisa menjalani kebiasaan tersebut secara rutin. Hal itu menjadi salah satu kehilangan yang paling ia rasakan.
"Saya 2 tahun terakhir itu tidak pernah luput dari subuh. Sampai akhirnya saya sakit. Setelah sakit ini, kehilangan banyak karena udah jarang subuh di masjid," ungkapnya.
Perubahan itu rupanya juga disadari oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam acara tersebut, dibacakan komentar seorang netizen yang mengaku sudah lama tidak melihat Tio pulang dari masjid seperti biasanya.
Bagi Tio, perjalanan hidup yang penuh tikungan tajam itu kini justru membawanya pada pemahaman baru.
Bukan lagi soal popularitas atau pencapaian karier, melainkan bagaimana ia memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
(ikh/ikh)