Momen Pertemuan Fanny Fadillah dengan Rieke Diah Pitaloka yang Membawa Rezeki
Di saat hidup terasa runtuh dan semua harus dimulai dari nol, bantuan kecil saja bisa terasa sangat berarti.
Tapi bagi Fanny Fadillah, yang datang justru bukan bantuan biasa-melainkan uluran tangan besar yang mengubah beban hidupnya secara nyata.
Fanny mengungkap, ia sempat berada di titik terendah setelah menghadapi masalah ekonomi pasca perceraian.
Kondisinya begitu sulit hingga ia harus menjual barang-barang miliknya untuk bertahan hidup.
Di tengah tekanan itu, satu hal yang paling membuatnya khawatir adalah masa depan pendidikan anak-anaknya.
Pertemuan tak terduga dengan Rieke Diah Pitaloka pun menjadi titik balik. Saat itu, keduanya dipertemukan dalam satu produksi, dan percakapan sederhana berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
"Ya Alhamdulillah, kebetulan ketemu di satu produksi film. Dia tanya-tanya, 'Gimana anak-anak?' Yang kecil kebetulan mau masuk SMA, yang besar mau masuk kuliah," kata Fanny di Pagi-pagi Ambyar, Selasa (14/4).
Fanny tidak menutupi kondisi yang sedang ia hadapi. Ia jujur mengakui betapa beratnya biaya pendidikan di tengah kondisi keuangan yang sedang terpuruk. Respons Rieke pun di luar dugaan.
"Ya berat lah apalagi dengan kondisi sekarang ini. Anak apalagi mau masuk sekolah juga. Dia tanya, 'Kenapa sih emang?' Terus dia bilang, 'Udah, lu fotoin sana nomor rekening sekolahnya, biar gue yang urus'," tutur Fanny.
Tak butuh waktu lama, keajaiban itu benar-benar terjadi. Tanpa banyak bicara, Rieke langsung melunasi biaya pendidikan anak Fanny.
"Besokannya saya dapet laporan uang pangkal si anak udah selesai dibayarkan sama Rieke. Gitu juga waktu sama yang besar," ungkapnya.
Di tengah kesulitan, kabar itu menjadi angin segar yang tak tergantikan. Fanny juga berbagi kebanggaannya terhadap anak sulungnya yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri bergengsi, Universitas Indonesia, melalui jalur prestasi.
"Kalau anak kuliah kan, puji Tuhan yang besar ini pintar, dia masuk kuliah di perguruan tinggi negeri, di Universitas Indonesia. Dia masuk jalur prestasi. Jadi ya kita agak sebagai orang tua bangga dan itu kan mengurangi beban," jelasnya.
Namun, seperti banyak orang tua lainnya, perjuangan tidak berhenti di situ. Biaya kuliah tetap menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi setiap semester.
"Tapi tetap harus ada uang semester, UKT namanya sekarang," sambungnya.
Tak disangka, pertemuan berikutnya dengan Rieke kembali membawa kabar baik. Tanpa ragu, Rieke sekali lagi menawarkan bantuan.
"Ternyata ketemu lagi yang kedua sama Rieke juga di salah satu broadcast TV. Nanya, 'Eh lu bayar ini berapa anak UKT-nya?' 'Sekian.' 'Ya udah nanti kapan musti bayar kasih tau gue.' Pas ditanya anak itu tanggal sekian, saya kasih tahu. Dia bilang, 'Tuh, udah lunas,' untuk yang semester sekarang," cerita Fanny.
Bagi Fanny, bantuan itu bukan sekadar soal uang. Lebih dari itu, ada rasa peduli yang begitu besar di baliknya.
"Ya terima kasih, ya pertolongan dia sangat, sangat besar," pungkasnya.
Kisah ini bukan hanya tentang kesulitan, tapi juga tentang empati. Di tengah kerasnya hidup, masih ada tangan yang terulur-tanpa banyak bicara, tapi dampaknya terasa luar biasa.
(ikh/ikh)