Jiwa Konsumtif Berkurang, Ussy Sulistiawaty Makin Mencintai Versi Diri yang Sekarang
Ussy Sulistiawaty Bikin Kaget, Dulu Punya Lebih dari 1.000 Parfum Kini Pilih Hidup Sederhana
Selama bertahun-tahun, nama Ussy Sulistiawaty identik dengan kehidupan mewah.
Koleksi tas branded, sepatu keluaran terbaru, hingga parfum mahal dari berbagai merek dunia kerap menjadi bagian dari gaya hidup istri Andhika Pratama tersebut.
Namun, siapa sangka perempuan yang dikenal sebagai salah satu selebritas sukses Tanah Air itu kini justru menikmati fase hidup yang sangat berbeda.
Bukan lagi soal mengejar barang terbaru atau menambah koleksi mewah, Ussy mengaku lebih memilih kenyamanan dan ketenangan dibanding kepuasan sesaat dari berbelanja.
Pengakuan itu disampaikan Ussy melalui akun Threads pribadinya. Ia secara jujur menceritakan bagaimana dirinya perlahan meninggalkan kebiasaan konsumtif yang dulu sempat menjadi bagian dari kesehariannya.
Salah satu cerita yang paling mencuri perhatian adalah soal koleksi parfum miliknya.
Jumlahnya bukan puluhan atau ratusan, melainkan pernah mencapai lebih dari seribu botol.
"Pernah punya parfum sampe 1000 botol lebih, lalu mulai kasi2 ke org2, sampe berkurang sedikit demi sedikit.. hanya nyimpen yg bener2 di suka.. skrg paling ga sampe 400 botol sisa di rmh," tulis Ussy dalam unggahannya.
Meski jumlah yang tersisa masih terbilang fantastis bagi kebanyakan orang, angka tersebut menunjukkan perubahan besar yang sedang dijalani ibu lima anak itu.
Ussy mengaku kini tidak lagi tergoda untuk terus menambah koleksi parfum baru seperti dulu.
Bahkan, ia baru menyadari bahwa sudah hampir tujuh bulan dirinya tidak membeli parfum sama sekali.
Keputusan itu diambil karena ia merasa stok yang dimiliki masih sangat banyak dan layak digunakan.
"Make pun ya itu2 aja, n baru ngeh jg hampir 7 bulan ini ga belanja parfum. Skrg mikir ya udah yg ada dulu deh pake," tambahnya.
Perubahan pola pikir tersebut ternyata tidak hanya berlaku untuk parfum.
Ussy mengaku kebiasaan membeli tas mewah juga sudah jauh berkurang dibanding beberapa tahun lalu.
Jika dahulu dirinya merasa harus selalu tampil dengan tas berbeda setiap hari, kini ia justru lebih memikirkan fungsi daripada gengsi.
Baginya, tas yang nyaman digunakan dan mampu menampung kebutuhan sehari-hari sudah lebih dari cukup.
"Pernah di 1 masa tiap hari harus ganti tas tapi sekarang ya itu2 ajaaaa. Yg penting masuk n bisa cemplang cemplung," tuturnya.
Transformasi serupa juga terjadi pada koleksi sepatu. Ussy mengenang masa ketika dirinya selalu ingin memiliki model terbaru yang sedang tren.
Mulai dari desain lancip, platform tebal, hingga model yang penuh hiasan berkilau, semuanya pernah masuk daftar incarannya.
Kini situasinya berbeda. Faktor kenyamanan menjadi pertimbangan utama sebelum membeli atau mengenakan sepatu.
"Skrg pake ternyaman ter enak n ga pegel (ini pasti krn menua)," tulisnya sambil berseloroh.
Di balik perubahan itu, Ussy mengaku menemukan versi dirinya yang lebih ia sukai.
Bertambahnya usia membuat cara pandangnya terhadap barang-barang mewah ikut berubah.
Perempuan berusia 45 tahun itu menyadari bahwa keinginan untuk selalu memiliki produk terbaru dari merek favorit perlahan memudar seiring waktu.
"Makin mencintai ussy versi yg skrg.. dulu tiap ada keluaran tas terbaru merk favorite cewe2 di dunia.. pastii lngs di kejar gmn caranya harus beli." kata Ussy.
"Beberapa tahun belakangan jiwa2 konsumtif makin jauh berkurang.. apa krn makin tua ya," ungkapnya.
Refleksi tersebut kemudian berujung pada satu kesimpulan sederhana yang menurutnya sangat berharga.
Setelah berbagai pengalaman mengoleksi barang mewah, Ussy merasa kebahagiaan tidak lagi datang dari membeli sesuatu yang baru.
Baginya, kenyamanan justru menjadi hal yang jauh lebih penting daripada sensasi sesaat ketika berhasil mendapatkan barang impian.
"Skrg yg di butuhkan kenyamanan bukan lg kepuasan sesaat.. beli pake lalu udah, rasanya akan sama aja no special," pungkas Ussy.
Pengakuan itu langsung menarik perhatian banyak warganet. Pasalnya, Ussy selama ini dikenal sebagai figur publik yang dekat dengan citra kemewahan.
Kini, ia justru menunjukkan bahwa semakin bertambah usia, prioritas hidup seseorang bisa berubah drastis.
Dari mengejar koleksi tanpa henti, menjadi menikmati apa yang sudah dimiliki dan menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.
(ikh/ikh)