Potret Perjalanan Karier Christian Sugiono, dari Anak Band hingga Kerja di Resto
Awalnya, Christian Sugiono membagikan potret semasa dirinya masih belia. Dalam unggahan itu, ia mengungkapkan bagaimana rasa keingintahuan yang besar membuat dirinya ada di titik sekarang.
"Rasa ingin tahu telah membentukku menjadi seperti sekarang ini," tulisnya.
Seiring pertumbuhan usia, Christian masih belum yakin apa yang ia ingin capai dalam kehidupan.
"Aku sebenarnya tidak pernah tahu persis apa yang ingin aku capai. Jadi aku terus mengeksplorasi," ujarnya.
Ketika duduk di bangku SMA, Christian mencoba untuk terlibat aktif di media sekolah untuk menggali kreativitas.
"Saat masih SMA, saya bergabung dengan majalah sekolah Keris PL, di mana rasa ingin tahu saya pertama kali membawa saya ke dunia kreativitas, bercerita, dan media," katanya.
Namun, awal perjalanan di masa muda mempertemukan Christian dengan dunia musik.
"Sebelum bisnis dan perusahaan rintisan, ada musik," katanya.
Christian Sugiono menjalani kehidupan sebagai musisi yang menjelajah dari panggung ke panggung.
"Dari pertunjukan di sekolah menengah, festival lokal di sekitar Jakarta, dan acara sekolah. Dan akhirnya, bertemu dengan orang yang kemudian menjadi istri saya," katanya.
Perjalanan panjang kemudian membawa Christian berpetualang jauh ke luar negeri hingga mencoba bekerja di sebuah restoran dengan upah Rp123 ribu per jam.
"Kemudian kehidupan membawa saya ke luar negeri, di mana saya belajar bagaimana bertahan hidup sendiri. Bekerja berjam-jam di sebuah restoran dengan upah 6 euro per jam," ujarnya.
Pengalaman bekerja di restoran lantas memberikan banyak sekali pelajaran untuk Christian.
"Pengalaman-pengalaman yang mengajarkan saya kerendahan hati, disiplin, dan bahwa tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah untuk Anda lakukan," katanya.
Meski begitu, Christian tak pernah meninggalkan dunia musik yang juga mengajarkan banyak hal di kehidupan.
"Dan musik tetap menjadi bagian dari hidupku. Bermain di pertunjukan kecil dan kancah musik bawah tanah mengajariku ekspresi, energi, dan kebebasan," ujarnya.
Christian Sugiono akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia ketika internet mulai berkembang, dan mendirikan media online.
"Kemudian saya kembali ke Indonesia ketika internet baru mulai berkembang. Saya dan tim saya mulai membangun media online untuk kaum muda Indonesia," ujarnya.
Keaktifan di dunia media online membuat langkah Christian di perjalanan dunia digital semakin jauh.
"Hal itu membawa saya untuk berbicara di berbagai acara nasional dan internasional tentang kreativitas, teknologi, media, dan budaya digital," ujarnya.
Pria berusia 45 tahun ini tak memungkiri ada banyak kegagalan dari berbagai macam percobaan yang akhirnya menjadi pelajaran berharga.
"Sebuah perjalanan yang dipenuhi dengan banyak eksperimen. Banyak kegagalan. Banyak pembelajaran," ujar Christian.
Tak ingin menyerah, Christian kemudian melanjutkan petualangan di dunia digital dengan membangun platform kencan online.
"Saya menjadi terobsesi untuk memahami orang, perilaku manusia, dan teknologi. Rasa ingin tahu ini akhirnya membawa saya dan mitra saya untuk membangun platform kencan online yang berpusat pada koneksi antar manusia di era digital," katanya.
Rasa penasaran lantas membuat Christiian menggali dunia digital lebih dalam lagi dengan mendirikan platform pasar penyewaan. Sayangnya, proyek tersebut harus berhenti karena pandemi.
"Didorong oleh rasa ingin tahu sekali lagi, saya dan mitra saya membangun CUMI.ID, sebuah platform pasar penyewaan yang dibuat untuk mempermudah berbagi dan akses. Sayangnya, proyek ini harus berhenti ketika lockdown COVID mengubah dunia dalam semalam," ujarnya.
Semakin berkembang, Christian kemudian mendirikan wadah untuk mengeksplorasi kisah-kisah perjalanan menjelajahi pariwisata.
"Rasa ingin tahu dan pengalaman saya dalam bercerita, pembuatan konten, dan perjalanan akhirnya membawa saya untuk menjelajahi budaya, masyarakat, dan keindahan Indonesia," ujarnya.
Siapa sangka, wadah tersebut rupanya menjelma jadi serial perjalanan online pertama yang ada di Indonesia.
"Hal itulah yang menginspirasi kami untuk membuat Jalan-Jalan Men, serial perjalanan online pertama di Indonesia," katanya.
Jangkauan Christian semakin luas ketika dirinya mulai merambah ke bisnis parfum.
"Rasa ingin tahu saya akhirnya meluas ke dunia wewangian melalui The Perfection & The Prestige. Sebuah kolaborasi dengan HMNS Perfume, yang memadukan penceritaan, identitas, dan emosi ke dalam aroma," ungkapnya.
Perjalanan panjang untuk menggali berbagai hal, akhirnya membawa Christian mulai merambah ke sesuatu yang lebih besar lagi.
"Setelah bertahun-tahun berkiprah di dunia digital yang serba cepat, saya mendapati diri saya mencari sesuatu yang lebih bermakna. Dan sesuatu yang lebih tenang. Itulah yang kemudian berkembang menjadi Sanctua Bedugul. Sebuah refleksi dari semua yang telah saya pelajari tentang kreativitas, teknologi, bercerita, keramahan, alam, dan perjalanan tanpa akhir untuk tetap penasaran," ujarnya.
Meski begitu, Christian tak mau berpuas hati untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
"Perjalanan masih jauh dari selesai. Masih belajar. Masih menjelajah. Masih penasaran," tutupnya.