Heboh Dugaan Pelecehan Berkedok Casting, Timo Tjahjanto: Ini Bukan Sutradara, Ini Pedofil!
Media sosial sebelumnya dihebohkan dengan pengakuan seorang perempuan di bawah umur berinisial A yang mengaku mengalami pelecehan seksual saat mengikuti proses casting film.
Korban menyebut dirinya dipaksa mengenakan pakaian terbuka dan diminta memperagakan adegan dewasa sebagai bagian dari seleksi.
Pengakuan tersebut memicu kemarahan publik dan memunculkan pertanyaan besar tentang standar prosedur casting di industri film.
Seorang netizen dengan akun @rainmer*** kemudian melontarkan pertanyaan kepada sutradara terkait proses seleksi peran dalam film yang memiliki adegan dewasa.
"Bang maaf gue mau tanya, kalau semisal di suatu film memang ada adegan hot-nya, apa pas casting memang disuruh foto-foto seksi atau peragain adegan hot ya buat seleksi?" tulis netizen tersebut di X pada Senin (23/2).
Menanggapi hal itu, sutradara film Nobody 2 tersebut menegaskan bahwa praktik demikian tidak pernah menjadi bagian dari prosedur profesional.
"Kagak ada gituan. Dari pertama dibilang ada adegan dewasa. Tapi kalau lo filmmaker professional loe akan: enggak casting pakai adegan dewasa itu," tulis Timo.
Ia juga menekankan bahwa dalam proses profesional, tidak ada komunikasi pribadi antara sutradara dan talent seperti yang dialami korban.
"Pas nanti masuk ranah reading/ blocking/ prep kagak ada yang namanya japri sama sutradara always di environment transparan dan kondusif," ujarnya.
Lebih lanjut, sutradara film The Night Comes for Us tersebut menjelaskan bahwa adegan intim dalam produksi profesional ditangani oleh Intimacy Coordinator.
Peran ini bertugas mengatur koreografi adegan agar tetap sesuai kebutuhan cerita tanpa mengorbankan kenyamanan pemain.
"Always adakan kehadiran Intimacy Coordinator, yang proper memang perempuan dan kenapa perempuan, ya lo tahu lah," imbuhnya.
Timo juga menegaskan bahwa tidak ada proses casting adegan dewasa untuk anak di bawah umur.
"Eggak casting anak belasan taun," ucapnya.
Dalam unggahan lain, ia memaparkan bahwa industri film profesional memiliki berbagai teknik sinematik untuk menyiasati adegan sensitif tanpa harus mengekspos aktor secara berlebihan.
"Filmmaking itu juga trickeries, filmmaker bijak tahu cara memakai trick tanpa harus expose blak-blakan, senyaman mungkin dan seteknis mungkin. Dari pemilihan lensa, angle dan exposure," jelasnya.
Pada pernyataan yang paling keras, sutradara berusia 45 tahun itu menyebut bahwa terduga pelaku dalam kasus tersebut bukanlah sosok yang layak disebut sutradara.
"Ini bukan sutradara, ini pedofil k****l. Penjarakan!" tegas Timo.
Kasus ini kembali membuka diskusi tentang pentingnya transparansi, standar etika, serta perlindungan anak dalam industri kreatif.
Publik kini menuntut agar proses hukum berjalan tegas demi mencegah terulangnya kasus serupa di kemudian hari.
(ikh/and)